Risky Zainaludin
http://www.surabayapost.co.id/

Bagaimana bila ada taman baca dipadu dengan cafe kecil berisi makanan ringan? Tentunya akan mengasyikkan. Berisi buku-buku seni budaya hingga ekonomi dan ilmu politik berhias warna-warni tembok yang cerah pasti mampu menyulap mood Anda menjadi lebih tenang.

C2O Library, Chinematheque and Cafe akan menahan Anda keluar ruangan. Dalam konsep C2O sebagai ruang publik yang menyediakan berbagai referensi buku, baik fiksi maupun non-fiksi. C2O memiliki koleksi lebih dari 4.000 buku dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Mulai dari sastra, sejarah, sosial budaya, seni dan desain hingga komik dan novel. C2O juga menyediakan koleksi 900 film penting/langka dalam sejarah sinema yang diputar sesuai jadwal.

Ada beberapa koleksi buku yang sudah tidak lagi diterbitkan di Indonesia. Seperti terbitan Gunung Agung berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, karya Cindy Adams. Menurut pemilik Taman Baca C2O, Kathleen Azali atau biasa dipanggil Kath Li, buku tersebut susah dicari. “Sebenarnya sih gak langka banget, cuma beberapa buku saja di sini yang susah dicari di luar,” katanya.

Dari koleksi 4.000 buku itu tertata rapi pada rak buku 60 persenn buku versi dalam Bahasa Inggris. Sekian banyak buku tersebut terdiri dari buku fiksi dan non fiksi berupa sastra, sejarah, antropologi, design grafis, biografi, ensiklopedi, dan komik. Buku-buku tersebut merupakan buku koleksinya sejak kecil. “Tidak menutup kemungkinan buku politik, sosial dan budaya juga ada di sini. Selain terdapat komik dalam berbahasa Indonesia, di tempat ini ada juga terdapat komik teks asli Bahasa Jepang, Prancis dan Inggris” jelas perempuan berkacamata ini.

Rata-rata buku di C2O merupakan buku bekas, namun kualitas isi tak beda dengan buku-buku terbitan baru. Buku yang berada di C2O sebagian besar koleksi buku pribadinya yang ia kumpulkan sejak kecil. Selain buku koleksi pribadinya, yang memadati rak buku tersebut juga berasal dari beberapa bantuan sumbangan buku dari teman-temannya.

Ia mengakui, untuk mendapatkan buku ia sering mencari disalah satu tempat penjualan buku bekas di Surabaya. “Intinya untuk menghemat biaya, buat apa beli mahal-mahal kalau isinya tidak berkualits,” terang wanita usia 29 tahun ini.

Taman baca yang dikelola sejak pertengahan 2008 ini selain sebagai tempat membaca, juga cocok untuk tempat nongkrong, nonton film, dan membuat kelompok diskusi. Untuk menambah gairah membaca, C2O juga menyediakan beberapa makan dan minuman ringan sebagai pengiring membaca buku.

Bisa dibilang lokasi ini sangat mendukung sekali sebagai tempat baca, karena letaknya jauh dari keramaian dan kebisingan suara kendaraan, sehingga pembaca bisa dapat lebih berkonsentrasi lagi dalam membaca buku.

Taman baca ini dikelola Kat Li berawal dari hobinya membaca, semakin banyak buku bacaannya sehingga semakin banyak pula koleksi bukunya. Sekarang koleksi buku bacaannya masih tersimpan rapi dalam rak buku C2O sebagai bahan bacaan orang banyak. “Sebagian besar buku disini koleksi saya pribadi,” tegasnya.

Kat Li mengharap bagi pemilik buku bekas untuk dapat disumbangkan kepada C2O. Namun, materi sumbangan buku akan disesuaikan dengan fokus dan koleksi pada C2O, terutama yang bertema sejarah, sastra dan budaya, karena tempat baca ini lebih fokus terhadap ketiga materi itu. “Untuk buku yang tidak masuk seleksi akan kami sumbangkan ke perpustakaan atau taman baca lain,” ujar Kat Li

Selain membaca buku ditempat tersebut juga bisa dapat diperguakan untuk nonton film. Seru bukan. Namun film yang diputar bukan film tentang cinta atau layaknya seperti bioskop 21. Setiap Sabtu sore C2O memutar film dokumenter. C2O memiliki 900 koleksi film langka dalam sejarah, bahkan salah satu pusat kebudayaan asing di Surabaya sering meminjam film dari C2O.

Perpustakaan kecil ini buka setiap hari, kecuali Selasa. Pada hari kerja C2O buka mulai pukul 10.00-19.00. Sementara untuk Sabtu dan Minggu, buka mulai pukul 11.00 hingga 21.00.

Bagi penghobi baca yang tertarik dengan koleksi-koleksi buku C2O, dapat langsung menjadi member dengan hanya membayar uang sebesar Rp 50 ribu untuk 1 tahun keanggotaan. Biaya tersebut tidak termasuk sewa tiap bukunya. Harga sewa tiap buku adalah 10% dari harga beli buku itu. Member C2O diperbolehkan menyewa buku dalam jangka waktu 2 minggu.

Pakai Kode

Pengunjung C2O tidak perlu bingung mencari buku favoritnya dalam rak buka. Karena, setiap buku diberikan kode masing-masing. Selain itu, kode buku itu juga sebagai informasi harga buku yang harus disewa. Setiap buku terdapat bandrol. Setiap bandrolnya terdapat macam-macam warna, bandrol merah, oranye kuning, dan putih.

“Bandrol merah, tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang. Hanya boleh dibaca di sini atau difoto kopi. Karena buku-bukunya mahal dan susah didapat di Surabaya, itu buku impor. Kalau yang bandrol oranye, kuning dan putih bisa dipinjam bawa pulang, tapi dengan harga sewa yang beda,” jelasnya sambil menunjukkan contoh buku impor yang tak boleh dipinjam bawa pulang.

Ia menceritakan, pernah mengalami kehilangan buku. “Pernah ada member yang gak mau mengembalikan buku, sampai di telpon, di sms, di email tapi juga gak ada jawaban. Akhirnya ya hilang, terpaksa dech kami lagi yang harus mengganti buku itu,” ceritanya.

Selama membuka taman baca C2O, wanita berambut lurus ini mengaku dapat belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Diakuinya, ini ia tidak suka bertemu dengan orang lain. “Awalnya saya tidak suka bertemu sama orang, lebih. Lebih baik saya menyendiri sambil baca buku. Namun sekarang berbeda, karena saya setiap hari mengurusi perpustakaan, maka setiap hari saya juga harus bertemu dengan orang lain. Sekalian saya belajar bersosialisasi” ungkapnya.*

Categories: Berita