Monolog Empu Putu Wijaya

Anang Zakaria

http://www.tempointeraktif.com/

kini aku makin ngerti keadaanmu
Tak kan lagi aku membujukmu
untuk nikah padaku
dan lari dari lelaki yang miaramu

Inilah ilmu hidup masyarakat maling
Jadi janganlah ragu-ragu
Rakyat kecil tak bisa ngalah melulu

Puisi karya almarhum W.S. Rendra itu kembali menggema di gedung Ahmad Yani, Magelang, Jawa Tengah, pada Sabtu malam pekan lalu. Dibacakan oleh Bambang Ismantoro dari Teater Mandiri, puisi berjudul Pesan Pencopet kepada Pacarnya itu menjadi pembuka babak kedua Monolog Empu Putu Wijaya.

Dengan tegas dan lantang, Bambang membacakan puisi itu. Meski begitu, ada kegetiran tecermin dalam bait-bait Pesan Pencopet: tentang derita seorang perempuan. Alhasil, pembacaan itu menyentak kesadaran sekitar 200 penonton yang menyaksikan pentas monolog malam itu.

Lalu muncul sosok Vera, perempuan cantik berwajah mungil, dalam monolog yang dibacakan Putu Wijaya, berkisah tentang betapa menderitanya menjadi seorang perempuan, terutama di Indonesia. Kerja rodi dia lakoni saban hari, dari urusan dapur, sumur, hingga kasur.

Penderitaan demi penderitaan itu membuat Vera ingin berubah menjadi lelaki. “Enak jadi lelaki. Mau apa pun bisa. Ini-itu semua bisa dikerjakan. Tak ada norma atau aturan yang mengikat. Kalaupun ada, semua bisa dikompromikan,” begitu Putu menuturkan kejengkelan Vera.

Keinginan Vera akhirnya terkabul. Dia berubah menjadi lelaki. Semua gadis di kampungnya, kotanya, dan bahkan di kota tetangga habis dipacarinya. Dia sangat puas. Semua yang dia impikan selama ini terwujud. Kini dia punya apa yang dimiliki lelaki.

Namun, di ujung kejayaannya sebagai lelaki, Vera tersakiti. Seorang perempuan tercantik yang pernah dia pacari mencampakkannya. Pedalaman batin Vera sungsang. Kepedihan karena tersakiti itu kemudian mencambuknya. Dia menjadi sadar, tak sepenuhnya lelaki itu berkuasa. Vera pun ingin kembali menjadi perempuan.

Dalam monolognya, Putu Wijaya melukiskan penderitaan selalu dibarengi dengan usaha memerdekakan diri. Usaha mencari kebebasan sejati sungguh kental terekam dalam pembacaan monolog yang berlangsung lebih dari dua jam itu.

Putu mengatakan, untuk bebas dari ketertindasannya, perempuan tak harus menjadi lelaki. Tuhan telah menciptakan perempuan dengan kemampuan dan potensi diri yang sama dengan lelaki. Kodrat perempuan tetaplah perempuan.

Perempuan, Putu melanjutkan, harus berani berkata “tidak”. Tidak untuk sebuah penindasan. Tidak untuk ketidakadilan yang dia alami. “Orang yang berani berkata tidak adalah orang merdeka.”

Putu menggambarkan kemerdekaan dengan perumpamaan seekor burung perkutut. Lepas dan terbang tinggi ke angkasa adalah mimpi kebebasan dan kemerdekaan burung dalam sangkar. Mungkin hidup dalam sangkar lebih aman dan terjamin. Aman dari ancaman elang yang tiap saat siap menerkam. Terjamin karena sang tuan selalu memberi makan.

Tapi itu semu. Juga menipu. Sebab, kemerdekaan adalah juga keberanian. Keberanian menerobos rapat jeruji sangkar. Keberanian berpikir, bersikap, dan berpandangan bebas, biarpun itu berbeda dengan yang biasa.

Menurut Putu, orang yang tak bisa menghargai kemerdekaan tentu akan menderita. Sungguh ironis, mereka menderita justru karena dia merdeka. Tanpa sadar, ketidakmerdekaan telah menciptakan kebahagian semu hingga menolak merdeka. “Maka memandang dari sudut berbeda adalah satu usaha untuk merdeka,” katanya.

Pentas monolog itu sendiri, Putu menambahkan, secara khusus dia persembahkan sebagai peringatan 100 hari wafatnya Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Juga penyair W.S. Rendra. Di mata Putu, kedua tokoh itu banyak mengajarkan humanisme dan pluralisme. Mereka menempatkan perbedaan dalam posisi yang terhormat.

Putu menyatakan, justru dengan berbeda, Gus Dur melihat sebuah kesempurnaan. Perbedaan itu sekaligus rahmat. Berbeda-beda tapi tetap satu. Kualitas sikap humanis dan pluralisnya tak perlu diragukan lagi. “Dia adalah empu,” ujarnya.

Putu menilai akan sulit mencari sang pengganti empu yang cukup mahir untuk menempa bangsa Indonesia dalam menyikapi perbedaan. Sayangnya, rasa kehilangan sosok pemimpin besar itu justru baru disadari sepeninggalnya. “Kenapa negeri ini selalu telat merasakan kebesaran orang lain,” katanya setengah menggugat.

Begitulah. Pentas monolog itu boleh dibilang sangat menarik dan mengentak. Malam itu, Putu tampil dengan pakaian serba hitam. Ikat kepalanya berganti-ganti. Dari peci hingga topi ala koboi. Cara memakainya pun bermacam-macam, dari melintang laiknya penjudi hingga lurus rapi seperti guru mengaji.

Didukung tata lampu yang bagus, pementasan berlangsung apik. Alur cerita di atas panggung terasa kian hidup menampilkan beragam perasaan. Ada kesedihan, kemarahan, kepedihan, hingga lelucon.

Tiga buah sangkar burung dan ogoh-ogoh (boneka berukuran besar khas Bali) tergantung di atas panggung. Sebuah kursi yang telah dibalut kertas dan koran dipasang di tengah panggung.

Penonton yang hadir terpukau oleh pementasan monolog ini. Terlebih lagi Putu sangat komunikatif membawakan tiap ceritanya. Tiga orang penonton secara spontan ditariknya naik ke panggung, ikut menjadi aktor dadakan dalam pentas monolognya.

Ketua penyelenggara pementasan monolog ini, Yefta, mengatakan jumlah penonton yang hadir memang tak sebanyak di kota lain. “Namun, untuk kota kecil seukuran Magelang, pementasan ini cukup menggembirakan,” katanya.

6 Mei 2010