Puisi-Puisi Liestyo Ambarwati Khohar

MALAM YANG MENJAWAB

Apa yang Tuhan jodohkan
sedari malam yang pekat
selain isak tangis kerinduan

Dedaunan berbisik gemulai
kini lunglai malu oleh waktu
yang tiba-tiba berhenti beku

Sebelum subuh menjemput malam
sebelum reranting kembali menari
dan sebelum masa-masa berlari

Aku kan menjawab
Disini, di bawah pohon ini
aku telah menanam ari-ari.

SETENGAH CINTA

Separuh dari rasa
yang pernah berkecamuk
menguap bersama tawa
juga kau sunting resah

Namun tapakan
angka-angka di kalender
bergulir semakin mesra

Sekalipun kau tak menemaniku
menghabiskan semangkuk senja

Tapi kau selalu mengirimkan
seikat puisi dari ujung kota
yang di ujung-ujungnya
ditulis setengah gelisa.

SENJA YANG PICISAN

Menyibak ilalang
memeluk senjakala

Menggenggam jemari
berangkulan cakrawala, berarak
bersembunyi hendak menutupi hari

Sedang punggung jemariku basah
kau cium dengan lembut bibirmu

Dua anak domba mengikik
tanda luapan cemburu.

PARANOID

Ah…
Mengenangmu adalah siksa bagiku

Belum juga seluruh aku mengingatmu
tetapi sukma ini menggedor-gedorku

Mencuat menyalakkan pisau kepadaku
serupa jin yang selalu bergentayangan
mengikuti kemana arah kakiku menuju

Aku lelah
aku lungkrah
tak ada daya

KOPI

Selalu saja
bergelantungan di sudut kamar
menawarkan wajah keglamoran

Namun aku ingin setia
pada secawan kopi di atas tungku
daripada harus mereguk kopi palsu
di dalam coffe shop bersiluet ungu