Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua

http://www.balipost.co.id/
KALAU DUKA BERTAMPUK

kalau duka bertampuk
aku akan menjiningnya
-Beni Setia

dukaku tak bertampuk
bagai buah labu jatuh
busuk. dan kalau pun bertampuk
kuasakah engkau menjinjingnya, sahabat?

sebab di sini, duka pun tak berputik
besar tiba-tba
menindih sekalian kita dan kata-kata.

akan kita bawa ke mana duka
karena di setiap tempat dan sudut
ada onggokkan duka yang sama.

mari sahabat,
kita ketatkan saja pelukan
dan duka kita biarkan
saling bicara.

HUTAN KERA
-ajamuddin tifani

dalam hutan, paru-paruku bernafas penuh
kepada Tuhan
hutan dalam, menyimpan nafas penciptaan
di sini ruh sepasang kera
ditiupkan, sebelum akhirnya mengembara
dari dahan ke dahan: kesepian manusia,
o, kesepianku juga.

CENDAWAN HUTAN
— di kanvas sebuah lukisan

di sini, di hutan sunyi
pohon besar yang roboh
lapuk terlantar
masih mungkin mendengar
ranting, embun, daun
patah, pecah, dan gugur
lewat telinga dingin
cendawan hutan
tumbuh sepenuh badan

jadi hati-hati kau lewat
karena aku sedang bersemadi
di dalam salah satu telinga
pohon silsilah
aku menyerap setiap suara
dan menolak banyak cahaya
demi takdir kelahiran
seorang dewa.

SEMANGKA BELAH

Semangka belah
semangka bertangkup
Beri aku seiris
daging merah
kata-kata
beserta biji-biji redup
bola mata, agar kertas dan tinta
yang kupunya
pekat tergelar di atas retak
meja dunia

Begini aku menebus
darah dan tubuh ibuku
yang membeku
di celah batu

LANSKAP LAUT

1\
layar perahu
sirip terbalik hiu-hiu
tubuh hiu
lengkung terbalik perahu-perahu

mercu-suar api
air mancur paus-paus birahi
daratan dan pulau jauh
busur punggung paus kelabu

kapal uap
bukit-bukit tengkurap
mendekap masa yang lewat
kapal-kapal api
gunung berapi di masa kini

2\
sungguh menakjubkan
pemandangan laut tenang:
perahu-perahu mematahkan sirip hiu
hiu-hiu membalikkan badan perahu

lalu, birahi liar paus liar
padamkan kobar api mercu suar
hingga sepasang sejoli terdampar
di busur daratan

nelayan tua
pemburu paus dan hiu
mengira biru bukit masa lalu
untuk akhirnya bangkit menundukkan

asap pesta mereka
isyaratkan kapal uap kembali tiba
jadi kapal api
penuh kopi dan rempah-rempah

di dadaku
air mancur paus kelabu
menjadi api air kaldera!

KOPI HITAM ARANG

kopi hitam arang
nyalakan mata kami
di warung-warung redup
pinggir jalan

seperti biji-biji kopi
saat dirajang dan dipanggang ibu
di atas tungku ladang yang jauh.

mata kami nyalang sekarang
di cekungnya kami temukan cawan
berbagi sesama kawan
lewat saling pandang.

hisap, habiskan,
hingga dasar
tinggal dedak!

dan endapan hitam arang
kami jadikan bahan coretan
di jalan-jalan. di tanganku
menjelma jadi tinta
menulis rindu dan kesakitan!