Asarpin

Dia seorang aktivis. Demikian kita menonton film Gie seraya mengenang tahun-tahun terakhir kejatuhan Bung Karno. Ada seorang anak muda, mahasiswa UI, menunjukkan bakat yang kuat sebagai aktivis sekaligus penulis. Konon, dari penanya yang paling pribadi, ia merangkai kisah para demonstran berhari-hari, yang kemudian diterbitkan jadi buku catatan harian Sho Hok Gie.

Tidak seperti Ahmad Wahib, Gie tampak lebih intelektual dan lebih aktivis. Setidaknya itulah kesan yang saya baca dalam buku Gie yang cantik itu. Kesanku: Gie adalah aktivis yang kesepian. Pribadi yang sunyi dan berbakat menjadi penyair lirik. Penanya memang berbisa, tapi ia kadang murung, kadang menyala-nyala.

Tapi sayang ia mati muda, dan hanya meninggalkan sejumlah catatan dalam gaya prosa (esai) perlawanan terhadap Orde Lama. Beberapa esai catatan itu tampak menghadirkan irama prosa lirik dengan selingan sejumlah sajak yang jauh dari kesan hiruk-pikuk suara protes di jalanan. Ada satu kalimat dalam Catatan harian Seorang Demonstran yang begitu mempesona. Cukup lama kata-kata itu mengendap di memori dan sulit saya lupakan.

Gie melukiskan dengan jernih sebuah perjalanan yang sunyi. Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke kota suci dan berjudi di negeri yang jauh, tapi seperti ternyata dunianya bukan di situ. Ia justru memilih berada dalam dekapan sang kekasih, dan nyaris total menjauh dari kecenderungan seorang demonstran.

Katanya: ”Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah. Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza. Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku. Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu. Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi”.

Kata-kata itu mengingatkan saya pada sebuah larik dalam sajak Doa Amir Hamzah: ”Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku? Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah terik”. Atau satu puisi Chairil Anwar, Fragmen: ”Mari cintaku/Demi Allah, kita jejakkan kaki di bumi pedat,/bercerita tentang raja-raja yang mati dibunuh rakyat”.

Lariknya memang beda, susunan katanya juga tidak bertemu. Namun nadanya dekat sekali. Ada rasa perih yang tak terlukiskan yang coba diangkat kedua penyair ini. Keduanya bicara tentang kekasih yang begitu khidmat. Namun Amir membuyarkan lamunan kita tatkala berucap: ” Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!”

Gie kembali meyakinkan dunia soliternya. Kendati Jakarta sedang diguncang oleh huru-hara, ”tapi aku ingin mati di sisimu, manisku”, katanya. Mengapa Gie begitu ingin dekat ke pangkuan kekasihnya? Karena hidup yang dijalaninya makin lama makin membosankan. Tujuan para demonstran menentang kekuasaan Orde Lama yang tak satu orang pun tahu akhirnya. Orde Lama memang tumbang dan digantikan Orde Baru. Tapi Gie melihat gelagat yang tidak beres dalam orde ini. Orang-orang berebut kursi kekuasaan dan akhirnya mengecewakan.

Gie tampak tak kehilangan alasan melukiskan sunyi diri. Apa yang dilukiskan oleh aktivis yang soliter ini mungkin bisa disandingkan dengan pelukisan Rivai Apin dalam sajak Mak Oi. Apin kian menemukan tempatnya berpijak walau ada sesuatu yang berat mengganjal di lubuk hatinya. Namun, seperti diakuinya sendiri kepada kekasihnya: ”setidaknya, sayangku sayang, lupakan habis-habis, kerna apa yang dipucuk hati, masihkah tidak membukti?”

Gie dirundung kecemasan dan selalu resah untuk bertanya. Sajak Sebuah Tanya ternyata telah menemukan keyakinan yang bulat setelah sebelumnya dirundung keraguan. ”Akhirnya semua akan tiba, pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih berbicara selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap? Sambil membenarkan letak leher kemejaku (kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mendalawangi, kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang suram, meresapi belaian angin yang menjadi dingin)”.

Tapi di ujung sajaknya, Gie kembali mengungkai ketidakpastian dengan rayuan. ”Manisku, aku akan jalan terus, membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Categories: Esai