Rumah

Asarpin

Rumahku dari unggun timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak
–Chairil Anwar, Rumahku

Apa sebetulnya rumah itu sehingga Chairil menyebut sajaknya sebagai rumahnya. Kita tak mungkin bertanya kepadanya karena ia telah lama tiada, bahkan ketika ia masih ada pun bisa jadi kita takkan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tapi tentu saja ada alasan mendasar mengapa rumah dipakai sebagai metafor dalam sajak yang amat terkenal dan sudah sering dikutip itu.

Satu kemungkinan dari kemungkinan tak terhingga, rumah adalah ”pusat eksistensi”. Ini kalau kita menggunakan kacamata eksistensialisme atau sekurang-kurangnya, fenomenologi. Konon sejak bumi ini tak lagi menjadi pusat universum dan tak ada negara yang bisa menganggap dirinya sebagai pusat dunia, maka hanya tinggal satu pusat dalam dunia luas ini: rumah.

Kata-kata itu bukan dari saya, tapi dari M.A.W. Brouwer, kolumnis favorit saya. Dalam bukunya, Psikologi Fenomenologis, ada satu bahasan mengenai rumah kediaman, yang menurut saya gagasan di dalamnya banyak yang menarik. Ia menyebut rumah sebagai unsur yang memberi kemungkinan untuk dinamika dasar dari eksistensi manusia, yaitu pergi dan kembali. Pergi artinya masuk hal lain, atau asing. Kembali artinya pulang ke dalam hal yang dialami sebagai milik kita sendiri. Milik itu ialah tempat-diam. Bertempat-diam bukan hal yang terjadi secara otomatis. Mempunyai rumah belum berarti ada pusat yang menarik waktu kita pulang. Heidegger telah mengamati bahwa manusia harus belajar bagaimana rumah bisa menjadi habitat. Habitat, sebagai fenomena, amat sulit dilukiskan. Ia lebih sebagai suatu konstitusi dari suatu hal di luar manusia. Kita mesti menciptakan habitat, suatu tempat di mana kita bisa berakar dalam geworfenheit eksistensi manusia.

Pergi, sebagai perjalanan masuk ke dunia asing, sejalan dengan esensi alam menurut orang eksistensialis; yaitu mengandung ketakutan, cemas, retak. Alhasil: suatu situasi dari orang yang berada dalam hal asing, homo viator, transenden selalu di luar dirinya. Menemukan habitat, karena itu, berarti menemukan diri sendiri, atau berada pada diri sendiri, mendiami badan, mendiami rumah. Habitat atau tempat-diam, ialah tempat di mana kita berakar, di mana ada perlindungan dan keamanan.

Filsuf Prancis yang mati muda, Bachelard (pernah menulis buku tentang puisi ruang), menggunakan istilah ”sarang” untuk menyebut rumah. Di negeri kita, kata sarang lebih sering dipakai untuk menyebut kandang burung, atau tempat buruk melahirkan dan menyusui anaknya. Burung membuat sarang di tempat yang dirasakanya aman. Demikian pula manusia mendirikan rumah memilih tempat yang aman, bahkan jika masih diragukan keamanan dan bakal kenyamananya, dibuatlah sesajen atau dibacakan mantra dan doa agar aman dan terasa nyaman bagi penghuninya. Tapi manusia modern dalam zaman sekularisasi, kata Brouwer, mendirikan rumah dengan mengabaikan fungsi sakral, hingga rumah yang dibangun lebih menyerupai Corbusier, rumah mesin.

Ada satu cerita dari Jalaluddin Rumi tentang seekor burung, yang dikisahkan-ulang oleh Annemarie Schimmel dalam bukunya, Engkaulah Angin Akulah Api. Burung itu terbang tinggi dan jauh hingga mengalami banyak rintangan. Suatu hari ia terperangkap oleh seorang perempuan tua yang kaya raya, dan hampir saja melupakan rumahnya. Tapi perlahan-lahan dia mulai ingat asalnya, dan akhirnya ia mendengar suara beduk yang menyerunya supaya kembali. Sejak itu ia terbang meninggalkan negeri asing.

Mengomentari kisah itu, Rumi berkata: “Mana mungkin burung cantik itu tidak terbang pulang ketika diseru suara beduk dengan kata-kata irji’i (Kembalilah!). Setelah mengalami banyak kesulitan, burung cantik itu setidak-tidaknya menjadi lambang nafs muthma ‘innah (jiwa yang damai) yang dipanggil supaya pulang oleh Penciptanya”.

Dengan cara yang mengharukan Maulana Rumi mengingatkan makna orang-orang mudik dari kota ke desa agar mendapatkan kembali rumah-jiwanya, tempat-diam-nya, yang tentram. Itulah mengapa rumah menjadi perlu, karena ia bagian dari degup hidup, menjadi tempat kelahiran kembali, bahkan menjadi remedi bagi mereka yang senantiasa resah dan gelisah.

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedung lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah kemana
(Chairil Anwar)

__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/