balipost.com
PETA BARU PELAYARAN
Laut dan teluk
yang kelewat tenang
seperti beku di mataku
Pulau-pulau jadi sehening batu
Kapal-kapal berlayar kaku
Menara dan mercu
jadi semati tugu Continue reading “Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua”
balipost.com
PETA BARU PELAYARAN
Laut dan teluk
yang kelewat tenang
seperti beku di mataku
Pulau-pulau jadi sehening batu
Kapal-kapal berlayar kaku
Menara dan mercu
jadi semati tugu Continue reading “Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua”
Nyoman Wirata
Di pasar pagi;
Biarpun kalut jika terbalut
Apa salahnya tawar-menawar
Pasar pagi menuju malam
Tak ada yang berhenti
Mengeja angka dan waktu Continue reading “Sepanjang Jalan Bukan Kenangan”
korantempo.com
Rumah
kelak bila aku rindu rumah
kelak bila aku rindu rumah mungkin hanya bisa kucium segenggam tanah dari benih pohon pacar yang dikirim ayah
apalah artinya ari-ariku yang ditanam di pekarangan bahkan air mata ibu yang meresap di lantai tanah apalagi urat darahku tak berhak memintal ikatan batin Continue reading “Sajak-Sajak Nur Wahida Idris”
Yurnaldi
http://nasional.kompas.com/
Orang banyak nyatalah tentu, Bilangan lebih daripada seribu, Mati sekalian orangnya itu, Ditimpa lumpur, api, dan abu.
Pulau Sebuku dikata orang, Ada seribu lebih dan kurang, Orangnya habis nyatalah terang, Tiadalah hidup barang seorang.
Rupanya mayat tidak dikatakan, Hamba melihat rasanya pingsan, Apalah lagi yang punya badan, Harapkan rahmat Allah balaskan. Continue reading “Letusan Krakatau di Mata Pribumi”
Udo Z Karzi, Iyar Jarkasih
GUNUNG Krakatau (Krakatoa, Carcata), 127 tahun lalu, tepatnya 26, 27, dan 28 Agustus 1883 meletus. Banyak catatan dan karya tulis yang kemudian lahir dari peristiwa yang menewaskan tidak kurang dari 36.000 orang ini. Namun, laporan orang asing tentang letusan Krakatau ini lebih menekankan pada aspek geologisnya. Continue reading “Mencari Jejak Penulis ‘Syair Lampung Karam’*”