Pandu, Memandang Dunia Lewat Karl May

Edna C Pattisina
http://properti.kompas.com/

”Kami memang hanya menerbitkan buku lama. Namun lewat buku-buku Karl May, saya berharap kita bisa belajar tentang kemanusiaan, perdamaian, dan lingkungan hidup.” Begitu kata kepala suku Paguyuban Karl May Indonesia atau PKMI, Pandu Ganesa.

Bersama komunitas dan penerbit yang dibangun secara swadaya, Pandu bersama PKMI telah menerbitkan 10 buku dari target 40 buku karangan Karl May.

Karl May adalah penulis Jerman yang kontroversial pada masa hidupnya, 1842-1912. Karl May banyak bercerita lewat dua karakter terkenal dalam buku- bukunya, kepala suku Apache, Winnetou dan saudara angkatnya, Old Shatterhand, seorang Jerman-Amerika. Buku-bukunya sempat dipandang sebagai novel tak berkualitas.

”Dia kontroversial karena sebagai orang kulit putih waktu itu, tulisan-tulisannya justru mencela penindasan yang dilakukan kulit putih terhadap bangsa lain seperti Indian,” kata Pandu.

Mengisi masa kecil dengan buku-buku Karl May, awalnya Pandu hanya ingin mengenang masa kecilnya ketika ia mulai menjelajah dunia maya tahun 1999. Namun yang didapatnya lebih dari sekadar persahabatan antar-ras, tetapi juga situasi yang bisa menjadi cermin masa kini.

”Dia bicara tentang perang etnik, Amerika dibangun dengan ongkos sangat mahal, yaitu menghabiskan sebuah etnis. Yang menjadi patokan waktu itu: kita versus mereka. Siapa pun yang bukan kita harus diperangi. Indonesia ketularan, pada abad ke-21 ini yang dipakai sebagai argumentasi gontok-gontokan adalah agama. Padahal, itu rasa kemanusiaan yang hilang,” katanya.

Karl May juga menyinggung isu lingkungan hidup dalam tulisan-tulisan yang dia buat pada abad ke-19. Ia menulis tentang kuda-kuda mustang yang punah, hingga bison yang habis dibantai.

”Di Indonesia pada abad ke-21, mana itu orang hutan, harimau sumatera, atau badak? Tinggal segelintir. Persis kan?” kata Pandu yang dua tahun hidup di pedalaman hutan Kalimantan.

Karl May juga mengangkat isu perang yang relevan dengan konteks masa kini. Bahkan, dalam buku-buku karangannya yang merupakan hasil perjalanan ke Aceh, ia menyebut kolonialisme sebagai terorisme.

”Sekarang kok Amerika (AS) masih bisa menyerbu Irak. Sepertinya manusia memang masih seprimitif dulu,” katanya.

Minta tolong anak

Perjalanan Pandu dan kawan-kawan pencinta Karl May berawal dari buku seharga Rp 17.500 untuk membuat situs web. Dengan meminta tolong kedua anaknya yang duduk di bangku SD dan SMP terciptalah situs www.indokarlmay.com pada Oktober 2000. Sebulan kemudian terjadi interaksi komunitas di ruang maya lewat mailing list.

Tak diduga, salah satu anggotanya adalah orang dari Kepustakaan Populer Gramedia yang dalam satu diskusi menantang Pandu menerbitkan Karl May dan menjadi editor tamu. ”Di sinilah kita terkejut karena ternyata buku Damai di Bumi itu sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan,” cerita Pandu.

Perjalanan terus bergulir. Tulisan Pandu tentang Damai di Bumi dimuat di halaman satu koran ini. Ia kemudian ditelepon Goenawan Mohamad yang lalu membuka jalan masuk Karl May sebagai sebuah liputan di Tempo. Kemudian Intisari menulis cerita tentang pembuatan situs web Karl May.

”Semua ini langsung membuat jumlah anggota komunitas Karl May meningkat pesat dalam waktu singkat,” katanya.

Setelah buku Damai di Bumi terbit Oktober 2002, muncul pertanyaan lebih besar. Kok cuma satu buku yang diterbitkan, bagaimana dengan buku-buku Karl May yang lain?

Anggota PKMI yang saat itu jumlahnya sudah di atas 100 orang mendorong agar komunitas itu menerbitkan sendiri buku-buku Karl May.

”Jadilah lima orang patungan dapat uang Rp 27 juta. Tiga orang di antaranya ’bos’, satu ibu rumah tangga, dan satu orang lagi saya yang nyumbang waktu saja,” ceritanya.

Rupanya uang Rp 27 juta itu yang bergulir hingga kini dan mereka berhasil menerbitkan 11 buku, di antaranya Winnetou I yang telah cetak ulang enam kali atau 18.000 eksemplar. Di bawah penerbit yang dibuat Pandu, Pustaka Primatama, total ada 10 novel dari Karl May yang telah terbit, yakni Winnetou 1, 2, 3, 4, Kara Ben Nemsi 1, 2, 3, Anak Pembunuh Beruang, Hantu Lano Estanando, Kumpulan Cerpen Old Shatterhand serta Menjelajah Negeri Karl May, sebuah pengantar tentang Karl May.

Semua itu belum termasuk film yang harus diterjemahkan. Di sini ada empat judul film panjang, dua film dokumenter, dan masing-masing satu kartun dan parodi.

Jangan tanya soal bagaimana pembuatan edisi pertama Winnetou 1. ”Bukunya jelek sekali ha-ha-ha. Saya yang bahasa Indonesia-nya pas-pasan menjadi editor. Akan tetapi siapa lagi? Kalau ada duit, pasti kita sudah membayar seorang profesional,” katanya.

Naskah dari Jerman

Naskah asli diperoleh Pandu dari Jerman. Kebetulan saat ia pulang kampung ke Malang, dia melihat banyak kursus bahasa Jerman. Dia langsung menghubungi pengajarnya untuk menerjemahkan buku Karl May, padahal sebelumnya mereka belum pernah membaca Karl May.

Setelah bukunya selesai pada Oktober 2003, upaya ini malah mendapat dukungan dari Goethe Institut dengan memberi ruang untuk pameran.

”Kalau kita punya niat baik, orang akan mendukung,” kata Pandu.

Keberadaan buku-buku Karl May sekarang ini di berbagai toko buku adalah hasil kerja komunitas. Menurut Pandu, sempat terpikir untuk menyerahkan penerbitan buku-buku Karl May kepada para profesional.

”Namun, apakah dedikasi mereka bisa seperti kami? Misalnya, honornya ha-ha. Kalau kami sih senang-senang saja biarpun untuk menerjemahkan satu buku bisa setahun,” katanya.

Jumlah total komunitas PKMI di dunia maya mencapai 800 orang. Merekalah yang menjadi pasar dan simpul-simpul kegiatan dalam menyebarkan ide-ide Karl May. Penerbitan buku digunakan untuk mendanai organisasi serta mengikat komunitas.

”Ini kan klub buku, jadi siapa pun yang masuk menjadi anggota klub ini enggak harus keluar duit. Namun, mereka malah mendapat buku dan kaus,” katanya.

Di balik berbagai kegiatan dan penerbitan buku Karl May, Pandu merasa belum puas karena yang membaca buku-buku ini sebagian besar justru generasi 1980-an.

”Ketika sudah dewasa, kita susah mengubah sikap. Berbeda dengan sewaktu remaja, buku- buku seperti inilah yang membentuk kita. Maka, ketika dewasa kita siap bergaul dengan semua orang meski beda agama, suku, dan ras,” tuturnya.

Oleh karena itu, tahun 2009 Pustaka Primatama berencana menerbitkan lima buku Karl May yang dibuat khusus untuk remaja.

”Kemarin kami sempat membuat komik, ada lima judul. Namun, tampaknya ini belum mengenai sasaran pangsa pasarnya,” katanya.

Bagi Pandu, perjalanan ”Karl May masa kini” baru setengah jalan. ”Tujuan akhir kami adalah remaja Indonesia juga membaca dan meresapi nilai-nilai universal yang sudah kami peroleh dari Karl May,” katanya.