Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu

Misbahus Surur
Lampung Post, 12 Mar 2011

Perjalanan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional, bukanlah perjalanan yang gampang. Kendati ihwal transformasi bahasa, dari bahasa daerah menuju bahasa kebangsaan, jamaknya menjadi hal yang lumrah. Untuk kasus bahasa Melayu, pilihan kepadanya bukan berdasarkan suatu yang singkat, melainkan melewati proses dan pertimbangan yang cukup panjang dan melelahkan. Beberapa pertimbangan itu seperti; tersebarnya ”ragam” bahasa Melayu ke seantero Nusantara, jauh sebelum bahasa ini dikonversi menjadi bahasa nasional (1928). Aspek lainnya adalah perilaku kebahasaan para nasionalis (elite politik) yang kala itu juga diam-diam mengarah ke sana. Continue reading “Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu”

Keelokan Loksado

Raudal Tanjung Banua
suaramerdeka.com

Jika ingin merasakan segala kebaikan alam, datanglah ke Loksado, pemukiman masyarakat Dayak-Meratus di hulu Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Selain alamnya yang asri, di sana juga terdapat rumah panjang suku Dayak (Balai Malaris), air terjun Haratai, Danau Bangkau, Bukit Kantawan dan pemandian air panas Tanuhi. Continue reading “Keelokan Loksado”

“Cerpen Raudal Tanjung Banua” Kisah Fakta di Peta Fiksi

Adrian Ramdani
http://www.kompasiana.com/adrianramdani

“Cerita pendek dan realitas nyata” pernah menjadi pembicaraan hangat decade 1990-an. Waktu itu media massa, termasuk majalah dan yang berlabel sastra, disinyalir lebih memilih cerpen-cerpen dengan latar peristiwa nyata dan faktual. Apapun kecenderungan itu, membawa pengaruh bagi cerpenisyang berkembang pada waktu itu. Barangkali benar kata Agus Noor, strategi agar sebuah cerpen bisa lolos seleksi redaktur adalah dengan menulis cerpen berdasarkan peristiwa yang menjadi “headline” media massa, atau peristiwa-peristiwa nyata itu sendiri memang memaksa seorang cerpenis untuk menulis. Continue reading ““Cerpen Raudal Tanjung Banua” Kisah Fakta di Peta Fiksi”

Maqam Siti dalam Surabaya

Yesi Devisa*

Bung Tomo dan Siti Surabaya yang Bonek, mampir dan curhat di bumi arema? Ini yang tengah terjadi pada hari Jum’at, tepatnya pada tanggal 25 Februari pukul 14.00 WIB di Laboratorium Drama Fakultas Sastra UM. Di sana, “Bung Tomo dan istri” mengawali pentas dengan acara curhat. Lelucon-lelucon khas Surabaya tak henti mereka suguhkan. Tak ada bentrok atau tawuran, malah yang ada adalah suasana akrab bersahabat dengan Acara dilanjutkan pada acara inti dengan sedikit lebih serius; Continue reading “Maqam Siti dalam Surabaya”

ESTETIKA KESUFIAN “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” ABDUL HADI W.M.

Puji Santosa

1. Pendahuluan

Abdul Hadi W.M. adalah salah seorang penyair yang telah menghasilkan beberapa kumpulan sajak, antara lain, Terlambat di Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1984). Salah satu sajak Abdul Hadi W.M. yang menarik dan kuat sehingga mengangkat dirinya sebagai penyair sufistik adalah sajak “Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Continue reading “ESTETIKA KESUFIAN “TUHAN, KITA BEGITU DEKAT” ABDUL HADI W.M.”

Bahasa »