Gunung Putri

Asarpin

Namanya terpacak pada lempengan nisan keramat Gunung Putri. Ia adalah putri tunggal Pengeran Paksi Marga pertama Gajah Minga. Usianya baru 20 tahun ketika bahala menimpa. Sang putri dikenal ramah di kalangan kawula. Sangat rancak dan cantik parasnya. Karena itu usianya tidak lama dan namanya segera diabadikan dalam sebuah hikayat yang disampaikan dari mulut ke mulut.

Dalam sebuah majelis pumpun yang dihadiri para punggawa kerajaan Gajah Minga, sang putri duduk dengan wajah yang tampak berseri. Lalu tak seberapa lama, ia berjalan dengan anggun ke arah hadirin dengan anggun. Saat itu patih Gajah Minga mengumumkan sebuah sayembara untuk mengusir hama. Selama bertahun-tahun negeri Padang Ratu terus dilanda bencana. Sawah-sawah para kawula gagal panen. Simpanan padi di lumbung hampir habis. Tak ada tanda-tanda wabah akan segara sirna.

Patih berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan majelas pumpun. Dengan penuh nyali ia berdiri menjelaskan aturan sayembara. Sayembara diadakan dua tahap dan terbuka untuk siapa saja. Kemudian dari sepuluh pemenang akan bertanding kembali memperebutkan hadiah putri tunggal pundita Pangeran Paksi Marga. Setiap orang boleh mengeluarkan seluruh ajian sakti untuk memperebutkan sang putri.

Suasana hening dan tak seorang pun tampak bergeming. Hanya suara kaki melangkah yang diikuti hembusan suara angin. Semua mata para hadirin termangu menatap sosok jelita sedang berjalan ke arah pertemuan. Semua mata terfana bagaikan menelan tetes anggur dalam bening gelas piala. Bahkan mirip seperti serdadu lidah berahi yang muncul tiba-tiba. Satu persatu hadirin berdiri menyambut Siti Indra Puri tiba di beranda—sebuah gerakan tanpa mereka sendiri sadari. Tak lama kemudian diikuti rasa berbunga-bunga bermekaran dalam dada para calon pangeran muda. Halusinasi berjalan seketika dan diikuti bayang-bayang hidup dalam ranjang pengantin istana. Semua muncul seketika. Daya khayal berterbangan menembus kelambu merah jambu dan hampir saja membuat urat-urat syaraf menegang dan batu-batu sendi kejantanan tak lagi dapat dikendalikan.

Suara gong bertalu-talu. Tak ada yang beranjak dari tempat duduknya—bagai dipulut getah karet, lengket tak berkutik. Putri Puri dibawa ke beranda lewat halaman istana, duduk bersama junjungan Pangeran Paksi Marga yang gagah perkasa. Seseorang tiba-tiba melompat ke lebuh istana, berdiri menantang dengan kuda-kuda. Lalu berjalan puntar puntir mengawasi setiap gerak-gerik yang lewat. Dua orang melompat bersamaan. Seketika memasang jurusan. Kedua tangan mulai berkelai dan kaki kanan menyapu debu-debu di lebuh istana.

Suara canang bercampur suara teriakan, pecah berhamburan seketika di udara. Jurus-jurus kuntau bertemu dengan jurus-jurus sapu jagad. Satu per satu lelaki yang gagah berani itu terhuyung kehabisan tenaga, terpental di lebuh jalan melewati pagar bambu gaba-gaba istana. Hanya tinggal sepuluh orang yang masih berdiri memainkan simpanan jurus maut, berjalan lintang pukang dengan tangan berkelai, mata menyala, pikiran terpusat hanya pada satu persoalan: mengawasi setiap gerak-gerik yang mencoba merapat.

Babak pertama pertarungan para bujang di depan istana Gajah Minga yang dituturkan Nenek Puyang dalam Hikayat Gunung Putri berakhir sampai di sini. Sepuluh calon pangeran muda akan bertanding lain kali. Mereka adalah para bujang perkasa yang datang dari Banten, Kalianda, Krui, Bengkunat, dan Ngakhas. Lima orang lainnya berasal dari utusan kerajaan marga Way Semaka; Teba Bunuk, Padang Ratu, Padang Manis, Pekon Balak, dan Rajabasa.

Kesepuluh pendekar muda duduk bersila tanpa ragu, tanpa ba bi bu, hanya punggung beradu yang diikuti bisikan senyap dari makna sunyi mutlak. Sepi seakan enggan pergi. Sebuah kediam-dirian yang bening. Segalanya tangguh dan tuntas—persis desah pelan bisikan Ellen Dissanayake saat melukiskan rasa haus estetik yang melayang meluap di dada menyaksikan sang putri duduk di beranda istana. Bagai menatap lengkung kubah katedral yang menjulang atau ketika menangkap nada biola menggulung naik; rasa sekat di kerongkongan, gemetar dan tangis ketika mengikuti alunan harmonika; getar birasa di tangan tatkala mengelus lekuk gambus tua, meraba selidik pahatan di kayu; gebalau kerinduan merengkuh nadi kehidupan dari makna sunyi, lalu mencoba mengaitkannya dengan diri sendiri, menyatukan dan membantunkan sebuah rasa tak terlukiskan bahwa kata-kata rupanya punya sosok juga. Bahwa warna bisa diraba atau didengar, bahwa bunyi punya lekuk dan bobot.

Namun siapa sangka alunan musik kebahagian sebentar kemudian pecah berkabung bahkan satu per satu para bujang tampan itu harus menghembuskan nafas penghabisan yang disaksikan sang putri harapan. Semua kedengkian menjadi terpola. Rangsangan akibat sentuhan minuman anggur diikuti dengan desakan hati berahi pasca-mabuk. Ketika pikiran dan fantasi mulai bekerja membanding-bandingkan makna kecantikan putri istana, mata menjadi kalap, jiwa jadi bengis, dada berguncang, keserakahan dan sifat ingin menang sendiri muncul bersamaan dengan tangan terkapal ke atas—seperti kepalan tangan petinju yang siap merontokkan apa saja yang terasa mengganggu.

Merpati putih datang dengan sayap berbisa, antara lawan dan kawan, antara putih dan hitam, antara cantik dan jelek, antara putri istana dan putri jelata. Terlalu cepat kecemburuan memuncak jadi perkelahian. Lebih cepat lagi dalam memberikan pembelaan demi meraih hasrat purba yang telah digariskan sejak Adam dan Hawa di taman firdaus. Demikianlah Nenek Puyang mengisahkan hampir tanpa jeda. Sementara di lebuh istana gong terus bertalu dan canang mengerang tanda dimulai kembali genderang berperang.

Tak ada senapan, hanya bersenjata pusaka trisula bermata tiga, keris dan pedang. Kepaksian dan kesultanan Gajah Minga hidup dalam bayang-bayang dua dunia, jauh di atas jangkauan paduka mulia Pangeran Paksi Marga tua. Tak ada lagi warga dunia, rumah-rumah telah dihuni masing-masing marga dan tak ada lagi yang tak berumah. Istana Padang Ratu berubah seperti bunga Dahlia yang berkembang dua warna, yang tak lagi membentuk komposisi serasi untuk saling melengkapi, melainkan kontras berlawanan dan bersaing unjuk kebolehan warna di hadapan sang putri kumbang. Sang Penguasa Jagat pun telah di beri tempat di mana, bukan dimana-mana atau tidak di mana-mana. Baju zirah telah dipasangkan pada Batara Dewata Raya.

Sebabnya sama dengan cerita perang Troya selama sepuluh tahun. Ketika Helena melintas di gaba-gaba istana, ketika putri Siti Indra Puri baru menyandarkan punggung di kursi kebesaran putri pundita ratu, calon-calon pangeran muda Paksi Marga jatuh hati. Putri Siti Indra Puri seperti sedang memerankan sang Helena cantik jelita yang tertuduh penyebab pecahnya perang Troya dalam epos mahakarya terkemuka. Perang memperebutkan si Puri dan si Helena, perang tanding oleh itu tubuh—bagaikan perang sesungguhnya: di mana ada peran yang memainkan bahasa lidah api, di mana ada suguhan anggur dan kesempatan menuangkan alibisi.

Jika perang dalam epos Illiad berakhir dengan amorfati yang dahsyat, perkelahian dengan pemagasan dalam Hikayat Siti Indra Puri berakhir dengan ditemukannya kata-kata kunci yang terus dilisankan turun temurun dengan sebutan amorfana. Dua-duanya ternyata mengandung mitos, tetapi dipercaya adanya hingga menciutkan jarak antara fiksi peperangan dengan fakta pertempuran. Siapa sangka akan menimpa Siti Indra Puri juga. Kisah yang dituturkan Nenek Puyang mengakhiri ketragisan sang putri. Sayembara telah usai. Pemuda perkasa dari Banten memenangkan perang tanding memperebutkan sang putri kecintaan rakyat jelata.

Bahala demi bahala datang menyapa. Sang pangeran muda rupanya telah naik takhta menggantikan Pangeran Paksi Marga tua bersama sang istri Siti Indra Puri. Nenek Puyang menyebut kisah pengurbanan. Tumbal kerajaan. Dua anak manusia yang telah dinobatkan Pangeran Paksi Marga tua sebagai penggantinya, memilih jadi kurban pertama agar bencana segera sirna. Namun malang bagi keduanya, hama tak juga sirna mengepung negeri Padang Ratu. Sang Patih terlanjur mengayunkan pedang berbisa dan seketika darah muncrat ke lebuh istana. Seketika terdengar suara krok krok, seperti babi ngorok. Sang dayang istana lari mengambil talam yang tergenang darah untuk disimpan rapat di bilik istana Gajah Minga.

Babak akhir Hikayat Siti Indra Puri berakhir dengan iring-iringan para penunggang jenazah menuju keramat Gunung Putri. Berduyun-duyun setiap hari Lebaran orang ziarah ke makam keramat ini dengan kaki telanjang. Mereka tak membawa apa-apa, hanya kenangan, masa lalu yang tak pernah hilang kendati generasi demi generasi silih berganti. Tak ada lagi jarak yang nyata dan khayalan: antara mitos dan realitas telah terkubur dalam liang lahat. Setiap mitos di zaman mitos selalu dipercaya sebagai kebenaran sejarah dan karena itu setiap cerita terus hidup dari generasi ke generasi.

Semakin dekat rasa hayatan, betapa tak bergunanya memisahkan fiksi dengan kenyataan. Hikayat bahala Siti Indra Puri telah diabadikan dalam buku-buku teks sejarah masuknya Islam ke wilayah Teba Bunuk hingga Teluk Semangka. Para pewarah tragedi Siti Indra Puri akan dikenang atau hanya kenangan, kita hanya membayangkan pohon Keranji yang menusuk langit, yang mahia-mahianya menancap ke bumi. Dan semoga panjang usia kematian.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/