Mutiara Kehidupan Kaum ‘Ikan dalam Akuarium’

Ridwan Munawwar*
Lampung Post, 15 Okt 2006

The Regala 204 B, (Antologi Cerpen). Nera Andiyanti dkk. Kudus: Gapuradja, Agustus 2006. 116 halaman.

SELAMA ini keberadaan kaum marginal yang juga dikenal dengan sebutan kaum grassroot, rakyat jelata atau wong cilik, selalu menempati posisi subordinat yang tersisih dalam berbagai sepak-terjang aktivitas kolosal kebudayaan. Apalagi agenda-agenda struktural yang sifatnya resmi, formal dan “elite”. Padahal sesungguhnya, disadari atau tidak, berbagai potensi dan kontribusi kebudayaan bersumber dari mereka. Continue reading “Mutiara Kehidupan Kaum ‘Ikan dalam Akuarium’”

Pitoyo Amrih: Novel Wayang Membangun Bangsa

Ardus M Sawega
Kompas, 11 Maret 2011

BERMULA dari obsesi untuk memberikan alternatif agar anaknya tak hanya terbuai tokoh hero asing di televisi, seperti Naruto, One Piece, dan Avatar. ”Kita juga punya pahlawan atau patriot yang selalu menang melawan musuh dan punya jurus-jurus sakti tak kalah dibandingkan Naruto dan yang lain itu,” kata Pitoyo Amrih. Maka, lahirlah novel-novel wayang dari tangannya. Continue reading “Pitoyo Amrih: Novel Wayang Membangun Bangsa”

Siapakah (Masyarakat) Lampung

Galih Priadi S.S.*
Lampung Post, 14 Des 2006

ADA banyak makna dan tafsir yang dilontarkan dalam diskusi panjang di Lampung Post sejak Firdaus Agustian menggelontorkan pemikirannya mengenai piil pasenggiri. Pemikiran itu memantik diskusi kualitatif tentang pandangan hidup (welstanchaung) orang Lampung hingga berkembang masuk, dan membangun wacana soal identitas orang Lampung yang diuraikan Budi Hutasuhut. Continue reading “Siapakah (Masyarakat) Lampung”

Membangun Lampung dengan Buku

Udo Z. Karzi *
lampungpost.com

Saya membaca sebuah artikel Abdullah Khusairi di rubrik buku berjudul Membangun Malayu dengan Buku (Padang Ekspres, 30 November 2009). Isinya tentang sebuah pesta. Bukan pesta bir atau hura-hura. Tapi, pesta buku.

Malam Anugerah Sagang yang digelar Yayasan Sagang di Hotel Ibis, Pekan Baru, pertengahan bukan Oktober lalu. Sebanyak 13 kategori anugerah diserahkan kepada lembaga dan persona yang layak menerimanya. Tapi yang paling penting dari acara ini adalah bagaimana enam buku diluncurkan. Continue reading “Membangun Lampung dengan Buku”

Puisi yang Menggugat Kemerdekaan

Abdul Aziz Rasjid
Malang Post, 25 Juli 2009

Ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka
itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia

— Wahyu Prasetya, Bendera Anak-anak (1990/1991)

Penyair punya kebebasan dalam mencipta puisi sebagai hasil kreasi. Penyair boleh menumpahkan emosi di antara situasi yang sedang ia alami, membayangkan dunia ideal yang diidamkannya setelah ia memikirkan pengalaman yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya. Continue reading “Puisi yang Menggugat Kemerdekaan”

Bahasa »