Menjadi Marxian Sejati, Menjadi Sejatinya Akar Rumput

M.D. Atmaja

Ini adalah sebuah kenangan atas hebatnya perhelatan pemikiran kiri di negara yang pernah membantai habis manusia-manusia berpaham merah gerakan dibawah naungan dewa komunis. Sistem pemerintahan yang diyakini dapat membawa kebaikan universal bagi manusia lewat dogma “sama rata sama rasa” yang menurut saya tidak hanya mengarah pada nilai ekonomi belaka. Bagi saya, “sama rata sama rasa” lebih pada nilai untuk saling berbagi hidup, saling berdampingan untuk mengisi setiap kekosongan, berlaku dalam dataran manusia sosial yang saling memperdulikan.

Konsep penggambaran ideal kehidupan manusia humanis, yang di sana dapat kita temukan kepedulian sosial, untuk ikut merasakan penderitaan orang lain. Jelas, konsep ini berbeda jauh dari individualitas yang ditawarkan kehidupan egoisme sistem nilai yang diukur dari segi keuntungan materi. Skematisasi masyarakat humanis adalah masyarakat yang lebih mengedepankan nilai humanisme sebagai manusia untuk saling tolong menolong tanpa memperhitungkan keuntungan material. Pun, masyarakat humanis tidak akan mempermasalahkan aspek keuntungan materi itu. Tujuan terbesar yaitu demi terciptanya masyarakat sosialis yang mana, kepentingan seluruh umat manusia lebih utama daripada kepentingan pribadi.

Konsep hidup dari seorang Marxian yang pernah saya kenal jauh lebih ekstrim ketika dia mengembangkan ideologi ke ranah praktek, yaitu pada keseluruhan kehidupan pribadinya. Menjadi Marxian tidak hanya berbatas pada pola pikir mengenai sosialisme dalam gerakan-gerakan politik. Konsep sosialisme Marxis bisa dijalankan tanpa adanya tendensi politis mengenai tujuan akan kekuasaan. Bahkan tidak ada pemikiran untuk mencapai kekuasaan, akantetapi lebih mengedepankan pada penerapan teori ke dunia praktek.

Penerapan kehidupan sosialisme dalam kehidupan sehari-hari merupakan langkah nyata, bahwa sosialisme tidak sebatas pada ideologi perjuangan kaum tertindas untuk mencapai kemaslahatan bersama. Ini bisa menjadi ruh perjuangan, meskipun tidak harus bersinggungan dengan kekuasaan dan revolusi praksis. Bahkan, gerakan dalam aplikasi di kehidupan sehari-hari dapat menangkis semua tuduhan buruk mengenai sosialisme. Bahwa sosialisme murni sebagai gerakan kemanusiaan yang tidak memiliki kepentingan kekuasaan, yang justru melahirkan kebobrokan sistem yang baru. Sosialisme tidak perlu memasuki dunia perpolitikan, cukup menjadi jalan hidup keseharian.

Berada di kehidupan akar rumput untuk menerapkan ideologi menjadi pilihan bagi para Marxian. Sebab, ideologi tidak terbatas pada kata, tentang mimpi indah dalam revolusi proletar yang teramat jauh dari realisasi. Impian mengenai revolusi proletar itu menjadi seperti bunga tidur yang layu setelah orang itu terbangun. Namun dengan menjadi sejatinya akar rumput, dia bisa memberikan contoh tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia, penuh kemanusiaan.

Penerapan metodologi dalam kehidupan realitas, sebagai satu aspek utama dalam bagi bertumbuh kembangnya perjuangan. Kepedulian bukan terletak pada retorika mengenai perjuangan kelas, melawan penindasan, namun lebih pada sikap nyata untuk mewujudkan masyarakat yang humanis dalam lingkup terkecil, yaitu dirinya sendiri. Ideologi menjadi jalan hidup yang nyata, contoh untuk ditiru oleh mereka yang merasakan kebermanfaatan dari sistem sosial kehidupan manusia. Bahwa menjadi Marxian yang sejati, adalah dengan menjadi sejatinya akar rumput. Manusia kecil dengan mimpi besar dan diselesaikan dalam tahapan-tahapan kecil yang berkelanjutan. Akhirnya, sampai juga ke sana.

StudioSDS – Bantul, April 2011
Sumber: Jurnal Biro Khusus – SSI