Pelestarian Seni Tradisi,Menjaga Kesakralan atau Kreasi?

Mustaan
Lampung Post, 22 Juli 2007

SAKRALNYA seni tradisi daerah menjadi potensi tersendiri dalam mendukung pengembangan. Karena seni bukan hanya sekadar prestise suatu daerah, melainkan ada tradisi-tradisi yang harus dijaga keasliannya. Dari berbagai ragam seni, tentunya dibarengi dengan legenda atau juga ritual tradisi yang harus tetap dijalankan. Walaupun sebagian masyarakat mengartikan lain terhadap ritual tradisi sebagai hal yang bertentangan dengan akidah, ritual tersebut harus tetap dijalankan, untuk sekadar memberi warna lain dalam setiap pertunjukan seni. Seperti membakar dupa untuk menambah kekuatan psikis pemain seni atau puasa untuk memberikan pencerahan pada ruang batinnya.

Seperti juga permainan musik tradisional, ada juga ritual tradisi dalam mempelajarinya. Alat musik tradisional perkusi seperti gamelan dalam bahasa Lampung: gamolan atau talo yang sudah umum digunakan di seluruh wilayah Nusantara. Alat musik yang satu ini dari beberapa versi diakui berasal dari tanah Jawa, tetapi beberapa daerah juga menggunakan untuk mengiringi tari atau lagunya.

Selain berbahan baku logam seperti umumnya di daerah Pulau Jawa, ada bahan dasar pembuatan alat musik ini. Seperti dari kayu atau yang biasa disebut kolintang yang digunakan di Minahasa, Sulawesi Utara. Juga ada yang berbahan baku bambu seperti yang digunakan di Lampung dan disebut gamolan pering atau cetik. Namun seperti pada umumnya di daerah luar Pulau Jawa, di Lampung tidak ada notasi baku atau laras atau juga partitur pada alat musik ini.

Mulai dari cara membuatnya pun ada ritual adat tradisi yang harus dilakukan “sang empu”. Mulai dari memilih bahan baku dari kuningan, kayu atau bambu, menempanya menjadi bilah-bilah sampai menyusunnya dalam kesatuan alat musik. Semua bercampur antara keterampilan, naluri hingga kekuatan metafisik yang didapat dari ritual yang ditradisikan nenek moyang. Belum lagi cara bermain alat itu yang juga harus mencampurkan semua unsur kekuatan tersebut.

Misalnya bermain gamelan pelog-slendro pada seni budaya Jawa. Di mana pada beberapa jenis tabuhan, tidak sembarang orang bisa memainkannya. Apalagi hanya dipelajari dengan pelajaran standar mengikuti irama pelog-slendronya. Tentunya harus didapat dengan ritual mulai dari puasa, mandi kembang, atau lainnya.

Namun untuk permainan musik tradisional di seni budaya Jawa, tetap ada patokan baku di setiap jenis alat musik. Dan partitur atau laras pada alat musik itulah yang dijadikan pedoman orang mempelajari dasar tetabuhan tradisional suku tersebut. Hanya saja untuk lebih menimbulkan aura dalam permainan musiknya, sang pemain lebih dahulu mengawalinya dengan ritual-ritual tradisional. “Ritual-ritual itu tetap ada, namun untuk memudahkan belajar ada dasar-dasar not lagu yang menjadi patokannya,” kata salah seorang budayawan asal Kota Metro Sugeng Haryono dalam diskusi komunitas di Dewan Kesenian Metro (DKM) pekan lalu.

Berbeda dengan alat musik daerah lain yang tidak punya laras baku dalam memainkannya. Misalnya alat musik kolintang, alat musik dari kayu dari Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut) dan telah dikenal sejak puluhan tahun silam. Alat musik kolintang terbuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat. Untuk menentukan not atau tangga lagunya, kayu dengan bentuk yang pendek akan menghasilkan tangga lagu yang tinggi. Sebaliknya, kayu yang panjang akan menghasilkan tangga lagu (not) yang rendah. Sejauh ini tidak ada laras baku dalam bilah-bilah kolintang dan dalam mempelajarinya harus benar-benar dengan mendengarkan permainan orang.

Hal yang sama juga pada permainan alat musik talo balak atau gamolan Lampung. Menurut Sugeng yang juga salah satu tokoh panginyongan di Metro, dalam permainan alat musik itu notasinya sama seperti permainan di Jawa. Namun sampai sekarang belum ada patokan baku untuk memainkan alat musik tersebut. Mulai dari permainan musik mengiringi lagu atau tari seperti Melinting, Sigeh Pengunten ataupun tari lainnya. “Bagaimana untuk menurunkan ilmu permainan musik itu kalau tidak ada patokannya,” kata Sugeng.

Memang belum pernah terliat adanya partitur dalam setiap permainan alat musik talo. Sebab tidak ada dalam grup “karawitan” Lampung yang mengajarkan permainannya dengan sistem membaca notasi. Seperti notasi di suku Jawa yang menggunakan pelog atau slendro untuk mengiringi setiap permainan musik. Padahal halayang paling mudah untuk mempelajari sesuatu jika ada patokan teorinya walaupun itu pun di dapat dari sebuah praktek.

Ada Ritualnya

Sementara salah seorang pelaku seni musik tradisi Anthony mengatakan memang untuk mempelajari permainan alat musik itu dia mendapatnya secara autodidak. Yaitu dari mendengarkan orang bermain, kemudian dengan sedikit petunjuk dia mempraktekkannya. “Selain itu ada ritual tersendiri untuk menghaluskan permainan,” kata Anthony yang juga Bendahara DKM itu.

Menurut Anthony, dia sempat menjalankan ritual di daerah asal tari Melinting yaitu Labuhan Maringgai. Saat itu dia mempelajari permainan musik untuk tabuhan Tari Melinting. Dengan petunjuk salah seorang tokoh di sana, dia melakukan ritual dengan berpuasa tiga hari. Setelah itu dia mencoba permainan itu dan hasilnya memang sangat enak terdengar. “Akhirnya, saya berpatokan bahwa permainan musik dalam tari Melinting itu memang harus dijiwai agar ‘aura’ tabuhannya terdengar penonton,” katanya.

Dengan begitu dia mengaku tidak berani membuat partitur atau notasi baku yang menjadi dasar pukulan pada permainan musik Tari Melinting. Karena dia khawatir permainannya akan dilakukan hanya dnegan patokan baku, padahal itu belum sempurna. Jika tidak diiringi dengan ritual seperti yang dijalaninya di daerah asal tabuhan itu, Labuhan Maringgai. “Tentu masyarakat yang merasa memiliki tabuhan itu akan kecewa. Lagi pula jika ada patokan baku berupa partitur, orang tidak mau lagi mempelajarinya secara mendalam,” katanya.

Namun seni merupakan hasil sebuah kreasi manusia atas percobaan-percobaan yang dilakukannya. Sehingga seni itu dinamis dan dapat terus dikreasi tanpa harus meninggalkan bentuk asli dan kekhasannya. Dengan adanya kreasi tersebut, seni budaya daerah akan semakin kaya dan berkembang. “Jangan pernah menghambat perkembangan seni budaya, sebab itu akan menjadi dosa terhadap anak cucu,” kata Ketua DKM Rifian Al Chepy dalam diskusi itu.

Namun, kata dia, kreasi dalam seni budaya tradisi tanpa harus menghilangkan bentuk aslinya, sekalipun itu ritual yang dinilai kuno. Sebab ritual itu merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah kreasi seni. Lagi pula hanya orang-orang yang lengkap mempelajari sebuah seni tradisi termasuk ritualnya dapat berkarya seni lebih dalam. “Dalam seni dikenal prinsip banyak orang dapat berkarya, namun hanya orang tertentu yang berkarya dengan sempurna,” katanya.

Sehingga, kata Sugeng, dalam hal ini berarti memang perlu adanya patokan baku untuk mempelajari setiap permainan seni musik tradisi. Walaupun dalam dalam memainkannya perlu ada ritual yang dijalankan agar permainan sempurna. “Seperti seni wayang. Semua orang mungkin tahu teori dan cerita perwayangan, namun tak semua orang bisa mendalang,” katanya.

Dan untuk dapat menjaga kelestarian seni budaya tradisi Nusantara, perlu ada patokan baku yang mudah dipelajari orang. Untuk hal itu, harus dimulai oleh para seniman daerah itu sendiri untuk berkreasi dalam pelestarian seni budayanya. Salah satunya mencoba membuat partitur atau notasi dalam permainan salah satu jenis alat musik misalnya permainan talo atau gamolan. “Jangan sampai karena tidak ada partitur yang menjadi dokumentasi dari pelajaran satu jenis alat musik, maka anak cucu kita tidak dapat mengenal permainan alat musik itu lagi,” kata Sugeng.

Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2007/10/khazanah-pelestarian-seni.html