Peraduan Tamansari

M.D. Atmaja

Hujan rintik, bertarian di atas kolam para raja. Mendendang lagu, bertalu kusuma rindu dari perjalanan panjang yang tidak pernah bisa kumengerti. Ketika dalam babak yang sakit aku bertemu kembang di tengah sungai waktu, ketika bermimpi tentang cinta dan kematian.

Entah gejolak yang seperti apa, mendorongku saat itu. Rajah agung melingkari jari manis, terpotong dalam kasak-kusuk pikiran. Memang, ada yang mengatakan manusia tempat bertempat salah, manusia bertempat luput, dosa dan seikat kata pembela untuk dosa.

Kenanganku yang jauh teresapi, membuat masuk ke dalam diri. Berselendang marah dan dendam, bertameng kerinduan dan berkeris angkara murka. Aku masuk ke sana, kutemukan diri telanjang. Menatapku bengis.

“Mau apa?”

“Tidak!” aku menggeleng, mencari selisik lain sedang kau mengintip guratan cerita raja dan permaisuri bergumul di peraduan tamansari.

“Masih ingat cerita senja?” tanyaku yang telanjang. “Saat kau membawa lentera, menjadi buta. Lentera itu kau lemparkan sendiri di tugu membatu. Membakar semuanya, termasuk rumput yang dahulu engkau jaga.”

“Tidak!” aku menggeleng, tidak boleh ku kenang pembantaian itu. Terlalu sakit, meski menjadi keburaman kertas kenangan yang tidak sanggup terlupakan.

“Masih ingat cerita pagi?” tanyaku lagi, masih yang telanjang, “Kau terbaring lemas di tanah gersang sampai sebongkah tanah yang kau puja menghidupkan. Sedang di siang harinya, kau tusuk tikam penuh dendam atas apa yang telah engkau tanam sendiri. Berhala itu kau bantai sampai mengalir tidak terbendung.”

“Tidak!” tetap aku menggeleng, tidak usah diingat lagi. “Gelas kaca yang pecah terlanjur jatuh,” aku yang telanjang tersenyum sinis.

“Tidak ingat perjalanan matahari?” tanyanya kembali, telanjang dalam senyum penuh tawa menghina. “Kau bersimpuh melupakan dendam dan kebencian, bersekutu dengan berhalamu menghancurkan kedengkian-kedengkian itu. Itu dulu. Sebelum matamu buta. Sebelum dunia ini gemerlapan di jantungmu.”

“Tidak!” telah aku lupakan hari-hari penuh lapar itu. Ketika perut terus bergenderang, memprotes diri yang tidak pandai memenuhi.

“Tidak? Telah engkau melupakan semua itu?”

“Semuanya? Bahkan bunga Semboja yang telah kau siram dengan pengetahuanmu sendiri?” tanyanya kembali, diriku yang telajang mendekat.

Tangan yang lunglai kurus kerontang berubah menjadi pedang gemerlapan. Terayun cantik membuai mata, sampai memenggal kepala. Kepala jatuh menggelinding, bisa ku saksikan sendiri. Hujan rintik bertarian di muka percik air tamansari. Pertamanan hatiku sendiri.

Dan di saat itu juga, kulihat anakku merangkak dalam senyum. Mendekati nisan, nisanku sendiri. Nisan bapaknya. Apa lagi yang tersisa? Tanyaku pelan, namun hanya tinggal nisan. Sampai anakku sendiri, digendong lelaki telanjang, diajak mengarungi malam dan menyongsong matahari pagi.

“Kita mencari ibumu. Matahari pagi yang telah dipersunting Bapakmu!” ucap lelaki telanjang itu, meninggalkan nisanku, meninggalkan tawa mengejek untukku.

Dalam sendiri, kunantikan matahari pagi. Di sana kusaksikan senyuman indah. Renyah tawa burung-burung, dan gemuruh air yang selalu kurindukan. Dan tubuhku yang telanjang, menari-nari sedang berperang.

StudioSDS – 16 Mei 2011