Sastra Indonesia di Persimpangan Jalan

S Yoga *
Jawa Pos, 5 Des 2010

Sebagian pengamat sastra menyatakan bahwa sastra Indonesia saat ini berada dalam status quo, jalan ditempat. Bahkan ada yang mengganggap mengalami kemunduran jika dibanding dengan sepuluh tahun yang lalu. Padahal, secara kuantitatif, banyak karya sastra yang diterbitkan, banyak pula sastra asing yang sudah diterjemahkan, banyak even sastra, lomba dan diskusi. Begitu pula sudah sangat terbuka penerbitan buku maupun media masa yang mengakomodasi karya sastra. Lalu bagaimana kondisi yang sebenarnya? Continue reading “Sastra Indonesia di Persimpangan Jalan”

NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing

Sabrank Suparno

Menelusuri kiprah para muda NU sepeninggal tokoh muktabar Abdurrahman Wahid, diam-diam generasi penerusnya aktif melakukan upaya terobosan yang mengarah ke pembangkitan kesadaran kembali, terutama pada wilayah tradisi keNUan atau yang dikenal dengan ‘tradisi santri’. Geliat ini dapat kita amati dari berbagai acara yang berkenaan dengan keNUan dari berbagai sektor kehidupan sosial, politik, kebudayaan, kesenian dan sastra, bahkan soal yang remeh sekali pun perihal ‘guyonan nyentrik ala NUis. Continue reading “NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing”

Pada Akhirnya, Sastrawan adalah Politikus

Udo Z. Karzi
Cybersastra.net, 8 Feb 2002

TAK lama setelah saya menulis esai berjudul sama dengan esai ini di harian lokal, Binhad Nurrohmat menyebut judul sebagai “kalimat mahal”. Terpaksa saya pakai lagi judul ini untuk mengatakan Binhad pun telah berpolitik dengan esainya. Dan sesungguhnya, esai ini lahir melihat pertentangan di antara para sastrawan di berbagai media massa dalam banyak hal. Sebut saja, soal kontroversi Khatulistiwa Award, sastra koran vs sastra serius, Angkatan 2000 dalam sastra Indonesi, dan sastra internet. Setidaknya, ada perdebatan yang cukup keras di antara para “politikus sastra”, baik di media lokal maupun media nasional. Continue reading “Pada Akhirnya, Sastrawan adalah Politikus”

Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung

Kiky Rizkhi Aprillia
Lampung Post, 8 Jan 2011

SEBUAH cita-cita besar disuguhkan Iwan Nurdaya-Djafar di halaman ini dalam esai berjudul Menggagas Kamus Besar Bahasa Lampung (Lampung Post, 31 Desember 2010). Secara komprehensif Iwan membedah satu per satu kamus bahasa Lampung yang (pernah) ada.

Saya hanya ingin menyebut ulang dan sedikit menambahkan beberapa kamus Lampung yang sudah terbit. Berdasarkan penelusuran pustaka, kamus bahasa Lampung yang pertama disusun M. Noeh, Haris Fadilah gl P. Balik Jamon. 1979. Kamus Umum Bahasa Lampung-Indonesia. (Bandar Lampung: Universitas Lampung). Lalu berturut-turut Continue reading “Kamus dan Transliterasi Bahasa Lampung”

Standardisasi Bahasa Lampung, Beberapa Jawaban atas Tanggapan

Imelda*
Lampung Post, 1 Juli 2009

ADA banyak alasan mengapa bahasa Lampung layak distandarisasikan. Alasan-alasan tersebut tentunya beragam, tergantung pada siapa yang mengungkapkan. Kini saya menyatakan bahwa alasan yang paling penting pembuatan standar bahasa Lampung ialah aktualisasi identitas ke-Lampung-an. Alasan minor lainnya ialah karena bahasa Lampung digembar-gemborkan akan punah. Tentu kita semua tidak senang apabila aset budaya ini tergerus zaman. Continue reading “Standardisasi Bahasa Lampung, Beberapa Jawaban atas Tanggapan”

Bahasa »