OLIMPIADE SASTRA: MEMBANGUN PARADIGMA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Olimpiade mulanya dimaksudkan sebagai penghormatan pada Zeus, Dewa Yunani kuno. Perayaan yang diselenggarakan di kota Olympia, Yunani itu sebagai cikal bakal pesta olahraga sejagat yang hingga kini diyakini sebagai perhelatan olahraga paling bergengsi dan reputasional. Pierre de Coubertin yang konon bertindak sebagai orang pertama yang membawa perhelatan itu menjadi olimpiade modern yang diselenggarakan pertama kali di Athena, Yunani tahun 1896. Selepas itu, setiap empat tahun sekali pesta olahraga termegah ini diselenggarakan yang melibatkan lebih dari separoh negara yang berada di jagat raya ini.

Awalnya tentu saja pesta olahraga itu semata-mata dimaksudkan sebagai ajang ujuk kekuatan fisik. Sesiapa pun yang mempunyai fisik yang tangguh dengan kekuatan yang prima, dialah yang kelak bakal jadi jawara. Di dalam perkembangannya, kekuatan fisik semata-mata kerap kali juga kalah oleh taktik dan siasat yang jitu. Maka, kepiawaian meracik siasat sering kali ikut menentukan kemenangan. Tampak di sini, kekuatan fisik dan kecerdasan otak menjadi modal penting untuk meraih kemenangan. Itulah tujuan para atlet datang ke pesta olahraga itu. Mengingat para atlet itu tidak semata-mata membawa nama dan martabat dirinya sendiri, tetapi juga bangsa dan negaranya, maka kemenangan dianggap sebagai cara paling efektif untuk mengangkat nama dan reputasi. Jumlah peserta pun terus bertambah, dan pesta olahraga itu makin menunjukkan citranya yang megah dan reputasional. Dan bagi atlet, kemenangan adalah pintu gerbang memasuki limpahan puja-puji. Akibatnya, tidak jarang tujuan memperoleh kemenangan mencederai sportivitas. Itulah olimpiade dalam pengertian yang sebenarnya. Pesta olahraga empat tahunan yang diikuti lebih dari 100 negara.

***

Belakangan, di negeri ini ramai diperbincangkan olimpiade sains. Olimpiade ini tak unjuk kekuatan fisik dan taktik jitu. Ia merupakan ajang kompetisi segala ihwal yang berkaitan dengan sains. Bagi kalangan yang terlibat dalam olimpiade itu, kompetisi itu juga menjadi ajang yang bergengsi dan reputasional. Pesertanya para pelajar. Semangatnya tentu saja selain sportivitas (: kejujuran), juga adu kreativitas dalam menemukan dan mengembangkan sesuatu yang berkaitan dengan sains.

***

Tajuk acara ini, “Olimpiade Sastra: Mungkinkah?” Sebuah tajuk dengan pertanyaan retoris yang mengesankan nada pesimistis. Bagi kaum yang mengusung optimisme, segalanya di dunia ini tidak ada yang tak mungkin. Persoalannya tinggal, sejauh mana usaha kita mewujudkannya. Jadi, kegiatan apa pun, sejauh kita mengawalinya dengan nawaitu yang mantap dan teguh, dan diperjuangkan dengan segala kesungguhan, maka jadi, maka jadilah bukanlah sesuatu yang mustahil.

Keinginan untuk mewujudkan penyelenggaraan Olimpiade Sastra memang persoalannya bukanlah terletak pada mungkin atau tidak mungkin, melainkan sejauh mana dampaknya, pengaruhnya bagi dunia pendidikan, kebudayaan, martabat, bahkan juga bagi peradaban bangsa ini. Jika lebih banyak mudaratnya, maka tak perlulah kegiatan itu diwujudkan. Sebaliknya, jika kemungkinan lebih banyak manfaatnya, maka patutlah diuji-coba. Boleh jadi ada keraguan dan anggapan sumbang, bahwa penyelenggaraan olimpiade sastra sekadar ikut-ikutan, cari proyek, ketimbang nganggur, atau cari sensasi. Apalagi olimpiade yang ditawarkan ini cuma berkaitan dengan perkara sastra, sebuah disiplin yang telah sekian lama termarjinalkan, dipandang tiada guna, terasing dari masyarakat luas, dan tidak menghasilkan materi yang berlimpah.

Sebelum kita membincangkan lebih jauh tentang Olimpiade Sastra, marilah kita coba mengungkap fungsi sastra bagi kehidupan manusia.

Secara metaforis, dikatakan bahwa fungsi sastra adalah “memanusiaakan manusia”. Apa maknanya pernyataan ini? Mengingat karya sastra ditulis oleh manusia, ditujukan untuk manusia, mengungkapkan perikehidupan manusia atau setidak-tidaknya, kehidupan menurut persepsi manusia, maka yang coba ditawarkan karya sastra adalah segala bentuk problem kemanusiaan. Membaca karya sastra apa pun, pada hakikatnya merupakan tawaran dialogis tentang problem manusia ketika berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan alam, bahkan juga berhadapan dengan Tuhan. Segala problem itu dipahami, dimaknai, dan diterjemahkan menurut pandangan individu sastrawan. Maka, problem kemanusiaan yang ditangkap dan coba diterjemahkan sastrawan dalam karyanya itu, meski bersifat sangat individual, kerap juga berlaku universal. Bukankah pemihakan dan pembelaan manusia pada kebenaran, kejujuran, kepedulian sosial dan tawaran menjalin harmoni bagi kehidupan manusia di dunia ini, atau permusuhan manusia pada kejahatan, pengkhianatan, kemunafikan, dan segala yang berkaitan dengan kebrengsekan itu berlaku universal, tanpa terikat oleh sekat agama, budaya, etnik, atau warna kulit. Itulah sastra. Ia mengungkapkan persoalan yang sangat individual, tetapi boleh berlaku universal.

Begitulah, membaca karya sastra pada hakikatnya sedang menaburkan benih kemanusiaan. Di sana, dalam proses pembacaan itu, nilai-nilai sedang ditanamkan. Jika itu terus-menerus dilakukan, maka nilai-nilai itu akan menjadi perilaku, ideologi, sikap, bahkan juga pandangan hidup. Nilai-nilai itu akan tumbuh subur menjadi bagian dari kemengaliran darah, denyut nadi, desah dan helaan nafas, bahkan juga cara berpikir. Itulah sastra yang berfungsi menanamkan kepekaan sosial, menumbuhsebarkan jiwa manusia yang hakiki: pembelaan atas kemanusiaan.

Meskipun demikian, manfaat sastra yang demikian luhur itu, tidaklah dapat terbentuk dalam seketika. Jadi, maka jadilah adalah sebuah proses panjang yang tidak serta-merta. Ia tumbuh sangat perlahan, sepercik demi sepercik, dan mengkristal dalam kurun waktu yang lama. Hasilnya mungkin baru dapat dirasakan dalam satu atau dua dasawarsa. Ia tumbuh mekar dengan kesadaran sendiri, tidak dalam bentuk karbitan atau penanaman ideologi melalui cuci otak. Boleh jadi lantaran dampaknya tidak segera tampak secara fisik, maka masyarakat menganggapnya tidak ada hasilnya yang kongkret. Itulah yang menyebabkan masyarakat cenderung memilih memburu yang instan, yang sekali jadi dalam seketika daripada investasi rohani untuk masa depan.

Lalu apa manfaat olimpiade sastra jika hasilnya baru kelihatan dalam kurun waktu satu atau dua dasawarsa? Justru di situlah signifikansinya. Bukankah cara berpikir masyarakat kita sekarang ini yang kosumtif, menilai segalanya secara fisikal dan kasatmata, main terabas melalui jalan pintas, mencari yang serba instan, yang penting hasil dan bukan proses, tidak terbiasa dengan perbedaan, dan merasa paling benar sendiri adalah nilai-nilai yang penanamannya dimulai ketika pemerintah Orde Baru menekankan pembangunan bangsa ini dengan merayakan pemberhalaan ekonomi. Dan ketika krisis moneter melanda negeri ini, segalanya tumpas, habis nyaris tak bersisa. Yang tetap bertahan justru ruh puisi yang dicetuskan para pemuda kita, 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda: bertanah air yang satu, tanah air Indonesia/berbangsa yang satu, bangsa Indonesia/dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Itulah daya hidup bangsa ini yang tak pecah oleh krisis moneter! Itulah fungsi puisi: kesadaran kebangsaan yang dirumuskan dalam puisi yang terdiri dari tiga larik yang lalu kita kenal Sumpah Pemuda.

Jangan lupa: dari mana pula Sumpah Pemuda dapat dirumuskan dalam puisi tiga larik yang justru berhasil membetot kesadaran keindonesiaan? Boleh jadi, banyak orang tidak ngeh, tak menyadari, bahwa sesungguhnya ketiga butir Sumpah Pemuda itu cikal-bakalnya lahir dari inspirasi puisi? Periksalah puisi “Tanah Air” Mohammad Yamin. Ia mula menempatkan tanah airnya sebagai tanah tumpah darahku (Minangkabau). Lalu melebar sebagai Andalas, dan kemudian disadari, bahwa Indonesia bukan cuma Sumatera, melainkan juga Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Maka, yang dimaksud Tanah Air adalah Ibu Pertiwi, sebuah wilayah yang penduduknya dipersatukan oleh kesamaan nasib. Itulah Tanah Air Indonesia. Dari puisi yang bertanggal Desember 1922 itu, kita dapat melihat adanya perkembangan gagasan Yamin mengenai Tanah Air. Ia tidak sekadar menggambarkan kecintaannya pada tanah air (Sumatera), tetapi juga mulai menyinggung soal tanggung jawab pada Tanah Air, bahasa, dan keberadaan bangsa asing.1

Dalam puisi “Bahasa, Bangsa” yang bertarikh Februari 1921, hubungan bangsa dan bahasa, lebih tegas lagi dinyatakan Muhammad Yamin. Meskipun bangsa yang dimaksud –pada awalnya—masih berkaitan dengan tanah kelahirannya, Sumatera, demikian pula dengan bahasa yang ia maksudkan bahasa Melayu, Yamin makin menyadari pentingnya mempunyai bahasa sendiri sebagai identitas sebuah bangsa.2 Terlahir dibangsa/berbahasa sendiri … Lupa ke bahasa, tiadakan pernah/Ingat pemuda, Sumatera malang/Tiada bahasa, bangsapun hilang//3

***

Jika gagasan Mohammad Yamin yang mula-mula diwujudkan dalam puisi itu menggelinding terus dan kemudian mengkristal menjadi rumusan Sumpah Pemuda yang menumbuhkan kesadaran kebangsaan, maka Belanda dengan caranya sendiri coba membangun citra lain tentang bangsa Indonesia yang terbelakang, tak berbudaya, dan memerlukan mesias, Sang Juru Selamat, yaitu Belanda. Maka, hasilnya adalah: tumbuh mengakar dalam diri sebagian besar masyarakat kita –sampai sekarang—sikap-sikap inferior, cepat puas diri, memberhalakan barat, rendah diri, tunduk tanpa reserve, taklid buta, tak berdaya ketika ombak menghempas dinding gelas. Bukankah nilai-nilai itu sampai kini tetap mendekam dalam diri sebagian masyarakat kita? Dari mana datangnya nilai-nilai itu? Awalnya ditanamkan secara sistematis, justru oleh pihak kolonial Belanda. Tidakkah kita sadari, bahwa segala sifat inlander sentris itu adalah prestasi terbesar yang ditancapkan dengan sangat kuat oleh pihak kolonial Belanda selama puluhan dekade dan kini jejaknya sungguh sulit kita lenyapkan dalam cara berpikir dan bertindak masyarakat kita?

Itulah yang dimaksud dengan penanaman nilai-nilai. Ia mengkristal secara sangat perlahan, tetapi dampaknya akan terus kokoh mengakar dalam jaringan darah, denyut nadi, dan isi tempurung kepala yang kemudian mengejawantah sebagai cara berucap, bertindak, dan berpikir. Karya sastra justru paling efektif menanamkan nilai-nilai sebagaimana yang telah ditancapkan Mohammad Yamin. Mengingat yang ditawarkan karya sastra adalah nilai-nilai kemanusiaan, maka nilai-nilai itu pula yang akan membentuk jiwa dan karakter pembacanya. Dengan demikian, penyelenggaraan Olimpiade Sastra, meski secara fisik dikemas sebagai ajang kompetisi kemampuan membaca, memahami, mengapresiasi, dan keterampilan-keterampilan tertentu dalam bidang yang berkaitan dengan sastra, di belakang itu sesungguhnya sedang terjadi penanaman nilai-nilai kemanusiaan. Hasilnya, seketika dapat diketahui pemenang dan mereka yang belum menang, dan ke depan, di masa datang dalam lima atau sepuluh tahun, baru akan tampak kontribusi dan signifikansinya dalam diri para peserta itu tentang pemihakan dan pembelaannya pada nilai-nilai kemanusiaan.

Adakah manfaat jangka pendek jika Olimpiade Sastra ini diselenggarakan dapat waktu dekat ini? Tentu saja banyak. Berikut beberapa manfaat yang dapat dipetik atas penyelenggaraan ajang olimpiade ini.

Pertama, para peserta olimpiade sastra, niscaya harus mempersiapkan diri atas segala sesuatu yang berkaitan dengan bidang sastra. Dengan demikian, para peserta itu juga harus mempunyai kemampuan memahami dan mengapresiasi teks sastra. Maka, tak terhindarkan, tuntutannya adalah membaca dan mengungkapkan hasil bacaannya dalam bentuk lisan atau tulisan. Jika itu dilakukan, para peserta sesungguhnya sedang melakukan pembiasaan membaca, memahami, mengapresiasi dan mengungkapkannya kembali melalui bahasa yang dikuasainya. Itulah proses penataan cara menangkap makna, menafsirkan makna itu, dan melatih keterampilan bicara—menulis kembali makna itu.

Kedua, untuk menghindari bentuk yang artifisial, maka yang dituntut pada para peserta olimpiade sastra bukanlah pada penghapalan dan pengetahuan kesastraan, melainkan keterampilan membaca, memahami, mengapresiasi, dan mengungkapkannya kembali dalam bentuk lisan dan tulisan. Cara ini sesungguhnya merupakan langkah efektif mengembangkan kreativitas. Mereka dituntut memahami teks, menangkap manka konteksnya, dan merumuskan kembali dengan argumennya sendiri. Maka, dari sana, mereka sesungguhnya juga sedang membiasakan diri berpikir kritis, tak gampang menjadi pembebek, tak mudah goyah oleh hasutan dan provokasi. Mereka menerima apa pun dengan kritis, dengan memenfaatkan olah pikir dan bukan sekadar mengikuti perasaan.

Ketiga, para pembimbing dan pelatih atau guru peserta olimpiade sastra niscaya juga harus mempunyai kemampuan yang minimal sejajar dengan yang dilatihnya. Maka, suka tidak suka, ia juga harus mempunyai keterampilan sebagaimana yang dimiliki dan diharapkan murid-muridnya itu. Jadi, ada efek domino di sini. Guru-murid, pelatih dan yang dilatih, keduanya harus mempunyai kemampuan membaca, memahami, dan mengapresasi. Efek berikutnya adalah terjadinya dialog, diskusi, bahkan perdebatan murid—guru; pelatih dan yang dilatih. Itulah proses demokratisasi yang sadar atau tidak, telah dipraktikkan oleh guru—murid dalam proses keikutsertaan mereka dalam olimpiade sastra.

Keempat, jika para peserta olimpiade itu terus-menerus mempersiapkan dirinya, maka sesungguhnya ia sedang mematangkan dirinya sebagai pembaca yang baik, dan penulis sekaligus. Jika kemampuan keterampilan menulisnya itu dikembangkan untuk karya sastra yang lain atau teks bidang lain, maka ia sedang membangun dirinya sebagai penulis—pengarang. Dalam konteks ini, yang dimaksud penulis bukanlah sekadar sastrawan. Profesi utamanya boleh apa saja, tetapi apa saja yang menulis. Dalam bahasa Taufiq Ismail: Jika kelak ia jadi dokter, hakim, tentara, polisi atau profesi apa pun, profesi apa pun yang menulis! Jangan lupa: menciptakan jenderal dapat dilakukan dalam setahun atau dua tahun, tetapi menciptakan pengarang besar, perlu waktu yang lama; satu atau dua dasawarsa atau bahkan lebih lama dari itu.

Kelima, bagaimanapun juga para peserta olimpiade sastra diandaikan adalah orang-orang pilihan. Guru atau pembimbing yang tidak menguasai bidang itu, tentu juga tidak akan nekad menjadi pembimbingnya. Maka para peserta olimpiade sastra berikut para pembimbingnya itu sesungguhnya telah menempatkan dirinya sebagai contoh, teladan, anutan, bagi teman dan secara keseluruhan, masyarakat, betapa keterampilan dan penguasaan di bidang sastra –bahkan bidang lain pun—dapat menjadi profesi yang suatu saat dapat mengantarkannya prestasi yang reputasional.

Tentu saja kita dapat menderetkan manfaat lain yang segera akan kelihatan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Lalu, adakah manfaat lain untuk jangka panjang? Berikut disampaikan beberapa manfaat jangka panjang atas penyelenggaraan kegiatan olimpiade sastra ini.

Pertama, sebagaimana yang melekat pada fungsi sastra: “sastra memanusiakan manusia” maka kegemaran membaca karya sastra akan berdampak pada terjadinya penanaman nilai-nilai kemanusiaan. Para pembaca karya sastra—yang baik—berkecenderungan lebih menghargai nilai-nilai spiritualitas daripada segala sesuatu yang fisikal. Penghargaan kepada manusia bukan didasarkan pada capaian yang bersifat fisik, melainkan pada penghargaan kepada manusia sebagai manusia.

Kedua, kesenangan membaca karya sastra sesungguhnya merupakan salah satu jembatan yang mengantarkan seseorang gemar membaca. Kegemaran membaca karya sastra berarti juga pembiasaan membaca. Jika pembiasaan membaca ini tumbuh karena kegemaran, maka tak perlu lagi ihwal minat baca dipersoalkan. Tuntutan membaca akan tumbuh secara wajar dan alamiah. Jika itu yang terjadi, maka kegemaran membaca karya sastra akan merembet menjadi kegemaran membaca buku apa pun, sesuai dengan minat dan kepentingannya.

Ketiga, mengingat karya sastra pada hakikatnya menawarkan medan tafsir, maka pemaknaan yang dilakukan setiap pembaca sering kali didasarkan pada tafsirnya sendiri-sendiri sesuai pengalaman pribadinya masing-masing. Ini berarti membuka peluang terjadi berbagai penafsiran. Perbedaan penafsiran ini juga akan menghasilkan perbedaan pemaknaan. Di sinilah penafsiran setiap pembaca terterima atau tidak, bergantung pada bagaimana ia memberi argumen atas penafsirannya itu. Sejauh argumen itu logis dan masuk akal, sejauh itu pula penafsirannya dapat dianggap valid. Dengan demikian, keberbagaian penafsiran itu sesungguhnya, selain dapat dimanfaatkan sebagai ajang perbalahan yang sehat dan konstruktrif, juga berguna dalam usaha menghargai perbedaan pendapat. Dalam hal ini, perayaan pada perbedaan dan saling menghargai perbedaan itu dapat pula dimaknai sebagai ajang demokratisasi. Jadi, apresiasi sastra sesungguhnya dapat menjadi muara demokrasi.

Keempat, mengingat karya sastra pada hakikatnya merupakan ruh kebudayaan, maka seseorang yang sedang mempelajari sastra sesungguhnya juga sedang mempelajari kebudayaan. Mengingat sastra Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh sosial—budaya yang melingkari diri pengarangnya, maka mempelajari sastra Indonesia dapat pula dimanfaatkan sebagai pintu masuk mempelajari kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam itu. Dalam hal ini, kebudayaan yang melahirkan dan membesarkan pengarang itu tidak lain adalah kebudayaan etnik. Oleh karena itu, sastra Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan keberbagaian kebudayaan etnik kita.

Kelima, penyelenggaraan olimpiade sastra memang “seolah-olah” berkutat pada persoalan di seputar dunia sastra. Tetapi, patut diingat, kesusastraan itu juga berkaitan dengan persoalan kemasyarakatan, kebudayaan, filsafat, dan cabang-cabang ilmu lain. Maka, penyelenggaraan olimpiade sastra, sebagaimana telah disinggung, akan menghasilkan efek domina yang berkelindan menggelindingkan seseorang menjadi Manusia yang gemar membaca, yang pandai menulis, yang menghargai perbedaan, yang kritis dalam menerima pandangan dari luar, yang menolak menjadi pembebek dan seterusnya. Singkatnya, membangun manusia yang berpribadi!

***

Boleh jadi, uraian tadi dapat dinafikan cukup dengan satu kata: “Ah, teori!” Tetapi cermatilah biografi para pemikir, filsuf, budayawan, tokoh-tokoh terkemuka di dunia, mereka adalah para pembaca karya sastra. Bahkan, Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah yang disusun Michael H. Hart,4 menegaskan bahwa sekitar 70-an tokoh itu adalah para pembaca karya sastra, atau seniman atau sastrawan seperti Willliam Shakespeare dan Voltaire. Jadi, langsung atau tidak, pengalaman membaca mereka telah menggiringnya menjadi tokoh yang berpengaruh dalam sejarah umat manusia.

Di Indonesia, seniman-seniman besar atau para maestro bidang seni, budaya, dan kemasyarakatan, siapa pun dia, adalah pembaca karya sastra yang baik atau setidak-tidaknya, mereka termasuk kategori ulat buku; kutu buku, penggemar membaca. Rasanya sulit menemukan tokoh pemikir mana pun di dunia yang tidak membaca. Jadi, pintu gerbang kemajuan, tidak lain adalah membaca! Sebagaimana dikatakan dalam sebuah stiker kecil yang ditempel di bus kuning kampus UI: “kemalasan membaca adalah awal keterbelakangan!” Orang-orang yang tidak membaca adalah orang-orang yang terbelakang. Bukankah negara ini pun dibangun dan dirumuskan oleh tokoh-tokoh yang membaca!

***

Jika kita meyakini bahwa olimpiade sastra dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang membangun manusia yang membaca, lalu bagaimana pula teknis pelaksanaannya? Bukankah karya sastra lebih banyak bermain dalam tataran imajinasi dibandingkan dengan kenyataan faktual?

Perlu diketahui bahwa dunia sastra terdiri atas tiga ragam, yaitu prosa, puisi, dan drama. Selain ketiga ragam itu, dalam sistem sastra dikenal juga sistem kritik sebagai bentuk apresiasi pembaca. Jadi, dalam ketiga ragam itulah peserta olimpiade sastra diuji kepiawaiannya (1) membuat prosa –mungkin cerpen, puisi, dan mementaskan drama, (2) menganalisis atau mengapresiasi prosa, puisi, dan drama, termasuk di dalamnya, musikalisasi puisi. Mengingat bidang sastra juga meliputi sastra tradisi, maka boleh juga diujikan kepiawaian para peserta dalam mengolah kembali cerita rakyat. Dalam kaitannya dengan sastra tradisi, boleh juga dilakukan semacam lomba berbalas pantun.

Perkara yang berkaitan dengan keterampilan, dapat dilakukan dengan semacam lomba (1) menganalisis karya sastra, (2) debat dan (3) mepresentasikan topik tertentu. Pertanyaannya: bagaimana dan dengan cara bagaimana unjuk kepiawaian itu dapat dinilai secara objektif, apa saja kriteria penilaiannya, dan bagaimana teknis pelaksanaannya?

Tentu saja kriteria penilaian dapat dirumuskan, sebagaimana yang dilakukan dalam lomba penulisan novel atau cerpen, puisi (termasuk di dalamnya, pembacaan puisi dan musikalisasi puisi), pementasan drama, penulisan esai atau mengulas karya sastra. Dalam hal ini, lomba apa pun, selalu punya dasar kriteria penilaian. Kriteria penilaian itulah yang memungkinkan menghasilkan penilaian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

***

Begitulah, olimpiade sastra sangat patut dipertimbangkan penyelenggaraannya mengingat di belakang itu, ada efek domino yang niscaya bakal menciptakan paradigma baru, yaitu membangun masyarakat yang gemar membaca dan piawai menulis! Jadi, sastra sebagai pintu masuk belaka, sebab tujuan yang jauh lebih penting adalah menciptakan masyarakat membaca dan manulis!

Semoga!

1 Belakangan, Muhammad Yamin menegaskan tentang kedudukan bahasa (Indonesia) sebagai berikut: “Pertama-tama tentang bahasa Indonesia berhubung dengan keperluan masyarakat dan kebudayaan yang lahir. Hendaklah bahasa itu mendapat kedudukannya yang sempurna, dan janganlah dijadikan kayu cangkokan, dipupuk dalam gedong arca atau pura-pura dihidupkan di ujung lidah seorang dua orang pegawai negeri. Dalam dunia pengajaran dan pendidikan hendaklah bahasa itu mendapat tempat yang selayaknya sejak dari sekolah Frobel/taman anak-anak sampai ke puncak perguruan tinggi; bukan oleh karena bahasa kita berkata begitu, melainkan karena masyarakat Indonesia yang waras sudah memestikannya begitu.”

2 Keyakinan Muhammad Yamin tentang masa depan bahasa (Indonesia) sebagai bahasa yang dapat mempersatukan kesukubangsaan Indonesia, bahkan juga sebagai alat persatuan kebangsaan Indonesia disampaikan sebagai Pidato dalam Kongres Pemuda Indonesia Pertama, tahun 1926. Sutan Takdir Alisjahbana dalam tulisannya yang berjudul “Bahasa Indonesia” mengutip pendapat Muhammad Yamin (Poedjangga Baru, No. 5, Th. I, Novembver 1933, hlm. 158–159) sebagai berikut: “Bagi saya sendiri, saya mempunyai keyakinan bahwa bahasa Melayu lambat laun akan tertunjuk menjadi bahasa pergaulan umum ataupun bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia, dan bahwa kebudayaan Indonesia di masa yang akan datang akan terjelma dalam bahasa itu.”

3 Gagasan Muhammad Yamin tentang bahasa dan bangsa dalam perkembangannya makin jelas berkaitan dengan semangat kebangsaan—nasionalisme (Indonesia) dalam tarik-menarik dengan bahasa dan bangsa asing (Yamin tidak eksplisit menyebut Belanda: msm). Dalam majalah Poedjangga Baroe (Nomor 8, Th I, Februari 1934, hlm. 268) dimuat sebuah tulisan yang mengulas pandangan Muhammad Yamin mengenai bahasa Indonesia. Dikatakan di sana, “… mula-mula dahulu bahasa Indonesia mendapat kekalahan. Bahasa Indonesia terusir dari dunia pendidikan dan pengajaran, dari rumah tangga dan dari masyarakat seumumnya. Sesudah kekalahan timbul keinsyafan, di antaranya, yaitu keinsyafan kebangsaan yang memagari beberapa pusaka masyarakat dan memberi tenaga baru. Oleh itu tertolaklah bahasa asing dan bahasa Indonesia yang mula-mula kalah itu mendapat kemenangan, seperti terbukti pada pers bahasa Indonesia, pendidikan dan pengajaran Indonesia, pujangga baru, bahasa rapat, bahasa pergaulan dan sebagainya. Pokok pangkal dari pada kemenangan bahasa Indonesia itu ialah semangat baru yang timbul di tengah-tengah masyarakat Indonesia…”

4 Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj. Mahbub Djunaidi (Jakarta: Pustaka Jaya, 1982).