balipost.co.id
Sampit
di sampit,
orang-orang pernah merayakan
pikiran sempit,
kota yang lapang menjadi sempit
ketika kudatang kudengar suara enggang
menjauh di bukit-bukit,
jauh di sebalik hamparan sawit
lengang mengapung di ladang tambang,
lengang mengepung
pikiran dengan jelaga hitam kenangan
: parenggean, pasar terbakar,
kuburan raya di batas kota
hingga pelabuhan sungai mentaya
belum seluas cakrawala,
belum sebatas lupa
Pulang Pisau
pulang pisau,
tanah gambut sejuta hektar, bertahun tidur
terlantar; jembatan rawa tumbang nusa
ujungnya menghunus kota
dan kampung-kampung
merana; seberangkan kita ke tempat asing
peta kelana
langit merah saga, cakrawala kuning telur
pecah dierami sayap enggang, letih pulang
waktu mengulur; api dan asap kini
menari; mengepung huma dan lanting
di air dan lumpur kuning
– kuning telur cakrawala…
lalu karet dan sawit berjuta hektar bangkit
di hamparan tanah hitam bekas
terbakar; orang-orang ingin pulang
tapi tajam pisau kenyataan mengiris mimpi
menikam harapan, kandas hingga ke tulang!
kini ke mana mereka pulang
selain ke pisau;
dua patah kata pegangan kita
di kota
dan kampung-kampung yang merana.
***
