Sastra, Seks dan Moralitas Anak Bangsa

Lukman Asya*
Republika, 16 Sep 2007

POLEMIK tentang kebebasan berekspresi, agama dan moralitas selalu menarik. Begitu juga polemik yang disulut oleh dituduhkan Taufiq Ismail (TI) terhadap Fiksi Alat Kelamin (FAK), Mazhab Sastra Selangkangan (MSS), dan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), yang sejauh ini belum menemukan titik temu.

Menurut saya, pembacaan TI hendaknya disikapi terbuka dan bijaksana. Saya meyakini TI punya argumentasi kuat untuk itu, meskipun disampaikan dengan cara-cara seorang tua yang konservatif dan terkesan nyinyir. Intinya, TI memprihatini jagat “esek-esek” yang saat ini sudah pada tingkat membahayakan generasi muda, dan lebih berbahaya lagi ketika karya sastra ikut merayakannya.

Beberapa media massa cetak dan elektronik saat ini pun banyak mengabaikan sisi-sisi moralitas, dan seakan mendukung kebebasan seks yang sangat membahayakan pola pikir dan gaya hidup anak bangsa. Maka TI, selaku orang tua, mencoba bernasihat, meski kemudian dibantah oleh mereka yang ‘memberhalakan’ kebebasan berekspresi, termasuk ekspresi seks bebas. Bagaimanapun, karya-karya mereka yang berbau porno telah ikut melengkapi VCD dan situs-situs porno yang kini menjamur di internet, yang menurut TI merupakan bagian dari GSM.

Sebagai orang tua, TI hendak mengatakan bahwa karya-karya sastra seksual dapat mengganggu stabilitas moral anak bangsa yang semestinya membangun kebudayaannya dengan mengedepankan moral dan kemaslahatan bersama. Karya-karya yang secara detail menggambarkan tubuh dan seks memang tidak semestinya menjadi produk bangsa yang dikenal religius dan berfalsafahkan Pancasila ini. Karena itu, TI angkat bicara dan direspon oleh Hudan Hidayat, sehingga melebarlah persoalan sampai pada penghujatan terhadap komunitas (KUK) yang disinyalir sebagai penyebar virus sastra seks.

Ketika membicarakan seks dan erotisme, dan kemudian dikompori (diwacanakan) oleh media massa, maka seks menjadi teks yang memantik kegairahan siapapun untuk menanggapinya. Apalagi, kemudian, komite sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pun ikut merayakannya dengan mempertunjukkan sastra erotis melalui program bulanan Lampion Sastra-nya.

Di tengah situasi yang memprihatinkan itulah TI angkat bicara. Pada orasi budayanya di Taman Ismail Marzuki (TIM) tak lama setekah pergelaran sastra erotis itu, kita bisa melihat TI sebagai orang tua yang gelisah menyikapi kondisi zaman, masa ketika teknologi informasi seakan telah menjadi sarana penyebar racun kebebasan seks yang potensial memporakporandakan moralitas bangsa, dan ini seakan mendapat sokongan dari sementara sastrawan dan pengurus komite sastra DKJ.

Kenyataan pun menunjukkan bahwa televisi kita pun ikut memproduksi tayangan pemanja syahwat. Seks dan erotisme seakan dipaksakan untuk masuk dalam mindset kita dan mengatur gaya hidup kita. Siaran televisi yang memanjakan syahwat perlu dikurangi dan diimbangi tayangan-tayangan lain yang lebih bermanfaat, semisal nasib gadis miskin yang rela membanting tulang demi membayar utang orang tuanya, atau guru yang suka rela mengajar anak-anak gelandangan.

Dengan kegelisahannya itu, sesungguhnya TI hendak menunjukkan kecintaan terhadap anak bangsa di tengah kepungan media dan sajian internet yang begitu bebas membuka akses ke situs-situs porno yang mengarah pada gaya hidup serba bebas dan meminggirkan budaya Timur yang menjaga hubungan kasih sayang yang sakral dalam ruang transenden.

Lantas, apakah TI ingin memberangus karya-karya sastra yang bebas mengobral imaji seksual? Tentu, TI tidak punya kewenangan dan kekuasaan. Namun, sebagai penyair yang membaca kondisi yang tak sejalan dengan konsep moral dan estetikanya itu, adalah wajar dan bisa diterima, apapun pernyataan dan kritik TI terhadap sastra seks yang mendukung GSM itu. TI hanya khawatir dan mengingatkan kita bahwa kalau menulis utamakanlah kepentingan pencerahan masyarakat pembaca terlebih dahulu ketimbang kepentingan syahwat.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada awal masa kepemimpinannya, pun sempat mengkhawatirkan fenomena para penyanyi di televisi yang begitu biasa membuka dan mempertontonkan pusarnya kepada publik. Fenomena itu, menurut hemat Presiden, hanya akan menyeret bangsa ini ke jurang degradasi moral.

Saya mencoba mengarifi sikap TI, yang bersikap konservatif, dan mengkritik kehidupan sastra yang sebatas menyoal sensasi seks. TI berusaha menegaskan kembali sikap bersastranya, yang semoga berguna di kemudian hari sebagai filter bagi kebudayaan bangsa.

Pemanfaatan seks bisa perlu bisa pula tidak dalam konteks sosial dan budaya, dalam kehidupan ini. Rendra pernah menulis sajak Bersatulah Pelacur Kota Jakarta, sebagai sajak perlawanan yang membela hak-hak kemanusiaan kaum proletar. Begitu pun dengan Sajak SLA-nya yang mengkritisi sistem pendidikan kita.

Dalam sajak Rendra, erotisme tidak tampil secara vulgar, dan kemunculannya memang diperlukan. Namun, seks dan erotisme menjadi tidak perlu ketika ditulis hanya sekadar untuk mencari sensasi syahwati yang melupakan batas-batas moralitas bangsa. Apalagi, ketika seks dibela sebagai standar ekspresi estetik dengan argumentasi yang mentah dan mengada-ada.

Seorang sastrawan mantan santri, yang semoga saja masih Muslim, seringkali berdalih dan mengkoneksikan kerja estetikanya yang bermazhab selangkangan dengan suatu kitab seks yang ditulis oleh ulama besar, tanpa melihat konteks ditulisnya kitab itu. Bahkan, karena gegabah, ia terjebak untuk menyandarkan pola kerja ekspresi sastra seksnya terhadap kitab tersebut tanpa lebih jauh menelaahnya bahwa kitab tersebut sungguh di jaman sekarang menjadi kurang berguna.

Dalam konteks ini, nasionalisme budaya menjadi penting diwacanakan sebagai filter bagi kebudayaan dan keberbangsaan kita. Nasionalisme budaya tidak serta merta dianggap tak perlu hanya kerana ada penguasa yang secara kamuflatif memanfaatkannya sebagai politik bahasa dalam menjalankan hegemoni kekuasaanya dan melanggengkan keserakahannya. Makna nasionalisme budaya dalam konteks ini adalah kemaslahatan bagi bangsa dan generasi muda.

Marilah kita tetap merasa tabu dalam persoalan seks. Artinya, tidak menjadikan dan menajamkan seks sebagai fokus utama. Justru yang lebih penting adalah melawan kapitalisme. Dan, untuk melawan kapitalisme perlu langkah-langkah taktis dan strategis. Kapitalisme, dengan tangan kanan liberalisme, inilah yang membahayakan tatanan nasionalitas budaya kita. Kerja kapitalisme adalah menjajah dan mencekoki pola pikir anak bangsa dengan produk-produk budaya yang dapat menjauhkan kita dari nilai-nilai sosial, karena terlalu terpusat pada spirit kebebasan individual.

Saya membayangkan, ketika seks kembali menjadi tabu, maka permasalahan yang menyangkut umat –bukan sekedar menyangkut kamar individu– menjadi tak terabaikan. Butuh perhatian yang lebih serius terhadap persoalan nasionalisme budaya yang kian tergerus dan seringkali dikotori oleh kekuasaan yang hipokrit. Bangsa ini perlu dibebaskan dari imperialisme budaya yang menyeret masyarakat ke konsumtifme dan kebebasan tanpa batas.

* Lukman Asya, Penyair dan guru sastra
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/09/wacana-sastra-seks-dan-moralitas-anak.html