Makna Simbolik dalam Nyepi

Arsyad Sobby Kesuma
http://www.lampungpost.com/

Jika direnungkan, ada berbagai macam akar pemicu munculnya konflik yang terjadi di negeri ini. Dan yang tak kalah pentingnya menurut hemat saya—alasan ini justru adalah pemicu awal munculnya konflik tersebut—adalah adanya rasa ketidaksiapan umat beragama untuk hidup secara berdampingan dalam masyarakat yang multikultural.

Rasa ketidaksiapan ini terkadang dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan tertentu yang sifatnya politis dengan bentuk pembangkitan fanatisme beragama yang semu.

Ada banyak cara yang bisa ditempuh oleh mereka yang memanfaatkan kondisi ini. Misalnya, pertama, menghidupkan kembali sikap klaim kebenaran agama (truth claim). Dengan menyeruaknya kembali sikap ini, masing-masing penganut agama akan mengklaim bahwa agamanya-lah yang paling benar.

Jika sikap ini masih terpatri dalam kepercayaan umat beragama, dengan mudah akan memunculkan sikap triumphalism, yakni kecenderungan menganggap umat lain sebagai objek yang butuh diselamatkan.

Kedua, jika ada rasa ketidaksiapan untuk hidup secara berdampingan dalam masyarakat yang berbeda agama, biasanya akan memunculkan sikap minder dalam beragama. Sikap ini biasanya menjangkit para penganut agama minoritas.

Para penganut agama minoritas biasanya akan terjebak pada mentalitas korban atau yang dikorbankan. Jika pemahaman ini sudah muncul, si monoritas atau si korban akan membenci dan menganggap si mayoritas sebagai sumber penindasan dan pelaku ketidakadilan.

Buah dari semu itu, para penganut agama akan menjadi fanatisme dan primordialisme sempit sebagaimana diungkapkan oleh Stephen Toulmin dalam Cosmopolis: The Hidden Agenda of Modernity berkata ketika umat beragama tak siap hidup berdampingan di tengah masyarakat yang multikultural, mereka cenderung membangun relasi yang diwarnai konflik, kekerasan, dan eksploitasi.”

Dalam situasi seperti ini, kadang kebenaran teologis diungkapkan, dipertahankan, dan ditegakkan bukan dengan bahasa santun dan persuasif, tetapi dengan senjata. Dalam konflik ini simbol-simbol agama sering digunakan dan efektif untuk membakar semangat massa.

Bagi para penganut agama Hindu yang saat ini sedang merayakan hari raya sakral yakni Nyepi ke 1933—dan juga agama-agama lainnya yang minoritas di Indonesia—selayaknya sikap seperti di atas sudah mulai dihilangkan.

Karena jika kita membaca ajaran agama Hindu yang tersimbolkan dalam Nyepi, seluruhnya berisi ajaran yang santun dan damai.

Jika kita menelusuri makna sombolik yang ada dalam Nyepi sangatlah agung. Nyepi bagi umat Hindu adalah proses menahan. Menahan dalam arti menjaga hati agar tidak diperbudak oleh hawa nafsunya, menahan agar tidak diperbudak oleh hal-hal duniawi yang materialistis.

Bahkan lebih jauh dari itu, Nyepi juga bermakna sosial. Kondisi lingkungan kita yang heterogen—baik dari sisi etnis, budaya, bahkan agama—membuat kita dituntut untuk bersikap arif. Spiritualitas Simbolis Nyepi mengajarkan umat Hindu, untuk selalu bersikap santun, ramah, toleran, cinta perdamaian, humanis terhadap mereka yang berbeda—apa pun perbedaannya.

Sikap seperti itulah yang diajarkan oleh Raja Kaniskha I pada tahun 1 Saka sebagai titik awal dimulainya perayaan Nyepi. Saat itu, Raja Kaniskha di India telah berhasil menyatukan suku yang bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.

Jika kita renungkan, perayaan Nyepi mempunyai makna filosofi yang mulia. Berbagai ritual yang ada dalam tradisi Nyepi, seperti kehidupan tanpa kegiatan atau di sebut juga dengan amati karya, kehidupan gelap gulita tanpa penerangan atau yang disebut dengan amati geni atau api, kehidupan tanpa aktivitas di luar rumah atau disebut dengan amati lelungaan, kehidupan tanpa pesta dan hiburan atau yang disebut juga dengan amati lelanguan. Semua itu bermakna simbolis bahwa penganut agama Hindu harus menyisihkan waktu untuk merenung akan makna kehidupan.

Ritual yang bernilai agung itu adalah sebagai bentuk nyata sarana untuk meningkatkan kualitas spiritual umat Hindu untuk menuju tingkat keimanan yang sejati (Sraddha) kepada Tuhan. Dari sini bisa kita pahami bahwa Nyepi ternyata tidak hanya bermakna peningkatan kesalehan individu, akan tetapi juga peningkatan kesalehan sosial, yang juga diajarkan oleh agama-agama lainnya.

Meskipun eksistensi penganut agama Hindu, termasuk minoritas di Indonesia, akan tetapi keberadaannya tetaplah penting. Karena bagaimanapun Hindu dengan penganutnya juga ikut terlibat dalam memajukan dan menjaga bangsa ini menjadi besar seperti sekarang. Bukankah agama Hindu justru pernah menorehkan peradaban yang unggul ketika Indonesia ini masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan dahulu.

Sebab itu, dengan momen Hari Raya Nyepi ini, selayaknya rasa ketidaksiapan umat beragama untuk hidup secara berdampingan dalam masyarakat yang multikultural perlu dihilangkan dan yang terpenting, rasa mentalitas si korban atau yang dikorbankan oleh mereka yang juga minoritas haruslah dipupus agar tidak memicu sikap fanatisme buta yang redikal dan ekstrem.

*) Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung