Dari Facebook Lahirlah Antologi

Nazar Shah Alam
http://blog.harian-aceh.com/

Darimana harus kumulai cerita duka ini?
Ketika anak-anak dan cucuku bertanya tentang kampungnya
Saat hendak terbuai mimpi
darimana, Tuan?
Dari perangkah?
Dari gempakah?
Dari air rayakah?
Atau
Dari kebiadaban tuan-tuan berdasi
yang menggulung habis uang-uang ziarah itu?
Katakan padaku, Tuan.

Potongan puisi Ziarah Lumpur yang ditulis oleh Akmal M Roem dalam antologi puisi ini adalah gambaran apa yang hendak diceritakan oleh para penyair dalam antologi puisi Tsunami Kopi. Beginilah, apa-apa yang dikisahkan para penyair dalam antologi puisi ini adalah banyak hal tentang Aceh. Bukan hanya tentang tsunami, tapi juga semua lakon yang terjadi sehari-hari.

Pascatsunami, arus modernisasi seakan tak terbendung, meraup tiap jengkal kampung-kampung Aceh, hinggap di pikiran-pikiran hampir semua batang usia. Ketergantungan para muda dan tua pada tekhnologi yang datang seperti tsunami membawa pengaruh besar bagi para penggunanya, baik negatif maupun positif. Jaringan sosial Facebook, misalnya. Sejak diluncurkan media ini menjadi satu sarana yang tak bisa dipisahkan dari segenap penggunanya. Selain sebagai media persahabatan dan pertukaran informasi, Facebook oleh beberapa orang juga digunakan sebagai jembatan produksi untuk menghasilkan berbagai kreatifitas, puisi salah satunya.

Antologi yang memuat 63 puisi dari 21 penyair ini adalah wujud dari tsunami pikir para penulisnya dalam melihat kampung mereka. Tentang laut, tentang cinta, tentang sunyi, tentang diri, tentang sisa tsunami, tentang keluarga, dan berbagai tentang lainnya yang begitu akrab dengan Aceh.

Membaca Tsunami Kopi sama halnya dengan menatap Aceh dengan hal-hal kecil yang dekat dengan para pendiamnya. Para penyair begitu jujur meracik kata tentang apa yang mereka lihat, rasakan, dan lakukan sehari-hari. Tsunami Kopi adalah wujud dari kreatifitas tanpa batas dari para pemuda Aceh saat ini. Para penyair dalam buku ini menulis puisi dari sesuatu yang terkadang luput dari pemikiran, bahwa sesuatu, sekecil apapun itu jika diperhatikan dan dituliskan dengan diksi yang rancak akan jadilah ia puisi.

Kekuatan buku ini ada pada bagaimana para penyair melihat aspek kehidupan dan pelbagai persoalan kecil yang ada di sekeliling mereka. Aceh adalah objek kuat dari sebagian besar ilham yang mereka maktubkan menjadi puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini. Membaca Tsunami Kopi sama halnya dengan melihat Aceh dalam bentuk yang sangat dekat. Seakan Aceh dan ragam lakon di atasnya terpating tepat di tangan pembaca.

Para penulisnya melukiskan segenap keadaan dengan apik dan akrab. Diksi yang digunakan juga tidak terlalu “tinggi” sehingga tidak terlalu sulit memahami isi yang ingin disampaikan. Pencitraan-pencitraan yang karib dengan kebiasaan dan lingkungan hidup adalah salah satu yang dapat membantu membangun daya hayal di pikiran pembaca juga membuat pembaca seakan masuk ke dalam cerita dan melihat langsung kejadian yang dituliskan oleh penyair di dalam tiap puisi.

Tsunami Kopi, terlepas dari keringanan bahasa yang digunakan oleh sebagian besar penyair di dalam puisi-puisinya juga ada sebagian kecil puisi yang menggunakan bahasa figuratif yang sangat baik, luas, dan apik dari segi pemaknaan. Sebut saja pada puisi Decky R. Risakota yang bertajuk Nusantara

Bu, aku dicekik bangsa sendiri
…kkkhhh….

Beberapa puisi lainnya juga memiliki makna yang sangat luas, sehingga perlu membaca dan berkontemplasi secara penuh ketika membacanya. Ada banyak hal baru yang tersirat dan tersurat dalam antologi kecil ini. Tentang semua tentang. Maka, mengutip pengantar editor, Aceh pascatsunami, adalah puisi. Mari menulis atau membacanya, paling tidak.[]

Judul : Tsunami Kopi
Penulis : Abdul Razak M H Pulo dkk
Penerbit : Diwana
Tebal : 83 halaman
Terbit : Desember 2010
Peresensi: Nazar Shah Alam
Sumber: http://blog.harian-aceh.com/dari-facebook-lahirlah-antologi.jsp