Bahasa: Dari Mitos

Lie Charlie
Kompas, 30 Nov 2007

NARSIS banget lo! Ini celetukan seorang remaja kepada temannya yang suka memuji diri sendiri. Narsis sebetulnya penggalan dari kata sifat narsisitis atau kata benda narsisis. Arti kata itu ialah sifat atau seseorang yang senang memuji diri sendiri secara berlebihan, teristimewa pada mulanya dalam hal fisik.

Narsisitis atau narsisis mengacu kepada nama seorang tokoh mitologi Yunani, Narsisus, pemuda yang sangat tampan, anak Dewa Sungai Cephissus dan Peri Liriope. Banyak gadis jatuh hati kepadanya, di antaranya Peri Ekho. Karena pernah dikutuk Dewi Hera, Ekho tak dapat berkata-kata kecuali mengulang kata terakhir yang diucapkan pihak lain sehingga ia tidak dapat menyatakan cintanya kepada Narsisus.

Suatu hari Narsisus tersesat di hutan. Ia pun berteriak, “Adakah orang di sini?” Dengan girang Ekho berseru menjawab mengulang kata terakhir yang diteriakkan Narsisus, “Sini, sini, sini!” Kemudian Narsisus berseru, “Ke marilah!” Ekho dengan sukacita kembali membalas mengulang seruan terakhir Narsisus, “Marilah, marilah, marilah!” sambil merentangkan lengan menyongsong Narsisus. Malang bagi Ekho, Narsisus menolaknya. Karena malu dan terhina, Ekho yang cintanya bertepuk sebelah tangan pun lari bersembunyi ke dalam hutan. Akhirnya kesedihan mahadahsyat merenggut jasad Ekho dan yang tertinggal: hanya suaranya.

Dewi Balas Dendam Nemesis yang kecewa dengan keangkuhan Narsisus berniat memberinya pelajaran dan hukuman. Ia membuat Narsisus menjadi terkagum-kagum pada ketampanannya sendiri saban sang pemuda memandang pantulan wajahnya di permukaan air kolam atau sungai yang bening. Suatu hari Narsisus yang membungkuk di tepi Sungai Styx seraya menikmati bayangan dirinya sendiri tergoda menggapai ke bawah. Ia terjatuh dan tewas tenggelam. Dewa-dewi lain yang akhirnya menemukan mayat ganteng Narsisus sepakat mengubahnya menjadi bunga.

Demikianlah kisah etimologinya sehingga kini kata narsisis sebagai kata benda dipakai untuk menyebut orang yang terlalu kagum, bangga, dan memuja ketampanan atau kecantikan diri sendiri; sedangkan sebagai kata sifat dipergunakan kata narsisitis. Bentuk narsis sebetulnya tidak baku, tetapi apabila selama ini kita dapat menerima kata-kata yang dipenggal-penggal seperti: demo (untuk demonstrasi), indi (untuk independen), intens (untuk intensif), intro (untuk introduksi), dan lain-lain, kata narsis mungkin saja bakal diterima juga.

Sekarang kita tahu bahwa ekho ‘ gaung’ berasal dari nama Peri Ekho dalam mitologi Yunani yang dikutuk tak bisa berbicara kecuali mengulang kata terakhir ucapan pihak lain. Dan penggemar tanaman tahu bahwa bunga yang tergolong jenis narsisus, seperti dafodil, jonquil, atau lili-air biasanya tumbuh di tepi sungai atau kolam berair jernih.

Mitologi Yunani pun menyumbang kata-kata lain kepada bahasa dunia, umpamanya khaos, yang diambil dari nama Dewa Khaos. Waktu dunia belum terbentuk dan masih berupa segumpal kekacauan, saat zat padat, cair, dan gas belum terpisahkan, memerintahlah Dewa Khaos dan Dewi Noks. Khaos digambarkan berupa amburadul dan Noks berwajah gelap-gulita. Pokoknya penampilan keduanya luar biasa “kacau”. Maka, kata khaos kemudian dipakai untuk melukiskan suasana kacau-balau, rusuh, dan panik. Untuk memahami kata-kata, ternyata perlulah kita belajar tentang mitos-mitos.

LIE CHARLIE, Sarjana Tata Bahasa Indonesia
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/11/bahasa-dari-mitos.html