Soetomo dan Kesadaran Waktu

Asarpin

Dr. Soetomo adalah tokoh pergerakan pemula, yang hidup di bawah kaki langit sejarah pra-kemerdekaan Indonesia. Ia hidup dan dihidupi oleh sejarah. Ia dibesarkan dalam dunia aktivis dan menjadi suluh muda bagi rekan-rekan sezamannya. Seorang dokter terdidik yang namanya tak mungkin terhapus dalam sekolah kedokteran di STOVIA dan di lingkungan organisasi Budi Utomo.

Nama Soetomo melambung berkat Budi Utomo, sebaliknya: Budi Utomo besar karena dirinya. Tiap kali kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei, nama Soetomo selalu kita kenang. Begitu dekat ia di hati sebagian besar orang Indonesia. Sampai-sampai Budi Utomo identik dengan Soetomo. Kendati kita tahu kemudian, dalam pergerakan Budi Utomo belum ada kosakata Indonesia merdeka. Soetomo dan rekan-rekannya mengenalkan Indonesia berbudi mulia. Menurut Ben Anderson, jika Bung Karno dan generasinya bicara tentang Indonesia Merdeka, Soetomo dan rekan-rekannya bicara tentang Indonesia Mulia.

Bahkan, jika sebagian besar pengamat menempatkan organisasi Budi Utomo sebagai fajar nasionalisme Indonesia, maka Soetomo jarang sekali menggunakan kata itu. Istilah fajar sebagai kebangkitan bahkan belum dikenal pada masa Soetomo. Menurut kesimpulan Anderson setelah membaca buku Kenang-kenangan (Surabaya, 1934) karya Soetomo, ”gambaran tentang cahaya dan fajar nasionalisme amat jarang di dalamnya”.

Soetomo adalah putra terbaik pada zamannya. Tak ada tokoh pribumi yang begitu penting peranan dan posisinya pada awal abad ke-20 melebihi Soetomo. Van Neil bahkan menulis: sulit diterima peranan orang lain yang lebih penting dari Soetomo dalam membentuk corak kehidupan pada paruh pertama dan kedua abad ke-20. Karir Soetomo di bidang pergerakan terus berlanjut ketika kemudian ia mendirikan Klub Studi Indonesia di Surabaya pada 1924, lalu menjadi pendiri Partai Bangsa Indonesia 1930 dan pendiri Parindra 1935.

Tak berlebihan jika Ben Anderson menjuluki Soetomo sebagai “tokoh sentral dalam politik Indonesia sebelum kemerdekaan”. Konon, pada saat kematiannya pada 1938, Soetomo ditangisi ribuan orang; lima puluh ribu orang mengikuti usungan mayatnya. Fenomena ini mengingatkan kita pada kematian Bung Karno yang ditangisi jutaan rakyat Indonesia. Sebuah fenomena yang bahkan tidak pernah terjadi pada sosok Sutan Sjahrir dan Bung Hatta ketika meninggal.

“Soetomo memang luar biasa. Padanya tertanam sosok kepemimpinan yang sangat agung dari gerakan nasionalis dalam sejarah beberapa dasawarsa”, tulis Anderson dalam Masa Kegelapan dan Masa Terang Benderang (1983). Soetomo adalah penulis, pemikir, dan tokoh yang berada dalam kesadaran tarikhi. Dalam studinya tentang buku Kenang-kenangan karya Soetomo, Anderson menempatkan buku tersebut sebagai “bagian dari cara berpikir yang di dalamnya masa lampau, masa kini, dan masa mendatang dipahami dan dihubungkan bersama dalam jiwa pribadi politik yang paling punya daya tahan dari generasi tersebut”.

Soetomo lahir dari keluarga terdidik. Kakeknya adalah seorang didikan pesantren yang tidak hanya belajar mengaji Quran, tetapi juga belajar menulis dan membaca bahasa Jawa dan Melayu tentang ilmu falak (astronomi) dan ilmu kebal. Karena itu, Soetomo bukan tokoh yang durhaka terhadap pendidikan tradisional.

Dalam Polemik Kebudayaan yang terkenal, Soetomo sama sekali tidak melecehkan pendidikan yang diperoleh kakek dan ayahnya di pesantren. Ini berbeda dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan dr. Satiman yang meledek pendidikan pesantren sebagai pendidikan kuno yang ketinggalan zaman. Demikian pula pandangan tentang waktu sebagai kesadaran tarikhi, betapa bertolak-belakang dengan pandangan Takdir.

Pandangan Soetomo tentang waktu mengikuti pandangan kosmologi Jawa klasik. Dalam pemikiran tradisional Jawa, seperti pernah ditulis Soetomo, terdapat keselarasan alamiah antara gerakan kehidupan manusia dan gerakan kosmos. Roda yang berputar adalah suatu gambaran gerak dan ketenangan, berangkat dan pulang kembali. Bentuk dari waktu universal adalah satu dari ciptaan dan destruksi, dan berulang lagi ciptaan dan destruksi. Dan manusia dilahirkan dalam zaman yang fana, hidup seumur-umurnya dan kemudian kembali kepada zaman yang baka. Perputaran berhenti dan generasi yang lain memulai putaran baru.

Waktu adalah masa silam yang serempak mengada dengan masa depan dalam masa kini. Dalam gerak-diam waktu, kejadian tak pernah selesai. Tak ada lagi pengulangan yang persis sama dalam arus gerak waktu. Herakleitos sudah mengingatkan ketidakmungkinan kita untuk berenang dua kali dalam sungai yang sama. Hidup hanya sekali, kata Chairil Anwar, itu pun sekedar menunda kekalahan untuk pada akhirnya kita harus kembali. Soetomo menyarankan agar manusia membebaskan diri dari waham bernama politik lokasi tunggal. Waktu adalah kondisi umum kehidupan organis yang terdiri dari tiga modus waktu: lampau, kini, dan nanti.

Soetomo menempatkan waktu yang statis, beku, dan menunjukkan apresiasi terhadap tradisi Jawa sewaktu ia dituntut untuk tidak lagi hidup dengannya. Berbeda misalnya dengan para penganut kemajuan, seperti Takdir Alisjahbana, waktu ditempatkan sebagai gerak-maju yang dinamis. Spiritualitas waktu sebagai pertarungan hidup mati umat manusia. Masalah sastra menyangkut masalah paling eksistensial tentang bagaimana mengolah ladang waktu, menguasai ladang waktu, dan manusia bisa jaya terhadap waktu.

Dalam kalender Jawa yang dipengaruhi Hindu, ada istilah Mahakala (waktu tanpa akhir), yang mengatasi waktu dan siklus perputaran kelahiran kembali. Dalam kerangka reinkarnasi ini, waktu dalam pemahaman Soetomo merupakan roda perputaran yang menyedihkan dari eksistensi di dunia yang fenomenal, yang bukan dunia nyata, melainkan maya. Karena itu ia mencoba mengatasi apa yang imortal dan yang abadi dengan yang berubah dan tak selesai.

Dalam ajaran panca maha butha, semua makhluk hidup pada akhirnya akan terurai dan terberai atas unsur alam pembentuk kehidupan: air, api, logam dan eter. Kematian adalah siklus yang terputus. Satu hidup saja memang tidak abadi, karena hidup masih sering ditata dalam prasangka kefanaan, tetapi rangkaian siklus kehidupan dan reinkarnasi, itulah makna keabadian sejati.

Contoh menarik tentang perubahan waktu dalam konteks kebudayaan masyarakat Bugis lama pernah ditunjukkan dengan sangat menarik oleh Christian Pelras dalam esai Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal. Sejak dahulu, bagi sebagian besar masyarakat Bugis terkait dengan soal waktu yang mistis melalui sejumlah ritus suci. Waktu berhubungan erat dengan upacara sinkretis. Namun ketiga Islam masuk, maka mulailah konsep waktu dikaitkan dengan ajaran Islam. Hal yang gaib disesuaikan dengan konsep Tuhan Yang Maha Esa.

Demikian pula di Jawa. Sejak kekuasaan raja-raja Jawa dihapus dan Islam jadi patokan di segala bidang, gejala-gejala sinkretisme dan mistisisme nyaris tergusur. Penanggalan Jawa kuna pada akhirnya berubah sejak Sultan Mataram berkuasa dan masuknya Islam ke bumi nusantara. Berbagai corak mistis dan magis serta misteri-misteri yang terkait dengan tradisi, mengalami kodifikasi.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/