PREORDOPHALLUS

Budi Sp. Indrajati
http://phenomenologyinstitute.wordpress.com/

Perasaan merupakan salah satu potensi pengada bagi eksistensi manusia,melalui perasaan manusia memiliki penilaian (aksiologi) mengenai apa yang baik (good) ataupun yang buruk bagi dirinya (evil) sebagai landasan kontruksi bagi apa yang menurutnya adalah sebuah kenikmatan (kesenangan) ataupun suatu ketidaknikmatan (kebencian),kebencian (thanatos) ataupun kesenangan (eros) adalah identik dengan perasaan yang tak lepas dari hasrat manusia dalam menjadi (being) ataupun memiliki sesuatu (having) yang tak ada pada dirinya sebagai apa yang mesti atau tak mesti dicapainya,perasaan (afeksi) tak lepas dari penilaian dari perspektif perasaan itu sendiri yang kemudian menimbulkan hasrat untuk memiliki (sadoch) ataupun menjadi (masoch),hasrat manusia (human desiree) senantiasa dihadapkan pada paradoksikalitas yang kerap menimbulkan kecurigaan,kecemburuan serta kedengkian karena adanya ketidakmampuan dalam menjadi (anti katexis) ataupun memiliki (katexis) setiap segala apapun dengan kepenuhan (aktualisasi) dari yang lain (liyan) sebagai sebuah keunikan sendiri yang membedakan setiap apapun tak terkecuali manusia dengan dirinya atas yang lain.

Sebuah perbedaan (difference) kerap menjadi suatu ketidakhormatan bagi yang lain (unrespect) dan kerap menjadi sebuah kompetisi bagi peniadaan atas yang lain sebagai sebuah keunikan yang ditindas oleh hasrat untuk dominan (superior) bagi setiap apapun yang mampu dihadapinya ataupun dihancurkanya sebagai sebuah ciri dari ketidakseimbangan diri manusia (self) atas perbedaan atas yang lain,terutama karena adanya suatu subjektivitas (ego),subjektivitas tanpa memberikan keperdulian atas subjektivitas yang lain yang juga merupakan subjek sebagaimana dirinya sebagai manusia dengan segala eksistensi pada dirinya,banyak manusia bertanya pada dirinya sendiri dan manusia lain (the other) mengenai apa itu cinta (eros),banyak diantara mereka menjalani sebuah gladiasi percintaan (samskara) tanpa tiada habis memaknai arena Sisyphus serta mengartikan cinta itu sendiri sebagai dirinya.

Sebagaimana manusia dengan beragam keunikan (ideosinkretisitas),bahwa bagaimanapun juga cinta tergantung keunikan pada manusia itu sendiri,dengan kata lain definisi,makna atau arti dari cinta senantiasa mengalami perubahan (naif),sebagaimana ruang (sein) ataupun waktu (zeit) yang ikut memberikan pengaruh atas manusia,dengan kata lain cinta (aham) ada bukan karena suatu janji (commitment) atau kesetiaan,cinta (love) adalah sebuah rencana besar kodrati (grand narative) yang telah ada bahkan sebelum manusia memiliki keinginan untuk tahu atau memahaminya,bahwa pada awalnya cinta telah menjadikan manusia terjebak pada dosa asal (destiny) karena cinta menjadikan manusia ingin menjadi selayaknya Tuhan melalui kedengkian dan kecemburuan iblis (evil) serta dendamnya pada Tuhan (good) melalui pelampiasan dirinya atas manusia,perjalanan adanya cinta kemudian menjadi memiliki kadar ambisi untuk melampaui (beyond) apa yang sebenarnya telah tercukupi tanpa arti,makna ataupun definisi selain dirinya sendiri untuk dirinya dan dari dirinya di atas dirinya sendiri,keterkaitan (upadana) dengan Noam Chomsky,lalu beberapa manusia mengatakan bahwa seks lalu menjadi fungsional ketika cinta memaknainya sebagai sebuah kenikmatan intelektual (bliss) yang mesti dipertanggungjawabkan oleh Tuhan .

Maka apa yang disebut dengan cinta (psike) kemudian terikat pada kecemburuan (envy) dan dendam melalui bujuk rayu (seduction) dimana kebencian (hate) menjadi sebuah harapan yang menjebak pada suatu dekadensi (regresi),maka kemudian dikatakan sebagai suatu sebab bahwa tak ada hal lain untuk cinta selain dari cinta serta bagi keduanya (lust) sebagai satu (causa amoris),sebuah kesatuan yang membangun (eros) sekaligus menghancurkan (thanatos) bagi suatu kontruksi baru yang mengatasi kekurangan (sadoch) ataupun kelebihan (masoch) yang ada padanya dimana kehancuran (destruction) kerap menjadi sebuah pengorbanan (sacrifice) dari sebuah kebencian (hate),dendam,kekecewaan (discontents),adalah apa yang dikatakan Friedrich Nietzche,suatu tragedi kelahiran yang adalah juga sekaligus,sebagaimana dikatakan Eric Fromm adalah sebuah revolusi dari suatu harapan (hope) atau bukan keduanya.

Dan bahwa sebuah pemenuhan arti baru atas dirinya (cinta) ada ketika kebencian (thanatos) terhancurkan melalui kata-kata (nousea) yang tak terucapkan oleh apa yang ada pada perasaan manusia (l’emotion) yang tak mencakup kebencian dirinya akan apapun selain cinta pada dirinya sendiri (narsissus) sebagai manusia yang senantiasa dihadapkan pada ketegasan konsekwen untuk memilih sekaligus dari setiap dilema paradoksikalitas (pendulum) yang ada sebagai satu keputusan dari dirinya sendiri,suatu subjektivitas manusia atas perasaanya yang otonom,untuk dikenang sebagai sebuah empiritas (kenyataan) bahwa manusia tetap tak dapat lepas dari pikiran dirinya atas nama cintanya sebagai sebuah keseimbangan (equilibirial) yang diawali dari kebimbangan (floating),keresahan (anxs) yang membingungkan (netti-netti) dan bahkan kemarahan (anger) yang mencelakakan bahkan mematikan (envy),kematian karena cinta (todliebe) kemudian adalah sebuah ingatan (memora) yang tampan sama sekali,demikian Jean Baudrillard mengesampingkan Fredrich Nietzche,”Amor Fati!”,lalu dikatakan Carl Gustav Jung bahwa segalanya tak hanya menjadi sebuah harapan semata dari apa yang diharapkanya (passion),namun adalah suatu refleksi yang dimimpikan;sebuah representasi manusia atas dunianya sebagai kenekadan (keberanian) yang birahi bagi mereka yang pasrah untuk menjadi.

Kemudian kontruksi Tuhan sebagai lelaki (animus) menciptakan berbagai paham definisional patriarki terhadap seksualitas,seks dikatakan sebelum Michael Foucoult melalui Sigmund Freud mengenai libido kekuasaan (libidinal power) yang merupakan tranferensi (perpindahan fungsi asali libidinal) pada aras politik,hal ini terutama terjadi karena adanya kepuasaan (pleasure) yang dianggap lebih tinggi dari fungsi libidinal asali yang dapat berarti peniadaan atas aspek konfliktual (interobjektif) ataupun harmoni (intersubjektif) pada aras genderial,namun hal ini juga dapat terjadi ketika ketidakpuasan (kekecewaan) menjadi sebuah realitas (reality),pada medan matriarki peralihan fungsi libidinal terjadi pada lahan libido ekonomi (libidinal economy) ketimbang libido politik,peralihan libidinal perempuan (anima) pada umumnya merupakan sebuah pola perilaku konsumtif (simbolic exchange) sebagai peralihan fungsi libidinal asali (tranference) melalui pemilikan materi,sesuatu yang juga dapat menjadi barometer kekuasaan,selain sebuah aktivitas kekerasan lelaki (destruction) dalam menjadi bagi siapa atau apa yang memilikinya,suatu kepasrahan yang berarti (ahimsa) mungkin akan menang selain di India.

Tuhan seakan bersabda melalui Gabriel Marcel,”dia” mengatakan bahwa kemenjadian (being) maupun kepemilikan (nothing) pada akhirnya sama-sama merupakan otoritarian (tirani) bagi setiap kekosongan pikiran (shadow) ataupun perasaan manusia yang terkait pada hubungan antara (intermediare) dalam tubuh (sentripetalitas) dan di luar jiwa (sentrifugalitas),dimana pada puncaknya paradoksikalitas (dualitas) tiada lagi selain kesadaran kebutuhan libidinal manusia (self) atas arogansi,urbanitas ataupun alienasi (enfremdung) yang tiada lepas dari bujuk rayu (seduction) sebagai suatu iman yang buruk (bad faith) pada kedua arena gender baik sebagai petanda (signified) ataupun penanda (signifier),sebuah kematian aras semiologis bila kesetaraaan (equalitas) ada,atau sebuah kematian orgiastik (dionisian) ketika asketik (apollonian) meniadakan ego (anatta) lepas dari adanya objek (anaclitic) ataupun subjek (narsism) selain pencarian kompleksitas idola (idola complexu) yang pada umumnya masih mengacu pada Max Weber ataupun Sigmund Freud,mengenai tipe ideal (ideal tipe) ataupun kompleks Oedipus (Oedipus Complex),ketimbang Electra (Yin),penis (phallic) kemudian menjadi totem (theocide) dari berbagai ragam tabu agama dimana segala sesuatunya mesti kembali (arhat) dari berbagai peralihan libidinal (kopulasi),peniadaan fungsi alamiah kelamin oleh berbagai materi (matter envy) ataupun hasrat liyan (others desiree),kematian sesaat. bagi Tuhan orgiastik (subverse),kekalahan politik erektif (perverse),pertanyaan anomali untuk cinta,kesakitan Baudrillard!

Setiap tafsir mengenai kenaifan manusia karena kebenaran utama (ultimate truth) yang menjadikan adanya moralitas,etika dan nurani sebelum adanya iman atas agama adalah merupakan sejarah awal (ontic) bagi setiap fungsi agama,kebebasan mendahului iman,sebagaimana filsafat mendahului agama atau selayaknya kebudayaan (connaissance) mendahului peradaban (savoir),menjadikan manusia mencari setiap kemungkinan deterministik bagi kebebasan otonomi eksistensi dirinya sebagai subjek (ego),setiap gejala (aksiomatik) dinilai sebagai fenomena (sat) ketimbang sebab noumenal (psike),setiap nilai dihadapkan pada pembebasan yang kerap merupakan peralihan hasrat (libido) manusia karena sebuah kekecewaan ataupun keterbatasan manusia atas apapun sebagai kejahanaman dirinya (inferno),setiap apapun menyangkut pembahagiaan (eudomonialitas) kemudian dicari untuk direnungkan kembali baik sebagai esensi (faith) ataupun kebebasan (existence).

Sebuah rekontruksi bagi setiap penyimpangan,termasuk simbol (symbol) sebagai pelampiasan ataupun pelarian (tranferensi) hingga kemudian gaya bahasa (diksi) menentukan seberapa mampu seseorang dapat melakukan represi atas keliaran dirinya (savage) atas keberadaan dari yang bukan dirinya sebagai pencipta (A),pemelihara (U) serta penghancur “Sittlicheit” (M) ataupun sebuah “Habitus”,kekerasan simbolik (simbolic violence) adalah keberlanjutan dari sebagaimana apa yang dikatakan Eric Fromm sebagai anatomi kekerasan sebagai sebab keterbatasan manusia (human liminality) atas setiap determinasi pada dirinya,suatu kemelekatan (upadana),dimana konflik (khaos) dan kompromi (kosmos) menjadi satu,determinasi tertinggi kebebasan atas pengadaNya,diksi (gaya bahasa) kemudian menjadi sebuah identitas bagi manusia dalam menjalani kehidupan libidinalitas yang senantiasa ada pada dirinya sebagai sebuah kenyataan sejarah (historical reality) dari adanya Tuhan itu sendiri (pour soi),terutama jika kita mengutip Imanuel Kant,maka keunikan multiplisitas (kategorial) adalah merupakan sebuah disiplin ilmu yang imperatif yang tiada lepas dari hukum alam (natural law) pada manusia atau apapun,kecuali Tuhan.

Ordo Amor dan Metonimia dalam Kamasutra

Ordo Amor (weltbilden verstehen) identik dengan cinta manusia,ordo amor merupakan teori pengembangan dari paham Carl Gustav Jung mengenai cinta (love) yang kemudian dikembangkan kemudian hari oleh Schiller yang kemudian menyebut setiap aspek perasaan menyangkut cinta (amor),sayang (agape) ataupun juga kasih (pragma) sebagai ordo amoris (ordo amor) yang tada lepas dari sisi positif jiwa manusia (psike),sisi kegelapan (shadow) atau keburukan manusia (evil),sisi feminis (anima) dan maskulinitas (animus) serta kesadaran (self),mengaitkan cinta (amor) pada dimensi filsafat bahasa serta filsafat yang ada pada kebudayaan,terutama pada filsafat perenial.

Cinta kemudian dipahami tak lepas dari penempatan bahasa sebagai stimulus hasrat untuk memiliki ataupun menjadi,setiap apa yang ada potensi manusia adalah suatu instrumen rayuan (foreplay) bagi aras (tahapan) di atas cinta,metonimia adalah suatu perwujudan potensi setiap indra manusia sebagai sebuah media stimulan,metonimia adalah suatu sarana pendekatan (instrumental aproach) setiap apapun yang dapat digunakan sebagai sebuah bahasa (lange) bagi suatu tujuan yang lain menyangkut kemenjadian atau kepemilikan suatu subjek atas subjek lain,bahasa cinta adalah suatu bahasa aprodisiakis (stimulatif) bagi suatu proses ketinggian berikutnya dalam memberikan dekontruksionalitas (pembongkaran) atas nilai (value) ataupun makna cinta pada suatu hubungan intersubjektivitas (equality) yang ada untuk kebahagiaan (plasure) atas setiap struktur keberjenjangan cinta berkutnya sebagai sebuah proses yang mesti dijalani.

Kamasutra (kamasator) adalah sebuah metodologi bahasa cinta yang ada pada filsafat kebudayaan yang juga diacu oleh Aldous Huxley serta penganut filsafat perenial (keabadian) sebagai salah satu pendekatan stimulatif (perangsangan) yang menyangkut segala aspek teknis yang lebih menyangkut bagaimana subjek yang berpikir dapat memberikan sebuah respon bagi subjek yang merasa,sebagaimana subjek yang merasa dapat memberikan respon pada subjek lain untuk berpikir untuk menjalankan pola strukturalitas dari apa yang dapat dicerap oleh pikiran serta perasaan keduanya sebagai sebuah hasil pencernaan (hermenetik) dari suatu hubungan intersubjektif yang kemudian diharapkan untuk dapat dijiwai oleh penempatan tubuh sebagai media yang menegahi kesadaran ataupun ketidaksadaran untuk nikmat,suatu kenikmatan mendasar (basic pleasure) bagi jenjang lain adalah suatu tindakan halus (kama dan sutra) sebagai bahasa rasa,suatu titik tolak mendasar yang metonimik (berhasrat) dalam meraih sebuah tingkatan akhir dari cinta melalui pemberfungsian tubuh sebagai bahasa dimana pikiran (kognisi) serta perasaan (afeksi) menjadi dasar utama yang dominan yang memunculkan makna jiwa yang berada di luar kesadaran rasa ataupun pikiran selain pemenuhan tubuh (naluriah) yang alami untuk memiliki (Yang) ataupun menjadi (Yin).

Sebuah arena manusia dengan alamnya dimana kemudian Sigmund Freud menyebutnya sebagai kecemburuan atas penis (penis envy) ataupun seperti apa yang banyak dikatakan kaum feminis atas dosa Freud,adalah merupakan “vagina envy”,kamasutra sebagai bahasa stimulan menegahi setiap halangan untuk memmiliki meski hal ini tidak berarti menjadi,namun setidaknya jiwa manusia dapat mempersatukanya dalam sebuah awalan dari suatu penubuhan dimana tubuh kemudian menjadi sebuah simbol bagi pemenuhan hasrat monistik (monistic desiree) dari setiap pertentangan yang ada pada potensi eksistensial manusiawi yang alamiah,terutama naluri dirinya dalam memberikan stimulus (katexis) atapun memberikan sebuah respon yang kemudian mesti disadarinya sebagai sebuah kelemahan kesadaran atas cinta sebagai bahasa dimana hasrat memiliki tiada pernah menjadi atas suatu hubungan antar seks selain menjadi pada ketidaksadaran (unconsiousness) pada dualitas apapun untuk mencapai sebuah titik puncak monisitas manusiawi dari pikiran serta perasaan melalui bahasa tubuh (body as lange) yang mewakili setiap sisi aspektual dari perasaan,pikiran dan mungkin juga bagi jiwa manusia yang mau tak mau dihadapkan pada harmonisitas alamiah naluri dirinya atas alam,dimana manusia lain dan dirinya sendiri adalah sebuah proses bagi adanya berbagai jenjang lain menyangkut hubungan dirinya dengan yang liyan.

Ordo Agape dan Leksikalitas dalam Tao

Ordo Agape (weltarm erlebnis) identik dengan sayang manusia,adalah juga bagian dari pendekatan afeksional dari Carl Gustav Jung yang kemudian dikembangkan kemudian oleh Schiller,sayang (agape) berbeda dengan cinta (amor) yang terkait dengan kepentingan kenikmatan (shivam) atas tubuh serta ketertarikan (einfuhlung).dalam realitas yang ada fase ini pada umumnya adalah merupakan fase parentalitas,sebuah proses perkembangan lanjut setelah cinta berlanjut pada kedua kepemilikan ataupun kemenjadian pada sebuah legalitas institusi (pernikahan),meski mungkin hal ini tak melulu adalah merupakan suatu legitimasi institusi.

Kehadiran (presentasi) seorang anak atau lebih adalah sebuah metabahasa,sebuah perubahan makna ataupun nilai cinta sebagai sesuatu yang diharapkan memiliki kadar kenikmatan yang pada umumnya menjadi berubah ketika kehadiran seorang anak atau lebih menjadikan adanya pergeseran aras kepentigan intersubjektivitas dalam hubungan cinta menjadi suatu kompleksitas yang multisubjektif karena pada akhirnya cinta sebagai paradigma keberduaan akan menjadi sebuah distribusi yang tak mungkin ketika cinta tetap menjadi paradigma,perubahan kadar cinta menjadi sayang adalah sebuah proses kwalifikasi loncatan paradigmatik kontruksional.

Namun kadang adalah kemunduran ketika sayang yang telah terbangun paska kelahiran seorang anak atau lebih yang menjadikan adanya keluarga (family) mesti dihadapkan pada cinta yang lain (affair),meski kadang cinta mempersepsikan adanya kelengkapan keluarga setelah pernikahan kadang adalah merupakan sebuah kemunduran (decadence) atau bahkan adalah suatu tragedi,namun frase sayang memungkinkan adanya tragedi menjadi sebuah revolusi harapan dari sebuah harapan atas beberapa cinta yang gagal (false) melalui pelampiasan (tranferensi) sayang pada seorang anak,cinta (amorik) kemudian terbagi menjadi ketidakmungkinan dan bahkan perceraian,selain sayang (agapeik) yang kemudian berkembang menjadi kasih (pragmateik) ketika anak mesti melepaskan diri dari sebab hubungan cinta parentalitas,

Kasih (metta) pada akhirnya akan mengembalikan dirinya pada cinta (kama) untuk cinta yang lain dan demikian seterusnya bahwa cinta,sayang (upekha) dan kasih menjadi sebuah rotasi afeksional,pada akhirnya kita mesti kembali mengutip Sigmund Freud bahwa sayang kerap meniadakan aspek sksualitas (tubuh) adalah sebuah kenyataan bahwa naluri orang tua pada anak sama sekali dapat menggantikan fungsi ketidakpemilikan atas kelamin yang lain atau bahkan dirinya sendiri,sayang telah menggeser makna cinta yang pada dasarnya hanya sebatas nilai (nalar) ketika sayang (rasa) belum hadir menjadi makna atas cinta,maka kehadiran roh atas keduanya (kasih) adalah ketidakmungkinan dimana kenikmatan (plasure) hanya sebatas naluri dasar semata yang senantiasa terdapat pada aras ketiganya yaitu,cinta sayang dan kasih (pragma).

Matinya cinta (allegoria) adalah sebuah ketiadaan metonimia (demetonimia) menuju yang lain,keseimbangan ataupun dualitas (biner oposition),yang adalah leksikalitas (tekstualitas),yang telak dalam memposisikan sayang (agape) sebagai intermediasi (intermediare) yang menengahi tubuh nalar (cinta) dengan perasaan roh (kasih),sebuah perpaduan antara cinta dan kasih,yang adalah juga perpaduan antara tubuh (matter) ataupun juga roh (spirit) sebagai keseimbangan (equilibirium),perasaan (emotion) dengan pikiran (raison),kehidupan yang seimbang dalam ordo agape (agapeik) adalah sekedar sebuah penetrasi (being or having),sesuatu yang kerap mesti menjadi (masoch) ataupun sesuatu yang kerap mesti memiliki (sadoch),sebuah distingsi atas setiap apa yang nikmat (dionisian) sebagai apa yang tak nikmat (apollonian) ataupun sebaliknya,sebuah penjarakan subjek (conterpleasure) atas ketertarikan (piti) sebagai sesuatu yang melekat (upadana) bahkan pada kasih (roh) itu sendiri adalah sebagai kedukaan (pain) yang dihayati sebagai sebuah syukur agung nan orgiastik (amor fati).

Bahwa kemudian dapat dikatakan pada banyak manusia,dimana saatnya keseimbangan (tao) adalah sebuah penetrasi (sadochmasokisitas),sebuah frase kedua setelah apa yang dikatakan Jaqques Lacan sebagai “mirror stage” (fort/da games),sebuah intersubjektivitas bagi keberadaan yang lain di luar intersubjektivitas amorik yang bukan berarti persetubuhan parentalitas dengan anaknya ataupun dengan yang lain dalam trahnya (incest),selain dirinya sebagai hasil dari kompleksitas Electra (vagina envy) ataupun Oedipus (oedipality),yang adalah semestinya merupakan tipe idealitas Weberian (idola tipus) yang tiada lepas dari multiplisitas legitimasi atas perasaan subjektif bagi yang lain serta juga di atas yang lain yang menyangkut ketiganya pada aras potensialitas eksistensi manusia kebanyakan sebagai sebuah kedirian nan otonom bagi yang lain,dari yang lain,untuk yang lain dan atas yang lain,suatu pelampauan bagi apa yang mesti diatasi ataupun dilampaui melalui suatu otoritas otonom subjektivitas manusia (beyonisitic) dalam keseimbangan dirinya sebagai sebuah usaha rasionalitas manusia (equatic) dalam memaknai dirinya sendiri sebagai nilai bagi kenikmatan yang lain dan bukan dirinya semata sebagai suatu otentisditas (hakiki) yang original dan juga adalah asali adanya.

Ordo Pragma dan Metafora dalam Tantra

Ordo Pragma (weltloss eklaren) identik dengan kasih manusia yang adalah metafora (kias) yang kerap diidentikan bahwa Tuhan adalah kasih,filsafat yang identik dengan pikiran (tantra) adalah apa yang telah didapat sebelumnya pada aliran filsafat timur,apa yang merupakan titik berat pada rasionalitas manusia adalah hanya sebagian ataupun salah satu aliran (mazhab) filsafat timur semata,dimana kebijaksanaan tak hanya diraih dari pikiran (tantra),perasaan (mantra),tubuh (shakta) ataupun shakti (jiwa),kesadaran manusia atas kasih adalah sebuah sebab dari adanya cinta (amor) ataupun sayang (agape),kasih (pragma) adalah sebagaimana cinta ataupun sayang adalah tiada lepas dari sisi baik (good) ataupun buruk manusia (evil),naluri manusia untuk kehidupan (eros) ataupun kematian (thanatos),setelah Sigmund Freud,kemudian juga dibahas oleh Eric Fromm sebagai “necrophilia” ataupun hidrophilia” yang dalam mitologi Yunani (Greek mitology) identik dengan eksistensi (l’existence) kaum apollonian (asketisisme) dan dionisian (orgiastik).

Cinta,sayang atau kasih adalah kematian (kehancuran) bilamana tak didasari oleh adanya “sittilcheit” atau adalah suatu “habitus”,demikian diungkapkan oleh Pierre Bourdieu,ketidaknikmatan (kekecewaan) atas ketiganya adalah sebuah pelampiasan akan yang lain (others) ataupun juga sebuah keterbatasan represional (penekanan) manusia atas libidinalitas dirinya,detak jatung naluriah (heartbeat instink) yang responsif (antikatexis) ataupun sebaliknya,yang juga adalah sebuah permainan kehidupan (pendulum),ibarat permainan yoyo (yoyo games),kemenjadian (da) ataupun kepemilikan (fort),dimana dalam filsafat Jawa (philosophy of Java),terutama Suryomentaraman hal semacam ini identik dengan “mulur (nothingless) ataupun mungkret (beingless)” pada kehidupan manusia,apa yang pernah dikatakan Suryomentaraman adalah juga dapat merupakan perpindahan terus-menerus (trans-instinktual) dualitas (oposisi biner) dari “eros” ke “thanatos” atau sebaliknya sebagai suatu tautologi Horkheimer (respon) ataupun sebuah absurditas Albert Camus (stimulus),hingga suatu kondisi asketik (anakletic) ataupun orgiastik (narsism) menjadi suatu pilihan bagi suatu “ideal tipe” diantara keputusan dilematik nan adil atas patologi (sindroma) Oedipus dengan Electra,sebuah konflik genderial (envy) yang menjadi awal kausalitatif (korespondensial) dari kehidupan (masoch) sekaligus kematian (necrophilia) sebagai kenyataan untuk memiliki serta harapan untuk menjadi.

Apa yang disebut dengan “tantra” adalah sebuah dominasi pikiran sebagai kontruksi paradigma kontemplasi (meditasi),pikiran hanyalah sebatas fenomena dari apa yang senantiasa hadir pada dirinya (pour soi),suatu “implosi” yang mendatangkan “eksplosi” sebagai tandingan (counter) karena sebab (noumena),pikiran penghenti dan pengatur kepentingan manusia akan ketiganya,sebuah aras kebebasan untuk kematian,kembali dari kematian ataupun suatu kehidupan yang lain atas nama kebebasan manusia atas pikiran (cogitans) dinnya (nibbana tantra),dalam kontruksionalitas Eric Fromm,hal tersebut adalah merupakan suatu arena pelarian manusia (XTC) atas kebebasan dirinya akan pikiran menuju kesadaran (pattisandhivinana) yang melampaui apapun untuk sebuah kebebasan puncak (parinibbana) yang kemudian dilambangkan dengan titik puncak terakhir dari tujuh keajaiban dunia (sloth) sebagai juga dapat dikatakan mewakili salah satu simbol (sign) dari tujuh dosa maut Dantean pada “Commedia Divina”.

Kemudian pada akhirnya dapat dkatakan bahwa cinta identik (lust) dengan neraka kamadatu (inferno),aras keduniaan (mundan) yang berupa (purgatoty) adalah arupadatu (mettabhavana) sebagai kasih (pragma) yang merupakan aras ketinggian perenungan bijaksana (bhavana) menuju kebijaksanaan (sophism)),melalui rasionalitas manusia (tantra) untuk menuju surga kebijaksanaan tertinggi (vipassana bhavana) melalui kesadaran dirinya akan sebuah kebebasan dari setiap kemelekatan kehidupan (gluttony) akan cinta (celestrialitas),sayang (intermediare) ataupun adalah juga transendensi pada kasih (celestrialitas),sebuah tiga dimensi medan waktu (kala) atau ruang (pada) Herbert Marcuse,dulu (kau) ,kini (aku) atau nanti (kita) sebagai pengatasan ataupun adalah mungkin juga suatu pelampauan dari cinta Nietzche (meditasi nirwaktu),dari sayang Feurbach (dialektika kontemplatif),atau adalah mungkin juga dari seorang Sidharta Gautama (Budhism) melalui alur “jhanabhavana” sebagai “metta” ataupun pragma (kasih) menuju apa yang kerap diungkap sebagai nirvana (perenialitas).

Ordo Pendulum dan Cetana Mundi

Kemudian Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa dunia (mundi) adalah representasi dari sebuah kehendak (cetana),sebuah kehendak (will) mengatasi kebingungan ketika ketidakberkehendakan (unwill) mesti dilampaui,sebab ketidakberkehendakan (acetana) pada akhirnya juga merupakan sebuah kehendak,maka hendaknya sebuah kehendak dapat diputuskan sebelum ketidakberkehendakan menjadi kehendak yang terlambat disadari sebagai sebuah keputusan (ketegasan),cinta (amor),sayang (agape) ataupun juga kasih (pragma),pada akhirnya kemudian kerap dihadapkan pada kebimbangan sebagaimana dinamika pendulum yang mengkondisikan subjek statis dalam ketidaksadaran yang melambatkan ketegasan untuk ini atau untuk itu,keraguan (kebimbangan) atas ketiganya untuk konsekwen pada ketegasan (keputusan),mesti dihadapkan pada tiga ketegasan pada medan ketiga-tiganya,terutama pada apa yang disebutkan Schiller sebagai ordo amoris (ordo amor),sebuah kehendak untuk tegas untuk melampaui keterlambatan yang membimbangkan,ataupun keraguan yang menghambat manusia untuk ada,adapun sebuah kehendak atas ketiga ordo: amorik (kama),agapeik (rupa) dan pragmateik (arupa) adalah yaitu:

1. Kehendak (wil) untuk mengikuti cinta (amorik) pada pendulum (weltbilden pendulum),pelarutan baur melalui proses berkepanjangan yang identik dengan filsafat Oliver North Whitehead tentang proses manusia sebagai proses yang terkait dengan proses lain,kehupan (kosmik) kemudian menjadi sebuah cermin bagi diri (mirror stage) sebagai “aku”.

2. Kehendak (will) melepaskani sayang (agapeik) pada pendulum (weltloos pendulum) pendulum):kebersiapan untuk kehilangan,untuk mengadakan ketiadaan (nothingless),sebuah kekosongan (emptyness),ketakutan (horror),kekagetan (shock) ketidakadaan Tuhan,sekaligus kejatuhan hati,kekhawatiran (teror),,suatu keterkaitan melekat dengan filsafat Jean Paul Sartre,antara ada atau tiada,ataupun Jaqques Lacan melalui “Fort/Da Games”.,memiliki teror (kekhawatiran),menjadi horor (ketakutan) adalah “Being and Nothingless” yang mesti dilampaui bukan diatasi mes.kipun kematian manusia atau apapun

3. Kehendak (cetana) untuk mengendalikan kasih (pragmateik) pada pendulum (weltarm pendulum):penguasaan untuk memiliki ataupun perangkulan untuk dapat menjadi setiap apapun,adalah sebagaimana dikatakan Friedrich Nietzche. tentang “wil zur macth”,supremasi apapun melalui manusia unggul sebagai “idola tipus” yang diperoleh dari kesadaran antara kompleksitas Oedipus ataupun Electra sebagai penghentian kehiudupan manusia sebagai permainan “Yoyo di atas cermin”,peniadaan atau pengadaan “psike” ataupun “shadow” ataupun adalah juga pengadaan ataupun peniadaan “anima” atau “animus” sebagai “self”,pemutlakkan Ficthe ,sebuah representasi atas:”KAU”,

Maria Mancini ataupun juga Umberto Eco,seorang pria yang pernah menulis “In the Name of Rose” mengatakan bahwa manusia kerap dihadapkan pada suatu kebimbangan (floating) dalam memilih suatu jalan tengah (omnijektivitas) dari setiap dilema yang kerap hadir pada kehidupan dirinya pada suatu kondisi yang tak hanya paradoksal namun bahkan multiparadoksal,manusia kerap dihadapkan pada kebimbangan ataupun keraguan untuk memutuskan atau ini atau itu dalam setiap kenyataan yang kerap menghadapkan manusia pada dualitas pada dirinya untuk dilampaui melalui suatu keberputusan yang tegas dari dirinya dimana manusia kemudian mesti dihadapkan untuk memutuskan sekaligus dua hal sekaligus sebagai satu,Gabriel Marcel mengatakan bahwa manusia semestinya dapat senantiasa memutuskan dua paradoksikalitas sekaligus sebagai keputusan monistik pada dirinya,sehingga sebuah cara mengatasi dualitas (paradoksikalitas) mesti melampaui setiap gejala dilematisasi yang ada pada ruang lingkup manusia,kebimbangan ataupun keraguan yang membingungkan untuk tak dapat memutuskan sekaligus sebagaimana yang dkatakan Gabriel Marcel adalah sebuah kondisi yang dikatakan Umberto Eco sebagai “Foucoult Pendulum”,sebuah bimbang diantara atau itu atau ini (netti-netti) adalah bukan apapun,selain adalah “Cetana” semata.

Sumber: http://phenomenologyinstitute.wordpress.com/2009/08/15/preordophallus/