Overture 1812 Tsjaikovski dan Revolusi di Surabaya

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/05/overture-1812-of-tsjaikovski-and-revolution-in-surabaya/

Bahasa musik ialah nada universal bagi jiwa umat manusia dan puisi dapat dikatakan anak turunnya. Alunan musik mampu memecahkan keheningan komunikasi seperti batu menjelma tuwung kencana untuk kesunyian lara alam semesta. Kesenyapan membentuk lagu merdu serta barangkali kata-kata menyempurnakannya, mewujud kerangka sejarah hingga peradaban sebagai bunga-bunganya.

Komposisi musik karya Tsjaikovski (1840-1893) radak mendekati racikan kawannya Moussorgsky; mengacaukan langgam klasik atau diriku salut cara pengendaliannya. Memang kelompok komponis “The Five” mempunyai kemampuan masing-masing di dalam menegakkan panji-panji Rusianis sejati, lebih meluas mental kelelakian menuai makna;

Ketampanan perangai, wibawa putusan, kecerdikan pengamatan pun hitungan-hitungan peduli menanggung resiko demi tercapainya cita-cita perjuangan, martabat kebangsaan. Ketangkasan manusiawi di dalam membela setiap tapal batas kekuasaan kesadaran hidup.

Dalam Overture 1812, lecutan-lecutan meriam diuntahkan. Lebih dekat aku bayangkan nyala api revolusi di surabaya 10 November 1945 yang diteriakkan lantang Bung Tomo. Dinaya kekuatan Inggris (Pasukan Sekutu) diuji, seperti sayatan pedih serdadu Napoleon di Moskow, yang digambarkan pengamat musik J. Van Ackere.

Hentakan berat tak menyiutkan nyali hati suci yang dilambari darah ketaatan, berderap maju inginkan kejayaan. Merangsek dengan pelbagai keampuhan direstui nenek moyang, yang sudah menyatukan Tanah Air Tuhan dalam setiap tingkap peribadatan, anugerah tidak boleh dilupakan, apalagi dikorup para bajingan.

Sejarah terpahat atas tangan-tangan cekatan, jemari siap keluarkan isi hati, meloloskan isi kepala, apa saja terkandung sebagai manusia berbudhi pekerti. Nafas perdamaian direbut ulang jikalau terancam kedudukannya;

bambu-bambu runcing menjadi saksi, debu-debu kesumat ditebar sampai mereka tuli, buta arah, mudah diringkus, terjebak siasat tempur gerilyawan.

Suara-suara memusari ubun-ubun pengertian putra para pewaris. Dan pada landasan telah ditentukan, bergelimpangan musuh-musuh tertimbun batu-batu kejahiliaan, dibanjiri darah durjananya sendiri.

Di sebalik itu dalam buku “The fighting Cock,” Lt. Kol. A.J.F. Doul, mengemukakan: “Rakyat Indonesia di Surabaya tidak memperhitungkan yang gugur; pada saat satu jatuh, yang lain maju ke depan… Senjata bren bersuara terus, tumpukan yang gugur diatas barikade meninggi, tetapi terus bertambah yang maju dari rakyat Indonesia, menaik diatas yang meninggal.” (Api Revolusi di Surabaya, terbitan Ksatrya Surabaya, cetakan pertama 1964, hal 29, karangan Dr. H. Roeslan Abdulgani).

Demikian juga lagu kebaktian oleh perasaan waswas digempur hebat di atas meneguhkan iman. Keyakinan lebih gemilang dari suatu musik yang dipatrikan demi nyala juang semangat perlawanan.

Ingatan derita anak, kerukunan bersaudara terpecah, kesantunan alam raya diburaikan penjajah, dinyatakan dalam kepalan tangan perkokoh persatuan, sodokan menghunjam jantung lawan, suara-suara keras saling menyemangati kawan-kawan seperjuangan.

Andaipun hidup belum berarti hari ini, esok awan-gemawan masih menaungi janji. Tangisan hanya sekejap, rintihan sekilas, air mata terhapus kibaran bendera negeri.

Sampailah setapak demi setapak, depa ke depa, merebut Tanah Air tercinta. Mayat-mayat lawan tumpang tindih, ada terbirit tunggang langgang cari letak sembunyi, ke gang-gang buntu, tempat mereka tak mungkin menyimpan nafas, kita lucuti alat-alat perangnya untuk mengepung peta-peta yang belum terkendali.

Perasaan cinta terdalamlah menerbitkan matahari pengorbanan dan musik Tsjaikovski memberi arah kepastian, memantabkan ketangguhan hati membimbing ke puncak kemenangan.

Mendengar sisi tertentu karya Tsjaikovski, terpancang apa yang dilontarkan sastrawan Shakespeare dalam “Shylock”: “Aku tak pernah gembira kalau mendengar musik yang bagus.” Dan Tsjaikovski merupakan salah satu komponis yang dikagumi sastrawan sekaligus filsuf Leo Tolstoy.

Yang mencipta menara-menara musik klasik tak lepas derita hidup kegagalan berulang, seperti kedangkalan awal dirinya pada tahun 1869, kala mendengungkan overture Romeo dan Julieta. Rasa malu besar mendorongnya meninggalkan Moskow untuk mengadakan perjalanan keliling Eropa, mengunjungi Prancis, Jerman, Austria, agar melupakan jauh sambil menimba pengalaman demi menutupi kepincangan temuan, sebelum menancapi keyakinan yang lebih dalam.

Di sini aku teringat alasan panitia Nobel Sastra yang tidak menerima karya-karya agung Leo Tolstoy, sebab sebagian dari tulisannya diidentifikasi merujuk konsep peperangan. Sementara di belahan berbeda dengan kaca mata lain, para penerima Nobel Perdamaian, malah yang menyalakan watak peperangan di muka bumi.

Sebagai penutup aku petik ungkapan Pyotr Ilyich Tchaikovsky saat menimba pengalaman di Amerika: “Sesungguhnya, tanpa musik akan membuat gila. Hanya karena cinta kepadanya (musik), kita berdua ingin hidup. Siapa tahu bahwa yang di langit tidak ada musik. Marilah kita manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya selama kita di sini!” (Dalam surat yang ditujukan kepada Senora von Meck).

16 Mei 2011, Lamongan, Jawa.