Cinta, Kasta, Rasa

Dua Produksi Teater Berbahasa Bali Himasaba 2011
I Wayan Artika
http://www.balipost.co.id/

MATA kuliah drama pada jurusan-jurusan pendidikan bahasa di Fakultas Bahasa dan Seni, sangat penting karena memiliki dimensi ganda: belajar teori drama dan pertunjukan secara langsung dan menggunakan keterampilan bermain peran untuk keperluan mengajar bagi mahasiswa calon guru. Karena itulah, di Jurusan Pendidikan D3 Bahasa Bali Undiksha Singaraja, mata kuliah drama mendapat porsi waktu yang sangat memadai. Pada akhir semester, mahasiswa wajib mempegelarkan satu produksi drama berbahasa Bali. Continue reading “Cinta, Kasta, Rasa”

Ilusi Demokrasi pada Masa Transisi

Y. Wibowo
Lampung Post, 9 Juni 2004

JIKA dirasa-rasa, menurut pemikiran orang (awam?) selama enam tahun (transisi demokrasi) perjalanan reformasi justru yang terjadi banyak menimbulkan kekacauan, kerusuhan di berbagai daerah, disintegrasi, rendahnya moralitas pemimpin dan masyarakat, konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Sepertinya masih enak zaman dulu (Orba), masyarakat “merasa” memiliki pelindung yang menciptakan rasa aman dan hidup tenang. Sebab, jangan-jangan demokrasi-lah sumber semua kekacauan ini? Continue reading “Ilusi Demokrasi pada Masa Transisi”

Sastra dan Sejarah

Rifqi Muhammad
http://pawonsastra.blogspot.com/

Dalam dunia kesusastraan Indonesia, agaknya tidak sedikit novel-novel yang bercerita mengenai sejarah. Wajar memang, sebab selain memiliki keleluasaan, genre sastra inilah yang memungkinkan untuk ditulis dengan menggunakan repertoar (repertoire) peristiwa historis. Di samping itu, novel juga ditunjang oleh kemampuannya untuk mengekspresikan secara rinci dan gamblang semua unsur sastra yang mencakup tema, fakta, dan sarana. Secara sederhana, bisa kita pahami bahwa genre sastra yang satu ini berkisah tantang cerita lampau. Hal yang tidak berbeda degan ilmu sejarah. Meski terkesan kaku karena terbalut kaidah metodologis, pada dasarnya ilmu sejarah adalah cerita. Continue reading “Sastra dan Sejarah”

Dilahirkan Kembali lewat Puisi Cinta

Ragil Supriyatno Samid
http://pawonsastra.blogspot.com/

Hampir bisa dipastikan bahwa bentuk puisi yang pertama kali digubah oleh semua penyair di awal karier kepenulisan mereka adalah puisi lirik. Puisi sebagai penampung segala luapan perasaan si penyair yang ditulis dengan bahasa yang lugas, yang menceritakan peristiwa-peristiwa kecil dan intim yang dialaminya serta, banyak mempergunakan gambaran-gambaran alam sebagai simbolisasi makna dalam tulisan; secara sederhana, begitulah ciri dari puisi lirik. Tema dalam puisi lirik dipenuhi oleh hal-hal universal seperti cinta, keriduan, perpisahan, kesendirian, kesunyian dan keterasingan. Continue reading “Dilahirkan Kembali lewat Puisi Cinta”

Rumah Danau

Widhi Hayu Setiarso
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku jengkel dengan ayah. Ayah jahat. Ayah tak mau mengantar aku ke danau Banyu Bening. Padahal kan, aku pingin sekali ke sana. Apalagi kemarin Minggu, Reyna, Dita, dan Reno teman-temanku TK habis ke sana. Cuma aku yang belum pernah ke sana. Aku kan malu. Uh, waktu kami main bareng saat istirahat sekolah, aku hanya bisa melongo mendengar cerita mereka tentang air yang bening, perahu-perahu yang mengambang, gunung-gunung di kejauhan, burung-burung yang terbang merendah, juga rumah-rumah ikan yang ada di tengah. Ah, ayah tega sekali! Continue reading “Rumah Danau”

Bahasa ยป