Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru

Asarpin*
Lampung Post, 6 April 2008

ADA dua cerpen S.W. Teofani yang pernah terbit di Lampung Post yang menggoda imaji saya saat membacanya: Gapura Pulau Panggung (12-2-2006) dan Gapura Doa (16-3-2008). S.W. Teofani belum begitu dikenal sebagai penulis cerpen, bahkan namanya sangat samar, tapi dua cerpennya ini hemat saya layak dipertimbangkan. Teofani mampu menghadirkan kersik kata-kata tanpa beban dalam berbahasa. Alunan rimanya terasa hening seperti peri kesepian-sejenis vibrasi yang hanya memberi perhentian sejenak untuk kemudian berjalan mengalir pelan dan bening menuju mata air sumber kecemerlangan. Continue reading “Bingkai: Cerpen dari Metafora Pemikat Baru”

Kidung Rebung

S.W. Teofani
Lampung Post, 2 Januari 2011

MENGAPA tak sekarang saja kita tebang rumpun rebung itu, Ibu? Apa lagi yang kita tunggu. Bukankah semak laknat itu menyisakan mimpi buruk pada malammu, juga siangku. Kita telah kehilangan nakhoda biduk pada ganasnya gelombang hidup. Laki-laki yang sangat mencintai bambu, mungkin melebihi cintanya padamu, juga padaku. Tapi kau tak pernah cemburu pada bambu-bambu itu. Bahkan saat akhirnya dengan sadis pohon kesumat itu menjadi sebab kematian laki-lakimu, ayahku. Continue reading “Kidung Rebung”

“Kita Kadang Kehilangan Semangat Kebersamaan”

(Wawancara Pawon dengan Izzatul Jannah)
http://pawonsastra.blogspot.com/

Denger-dengarlagi repot ngurus tesis S2 Pikologi UGM? Ada banyak rintangan?

Hmm iya, tahu saja, nih, saya sedang tesis. Kalau bicara rintangan, rintangan itu membuat kita semakin kuat dan bijaksana bukan? Hehe. Yah, rintangannya lebih banyak pada diri sendiri, saya pakai metode fenomenologi, pada fenomeneologi, ada metode bracketing, itu hal paling sulit bagi saya, karena pengalaman peneliti tidak boleh tercampur dengan fenomena yang sedang diteliti, sedangkan saya orang yang selalu terlibat dengan apapun yang saya lakukan… Continue reading ““Kita Kadang Kehilangan Semangat Kebersamaan””

SOLO DAN RUMAH SASTRA

Heri Maja Kelana*
http://pawonsastra.blogspot.com/

Akhirnya sampai juga di Solo, setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan dari Bandung (pake kereta ekonomi lagi). 12 jam di kereta, rasanya seperti dalam oven. Terus terang saya baru pertama kali ke Solo. Awalnya saya mengenal Solo hanya sebatas pada lagu Gesang “Bengawan Solo”. Solo cukup ramah, namun udaranya sangat panas. Mungkin karena saya terbiasa di udara dingin. Continue reading “SOLO DAN RUMAH SASTRA”

Turun Malam

Asaroeddin Malik Zulqornain
http://www.lampungpost.com/

DI jelang pagi manis bangkit dari baringnya nun dari balik perbukitan hijau yang menelikung kota: Bukit Wan Abdurrahman; sepasang merpati tua, Tamong Mandok dan Minan Itun turun dari rumah panggungnya di Pekon Lempasing yang berpantai pada ceruk teluk laut penuh plankton yang bila malam tiba seakan bintang gemintang turun dari langit malam, menaburi kawasan Teluk Lampung bagai kunang-kunang, itulah geliat para pencalang laut sejati yang tengah asyik memperdaya ikan-ikan dengan menebar jala, mata kail, lampu petromaks, dan doa-doa. Continue reading “Turun Malam”

Bahasa »