Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa

Asarpin

Dia menulis dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali inilah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa prosa Nukila Amal. Terus terang, saya iri dengan kemampuan bahasa Indonesia yang dimilikinya. Bahkan, saya tak bisa menyembunyikan keterpesonaan setiap kali memukan sajak-sajaknya. Selalu ada semacam godaan untuk mengikutinya, jadi epigonnya, atau mengambilalih, atau memiuhnya. Mungkin benar kata sebagian orang: tulisan yang bagus akan selalu menggoda orang untuk jadi pencuri. Continue reading “Sitok Srengenge: Puisi sebagai Pertaruhan Berbahasa”

Mengingat Nautilus, Menengok Lovinesha

Abdul Aziz Rasjid
Bulletin Sastra Pawon edisi 29 III/2010

Lewat tengah hari, 21 Maret 1868, Kapten Nemo menggelar bendera hitam bertuliskan huruf emas N yang terputus–putus di atas kain tipis. Dia, lalu berpaling ke arah matahari yang mengirimkan sinar terakhirnya menjilati laut. Di Kutub Selatan, Kapten yang penuh teka-teki itu berdiri di puncak medan yang setengah porfiris setengah basalt, memandang hamparan ice-field yang menyilaukan, terkesima oleh Nautilus kapal selamnya yang terlihat seakan cetace sedang tidur. Continue reading “Mengingat Nautilus, Menengok Lovinesha”

REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR, MASA DEPAN SASTRA KITA

S Yoga
Jawa Pos, 31 Okt 2010

Dalam perkembangan sastra kita, dinamika sejarah sastra dunia, sangat berpengaruh. Tengok Pujangga Baru, yang merupakan gema dari angkatan 80 di negeri Belanda. Angkatan Gelanggang atau angkatan 45, yang digemai oleh sastra dunia yang memiliki konsepsi modernisme. Demikian juga dengan dekade 70an, lewat eksistensialisme dan absurditas. Termasuk juga polemik sastra, karya sastra yang bersifat postmodernisme, yang merupakan gema yang sudah berkecamuk pada tahun 70an di Eropa. Tak ketinggalan polemik sastra kontekstual, yang merupakan gema dari gerakan sastra multikultur yang mengejala di sastra dunia hingga kini. Continue reading “REALISME DAN SASTRA MULTIKULTUR, MASA DEPAN SASTRA KITA”

KISAH PARA PEREMPUAN PERKASA

(Di balik Buku Puisi Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang, F Aziz Manna)

S. Jai *

SAMPAI detik ini, makluk paling misterius masih tetap perempuan.

Sepanjang perjalanan sejarah, sejak takdir padanya baik yang datang dari luar diri maupun yang direbut olehnya menunjukkan hal itu. Sejarah yang kemudian dimitoskan (atau sebaliknya) seperti halnya Oidipus Complex, Sangkuriang, Malin Kundang, Theodora, juga kisah-kisah perempuan di mata agama mempertontonkan diri sebagai makluk yang amat misterius. Kita tentu masih ingat kontroversi seputar kehidupan pelacur di sekitar Yesus. Continue reading “KISAH PARA PEREMPUAN PERKASA”

PERANG-PERANG BERKENDALA

Suryanto Sastroatmodjo

1.
Pada galibnya, lewat ujung senjata, mestinya Prabu Duryudana dan Bima Sena dapat memperlihatkan pertarungan dahsyat yang mengecutkan hati. Bharatayudha memperlihatkan, awal dan ujung pergulatan ini sebenarnya amat seimbang, karena sama-sama memiliki semangat kerbau jantan, dan sama-sama pula memendam dendam. Walau, di babak yang menentukan, Duryudana remuk kepalanya oleh gada rujakpala, sebagaimana saudaranya, Dursasana, yang lebih dahulu maju ke medan laga. Continue reading “PERANG-PERANG BERKENDALA”

Bahasa »