Haji Ibrahim

Asarpin

Cerita tentang haji adalah cerita pengorbanan Ibrahim dan keluarganya. Dalam kitab suci dikisahkan bagaimana Tuhan menguji keteguhan Ibrahim dan keluarganya. Ketika di Ur, Ibrahim berhadapan dengan lidah api Naram-Sin. Saat berada di Haran, Ibrahim diminta untuk segera meninggalkan ayahnya. Ketika di Mesir, saat Firaun mengambil Sarah, ia pun mendapat ujian. Demikian pula ketika ia di Palestina dan di Mekkah saat ia membangun ”Rumah Allah” (Ka’bah). Dan ujian psikologi terberat yang dialaminya adalah ketika Ibrahim harus meninggalkan Siti Hajar dan Ismail sendirian di lembah tandus dan sepi.

Tentu saja ada sesuatu yang membuat Ibrahim sabar dan tegar menghadapi bergam tantangan. Sesuatu itu bisa jadi adalah ”agama” yang dipeluknya. Tapi kita tak tahu agama apakah yang dianut Ibrahim dan keluarganya. Secara formal, Islam belum lahir. Tak seorang pun bisa membuktikan dengan pasti bahwa Ibrahim beragama Yahudi, Kristen atau Islam. Dalam Islam, memang ada anjuran agar orang muslim mengikuti agama Ibahim yang lempang, tapi apa nama agamanya, tidak dijelaskan.

Orang Islam mengklaim Ibrahim telah ber-Islam sebelum Islam secara formal lahir. Perjalanan hidupnya bersama keluarga yang dilandasi oleh keimanan yang kokoh hanya kepada Tuhan yang satu, kerapkali dijadikan alasan untuk memasukkan Ibrahim ke dalam iman Islam. Tapi apa yang kita ketahui adalah sikap keterbukaannya yang kelak dianggap sebagai panutan.

Secara legal-formal, Ibrahim tak bisa dikatakan sebagai Yudeo-Kristen dan Islam. Alquran sendiri menyebut Ibrahim bukan seorang Yahudi atau Kristen, melainkan seorang hanif dan pasrah kepada Tuhan. Maka sebagian besar para mufasir Islam sepakat jika Ibrahim adalah bapak dari ketiga agama Samawi tersebut.

Ibrahim memang jadi tauladan karena kegigihannya dalam menegakkan keimanan di tengah segala pertentangan dan cobaan. Maka gelarnya pun tak tanggung-tanggung: ”Bapak Orang Beriman!” Padahal, bila kita membaca pohon keluarganya, Ibrahim dan keluarganya tak jarang mengalami persoalan kekerasan. Keturunan Ibrahim tidak selalu harmonis. Ismail berselisih dengan Ishak, walau ketika sang ayah akan meninggal, keduanya kembali bersekutu. Perselisihan mereka terjadi karena hak warisan yang ditafsirkan secara berbeda. Dalam soal pembagian warisan, Kitab Kejadian melukiskan sikap Ibrahim yang memihak Ishak secara berlebihan, seolah-olah hanya Ishak sebagai putra Ibrahim.

Menurut Olaf Schumann (1992), konflik antara Ismail dan Ishak digambarkan dengan cukup detail dalam Alkitab. Namun cerita tentang Ismail dan Ishak bukan satu-satunya cerita Alkitab di mana Tuhan mengindahkan si adik dan menomor-duakan si kakak. Tindakan iitu menimbulkan konflik yang dahsyat di antara keduanya, kelak berlanjut sampai generasi sesudahnya.

Apa yang mengejutkan dalam sejarah konflik saudara dalam tradisi agama-agama justru bukan orang asing yang tidak saling kenal yang menjalankan baku-hantam, melainkan mereka yang justru bersaudara. Cerita tentang Kain dan Habel, Ismail dan Ishak, atau cerita tentang Semar dan Togog dalam legenda Jawa, selalu hadir dengan cerita tentang ketidaksiapan menjalani hidup di tengah perbedaan.

Perseteruan Ismail dan Ishak tak bisa ditolak. Bahkan berlanjut sampai ke cucu Ibrahim dari Ishak, yaitu antara Esau dan Yakub. Riwayat keduanya dimulai dengan perselisihan yang sama. Si adik memperoleh apa yang sebenarnya merupakan hak si kakak, hingga keduanya bertikai-pangkai. Namun kehendak Tuhan rupanya lain. Setiap ada perselisihan, di sana ada upaya perdamaian. Esau dan Yakub akhirnya bertemu dan melakukan rekonsiliasi.

Ka’bah didirikan oleh Ibrahim dan Ismail sebagai salah satu tempat suci untuk rujuk kembali. Haji yang semula sebagai ekspresi budaya orang Arab jadi ekspresi keagamaan. Ekspresi kultural memperoleh pemaknaan yang baru ketika berinteraksi dengan makna keagamaan.

Dalam haji ada tradisi berkorban. Menjalankan kurban tiap Idul Adha tidaklain ”penyucian diri”. Melakukan ibadah haji ke Mekkah tidak lain adalah upaya ”penebusan dosa” yang telah kita perbuat di dunia. Di Tanah Suci terdapat tempat yang berkat untuk menghapus dendam dan permusuhan, menghilangkan noda bekas korupsi dan perselingkuhan. Dengan berhaji, maka dosa lebur dan kesalahan dimaafkan. Dengan menjalankan haji, orang kembali lagi menjadi suci.

Betapa enak jadi orang yang bisa berhaji! Apalagi bisa berhaji berkali-kali. Mereka tak pernah memikirkan biaya ratusan juta rupiah karena bagi orang kaya, menghabiskan uang ratusan juta untuk kepentingan mengejar kesalehan pribadi jauh lebih berarti ketimbang uang itu dihabiskan untuk membebaskan jutaan orang miskin dari belenggu kemiskinan.

Sayang sekali tidak ada lagi orang seperti al-Hallaj yang memilih membebaskan derita anak yatim ketimbang naik haji! Sayang sekali tidak ada lagi orang yang berani menolak tawaran ibadah haji dari pejabat pemerintah yang menyalahgunakan uang sesuka hati. Ketika bupati, walikota, dan gubernur baru saja terpilih, mereka memboyong sanak-keluarga dan rekan-rekannya—berikut tim suksesnya—untuk menjalankan umrah dan haji dari uang hasil manipulasi. Sedih sekali, tapi adakah yang masih peduli?

Jerald F. Dirks, dalam bukunya yang telah diterjemahkan dengan judul Ibrahim, berkisah tentang seorang calon Haji yang bertanya kepada seorang sufi: untuk apa kamu pergi Haji? Ia bilang, untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Si sufi seketika mengatakan: sebagian besar aktivitas yang akan kamu lakukan saat menjalankan haji terkait dengan momen mengenang Ibrahim. Ritual dan tradisi haji adalah untuk memperingati berbagai kejadian dalam kehidupan Ibrahim dan keluarganya.

Setelah menyelesaikan Tawaf (perjalanan mengelilingi Ka’bah), jamaah haji menjalankan shalat dua rakaat di belakang Makam Ibrahim, batu di mana Ibrahim berdiri untuk menyelesaikan pembangunan Ka’bah. Kemudian, setelah berdoa, jamah akan minum air zam-zam dan memperingati keajaiban ketika malaikat Jibril menggali sumur ajaib itu dan menyelamatkan hidup Siti Hajar dan Ismail. Ritual Sai (berjalan bolak-balik antara Safa dan Marwa selama tujuh kali) dilakukan untuk memperingati perjuangan Siti Hajar mencari bantuan, dan ketika Tuhan menggantikan Ismail dengan seekor domba. Pelemparan batu ke tiga pilar di Mina untuk memperingati Ibrahim yang menolak berbagai godaan yang ia temui agar tidak mengurbankan Ismail.

Semua itu tidak lain kecuali untuk mengukuhkan pohon keluarga Ibrahim. Ada memang ritual dan ziarah untuk Nabi Muhammad, tapi sebagian besar aktivis dalam haji justru lebih banyak tertuju untuk napak tilas Ibrahim dan keluarganya. Maka tak heran jika di Indonesia begitu banyak Haji Ibrahim!
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/