Peluru Olyrinson

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 1 Mei 2011

PELURU? Ya, betul. Empat belas barang tajam Olyrinson (baca: cerpen) telah keluar dari patrunnya, menyatu dalam Sebutir Peluru dalam Buku (Palagan Press, 2011). Ibarat peluru, kini cerpen-cerpen itu siap dilepaskan kembali untuk meneror pembaca.

Betapa tidak? Di samping hampir semuanya pernah memenangi lomba/sayembara penulisan cerpen (dari 14 cerpen, hanya 3 cerpen yang tidak memenangi lomba), oleh banyak pihak, cerpen-cerpen Olyrinson itu diakui memiliki sentuhan humanisme yang menusuk hati. Continue reading “Peluru Olyrinson”

Jiwa yang Diberkahi

(Tanggapan atas Puisi Puisi Nancy Meinintha Brahmana)
Beni Setia
Suara Karya, 7 Mei 2011

SEKITAR tiga tahun lalu, saya mendapat satu kumpulan cerpen unik dari seorang kawan. Sebuah Biola Tanda Cinta (tp, Surabaya, Maret, 2008). Antoloji bersama dengan dua belas cerpen dari dua belas penulis, di mana yang dua merupakan cerpen yang ditulis khusus untuk merayakan antoloji itu, sedang sepuluh cerpen lainnya telah dipublikasikan di majalah GAYa NUSANTA. Meskipun begitu: kesemuaan cerpen itu nyaris merupakan representasi rekaan yang bertolak dari pengalaman otentik eksistensialistik sebagai orang yang dimarjinalkan karena ketaknyamanan identitas, jiwa wanita dalam tubuh lelaki. Continue reading “Jiwa yang Diberkahi”

Selamat Datang, Jurnal Sajak!

Jay Am
Seputar Indonesia, 8 Mei 2011

PADA sebuah siang yang hangat di awal Mei ini,perhelatan sederhana dilangsungkan di tempat yang sederhana: Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin,Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di perpustakaan penting yang tengah mendapat sorotan lantaran mau ditutup karena pemerintah daerah tidak lagi menganggarkan dana pantas untuk pengelolaannya ini,Jurnal Sajakdan Jurnal Kritikdikenalkan kepada publik luas—istilah teknisnya diluncurkan atau launched dalam Inggris. Continue reading “Selamat Datang, Jurnal Sajak!”

Revitalisasi Hukum Adat, Mungkinkah?

Wahyu Sasongko *
Lampung Post, 14 Okt 2006

Hukum Adat dalam Tebaran Pemikiran. Penulis: H. Rizani Puspawidjaja, S.H. Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2006. 175 halaman

MESKIPUN Indonesia telah merdeka, masih terasa belum sungguh-sungguh merdeka. Setidaknya, dalam bidang hukum. Betapa tidak, sebagai negara merdeka, Indonesia seharusnya memiliki sistem dan tata hukum nasional yang berwatak kebangsaan. Continue reading “Revitalisasi Hukum Adat, Mungkinkah?”

Ah… Ajip Rosidi

Martin Aleida *
Pikiran Rakyat, 3 Maret 2007

Saya mengenal Ajip Rosidi sebagai sastrawan yang baik hati. Atau kalau ingin menggambarkannya dengan kata-kata yang mewah, maka dia adalah seorang budayawan yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Ketika sastrawan I.S. Poeradisastra (nama lain dari Boejoeng Saleh) dibebaskan, setelah menjalani penahanan sewenang-wenang tanpa alasan selama belasan tahun, termasuk dibuang ke Buru, Ajip memberikan rumah ekstranya di daerah Pasar Minggu untuk dihuni lawan politik namun teman sedaerahnya itu. Continue reading “Ah… Ajip Rosidi”

Bahasa »