Percakapan Sunyi

Dharma Viragata

Belum selesai
hujan menabuhi bumi
ketika raga kelapa menari
lewat liuk jemari mengundang hati
‘tuk menggenggam tasbih, dalam nan hening pilu waktu
udara basah, cerita segala tentang rasa
dendam basah parau bersuara
cinta terluka menangisi rasa
disetubuh sepi abadi
dinikahkan mimpi.

Ketika fajar dalam setarik napas, Ada menanya:
kenapa tidak kau lanjut? Tanya waktu dalam sendu
kenapa tidak dikejar sampai mati? Sedang aroma amis darah
kental menjadi mimpi-malam sepi, pada penenggelaman khusyuk
lagu rindu, lagu dendam, lagu pengharapan, lagu kesepian, lagu kebencian
saling berekat jadi satu, seperti kopi-gula-air yang kau reguk-teguk
atau sengaja kerna bisikan dari sang biksu sepi nurani
di mana kau temui sambil memandang hukum
yang tersanding sama dengan jalan napas
atas kepengecutan pada sakit lapar-
dahaga yang dahulu tertaklukkan.

Dulu
pernah kau
memburu mimpi-mimpi
dalam heneng hening wening sepi
bertarung hebat di awang gemawang
melawan setan-setan jahanam
yang kau pelihara manja
sungguh, tiada pernah
Nyata menemukan
kekalahanmu
dulu

tegas
juga tegar
menelusupi diri di wengi
meski belulang terbungkus jadi badan
kau ganas melawan terjang
tegakkan panji perang
mencuri hari
hati.

Atau,
mudanya waktu
merapuhkanmu, hingga
kekalahan menjadi tumpukan batu
harta benda yang memberati diri ‘tuk mengasuh kalbu
mengasah tutur dalam nikmat heneng, lapar, pun memuji?
maka, diam sajalah, maka tersenyumlah, maka terimalah dan terima kasihlah.

Catatan Bulan Maret 2011