Sepanjang Jalan Bukan Kenangan

http://www.balipost.com/
Nyoman Wirata

Di pasar pagi;

Biarpun kalut jika terbalut
Apa salahnya tawar-menawar
Pasar pagi menuju malam
Tak ada yang berhenti
Mengeja angka dan waktu

Biarpun kalut membaca lupa
Dengan rasa ragu kubayar
Dengan senyum dikulum

Masih ada rasa bunga
dupa dalam umpatan
Walau kata seliat getah nangka
Rasa basah masih terasa
Di dataran yang paling kering
Terasa duka tak abadi di wajah-wajah

Waktu subuh di terminal;

Pagi meniup terompetnya dan
Waktu pun migrasi
Bertualang langkah pekerja
Dimulai dari kuap kantuk
Dengan lenganlinggis bertato serta
Rasa tawar yang bengal
Namun mereka bukan begal

Bunyi klakson suara tambore
Penjaja luka pulang pagi
Gincu di sandal plastik warna ungu

Cleopatra berwajah edan
Dengan urat kawat
Lenyap di gang dekat terminal
Penjaja pun kehilangan wajah pembeli
Sesudah jubah malam tergantung di pagi hari

Mari bergoyang bersama sawi dan kubis
Racik dengan rasa pedas merica
Di atas kuali besar
Merayakan hari dimulai dari subuh

Yang diperlukan adalah kehangatan dan
Apakah pagi dapat mengubah birahi
Matahari menjadi sebutir telor
Percikan api di tungku baja
Barahati di arangkayu legam

Menjadi kunang-kunang pun terasa sulit
Sebab bukanlah hal mudah mengurai gelap
Jika nafsu mirip ikan senantiasa
Menggelepar di gelombang dada
Berbuih kesepian

Di pasar malam raya purnama;

Selalu ada yang tersisa
Cahaya, waktu, abu, labu, dupa dan
Purnama di keranjang bunga dalam truk
Matahari di lengan, kain lusuh
Mata senyap bersayap
Merangkul tubuh samsara

Karena belum menjulang kota
Masih terlihat langit
Dan tanah mengirimkan bau tubuh