Kisah Negeri yang Bergolak

Nurdin Kalim
http://majalah.tempointeraktif.com/

Meutia baru lima tahun umurnya. Gadis cilik periang itu kehilangan keceriaannya. Bocah yang selalu berkicau dengan aneka pertanyaan itu berubah menjadi pendiam. Perubahan sikapnya itu terjadi sejak ayahnya, yang dituduh simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ditangkap dan dipulangkan setelah menjadi mayat.

Dan pada sebuah malam yang getir, Meutia akhirnya benar-benar berhenti bertanya. Ia diserang demam yang menggila dan dini hari menyusul ayahnya. Malam itu, Meutia benar-benar berhenti bertanya.

Dengan gaya cukup memikat, T.I. Thamrin melukiskan kegetiran sebuah keluarga Aceh di masa konflik itu dalam kumpulan cerpennya: Meutia Sudah Henti Bertanya. Dan kisah bocah malang Meutia itu merupakan satu di antara 17 cerpen dalam buku yang diluncurkan awal September lalu.

Meutia sarat simbol Aceh. Jika kita membaca nama itu, ada beberapa kemungkinan tafsir. Pertama, nama itu adalah nama orang Aceh. Kemungkinan kedua, ada orang yang terkesan dengan Aceh, lantas menabalkan nama Meutia pada anaknya. Dan kemungkinan ketiga, nama itu melayangkan imajinasi pada keheroikan Cut Meutia-satu di antara pahlawan Tanah Rencong.

Meutia Sudah Henti Bertanya lahir dari kemenakan penulis sendiri, Cut Azizah, yang meninggal karena harus menanggung beban derita berkepanjangan: ayah yang sangat dicintainya meninggal mendadak.

Secara keseluruhan, ada dua tema utama yang diangkat dalam buku itu: Aceh dan penjara. Tapi penulis tampaknya lebih mengedepankan tema Aceh sebagai tanah kelahirannya. “Saya amat prihatin dengan kesengsaraan rakyat setempat,” kata penulis kelahiran Langsa, Aceh Timur, 12 Agustus 1936, yang akrab disapa Pak Is itu menjelaskan.

Rangkaian fragmen sosial memilukan itu tergelar dalam sebuah negeri yang bergolak. Sejarah kepedihan Aceh modern dimulai dengan kekecewaan terhadap pemerintah pusat. Aceh, yang ingin menjadi provinsi tersendiri, ternyata dimasukkan bersama Sumatera Timur dan Tapanuli menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Dan kekecewaan itu kian memuncak ketika pusat menguras kekayaan Aceh, tapi tak setetes pun hasilnya mengalir ke Aceh.

Rakyat Aceh terluka. Mereka kemudian berontak. Dan pusat berupaya menumpasnya dengan membabi-buta. Gagal operasi intelijen “Siwah”, Jakarta kemudian memilih jalan pintas lewat “Operasi Jaring Merah”, dengan mendatangkan pasukan-pasukan “Marsose” versi Orde Baru. Lalu diteruskan lewat “Operasi Bakar Lumbung”, yang ingin membasmi “tikus-tikus” Gerakan Aceh Merdeka (GAM)-tapi yang hangus seluruh Aceh.

Ribuan warga Aceh tewas, hilang, cedera karena disiksa. Dan wanita-wanita Aceh, yang begitu mengutamakan kesucian, diperkosa dengan keji.

Realisme sosial itu menjadi fondasi kumpulan cerpen itu. Dalam kata pengantarnya, sosiolog Aceh Otto Syamsuddin Ishak menulis, fragmen sosial di Aceh terkonstruksi dalam buku itu. Misalnya, cerita bertajuk Cut Nyak Maneh sangat kuat memberikan pemahaman siapa orang Aceh. Lalu, Agam kental menyuguhkan siasat keluarga Aceh dalam mempertahankan keturunan yang terancam peperangan. Karena itu, sepanjang konflik muncul kantong-kantong permukiman orang Aceh di luar Aceh hingga ke Negeri Atas Angin (negara asing). Sedangkan Meutia menyajikan politik ganja serdadu dan kompleksitas kemiskinan.

Selain realisme sosial, menurut T.I. Thamrin, cerpen-cerpennya juga terilhami Hikayat Perang Sabil (Perang Sabee) karya Haji Muhammad Pantekulu alias Cik Pantekulu. Hikayat yang terbit pada 1881 itu berisi syair-syair pembangkit semangat perang melawan penjajah kaphe (kafir). Sejak kecil, anak-anak Aceh telah diperkenalkan menjadi kesatria yang siap berlaga di medan perang. “Syair-syair dalam hikayat itu, yang kerap dituturkan orang tua dan para troubadour, begitu menarik saya,” kata pria bernama asli Teuku Iskandar Ali bin Sabil itu.

T.I. Thamrin sebenarnya sudah menulis cerpen sejak 1970-an. Tapi Meutia Sudah Henti Bertanya merupakan kumpulan cerpen pertama yang secara khusus mengangkat sisi kelam kehidupan Aceh akibat konflik berkepanjangan. Ia menggali cerita-ceritanya dari kesaksian: dari teman, kerabat, dan orang-orang yang menjadi korban.

T.I. Thamrin bukan penulis pertama yang membahas konflik Aceh. Sebelum ini, ada beberapa cerpen, antara lain Dua Tengkorak Kepala karya almarhum Motinggo Busye (terbit Oktober 1999), yang bercerita mengenai topik yang sama. Namun, T.I. Thamrinlah yang menulis cerpen dari berbagai kesaksian dan setting yang sangat dikenalnya. Ia blak-blakan, juga sensitif. Simaklah betapa fotografisnya ia melukiskan suasana kelam yang menyelimuti Aceh di dalam buku itu.

10 Oktober 2005