TAFSIR ATAS COVER MAJALAH TEMPO

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Mabes Polri memperkarakan majalah Tempo, edisi “Rekening Gendut Perwira Polisi.” Tuduhannya, Tempo menghina institusi Polri sebagaimana diatur Pasal 207 dan 208 KUHP (Kompas.com, 1 Juli 2010). Musababnya, cover majalah itu menggambarkan seseorang berseragam cokelat sedang menggiring tiga celengan babi berwarna pink dengan tali police line. “Penafsiran kami, personifikasi polisi bergaul dengan babi. Kalau itu sebut perwira menggiring babi, itu seolah-olah menggiring prajuritnya,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen (Pol) Edward Aritonang (30/6/2010). Dikatakan lagi, “Tidak ada itu dalam budaya kita celengan babi, yang ada ayam.”

Pemaknaan atas tafsir itu menjadikan cover Tempo masuk kategori penghinaan. Jika babi ditafsirkan sebagai prajurit, maka betul penyataan Kapolri, cover majalah itu menghina 400.000 anggota Polri, berikut keluarga, bahkan handai tolan, dan para sahabatnya. Jika tafsir itu dikaitkan dengan semboyan Polri sebagai pengayom masyarakat, tiga babi itu dapat pula ditafsirkan sebagai masyarakat bangsa ini.

Begitulah, ketika gambar atau simbol ditafsirkan, dan maknanya mengalami reproduksi tafsir, makna lain akan lahir dan berkembang seperti sebuah labirin. Dalam konteks itu, pemahaman tanda dan petanda dalam semiotika penting artinya untuk menyeleksi, mana tafsir berterima, mana yang tidak. Dalam semiotik (Ferdinand de Saussure) atau semiologi (Charles Sanders Pierce), tanda apa pun yang berada di luar bahasa, dapat ditafsirkan dan pemaknaannya bergantung pada wawasan dan pengalaman penafsir.

Meski begitu, ada tanda, gambar, simbol tertentu yang maknanya telah disepakati. Tafsir atas tanda atau simbol itu, harus sesuai dengan makna hasil kesepakatan. Sebut misalnya, lambang-lambang negara, rambu-rambu lalu lintas atau simbol kimia. Penafsir harus tunduk pada makna yang sudah menjadi konvensi, meski di sana ada peluang untuk menafsirkannya dengan makna lain.

Tanda atau gambar penanda toilet laki-laki dan perempuan, jika tak ada tulisan Men dan Women, digunakan gambar celana dan rok. Meskipun perempuan juga biasa memakai celana, dalam konteks itu, tafsir atas gambar celana harus dimaknai sebagai laki-laki. Di beberapa hotel di Yogya, dijumpai pula tanda lain dengan makna yang sama, yaitu gambar blangkon dan sanggul. Penandaan ini lebih tepat sasaran dibandingkan gambar celana dan rok. Blangkon dan sanggul mewakili secara tepat jenis kelamin (laki-laki dan perempuan).

***

Sampul Tempo bergambar seseorang berseragam cokelat dengan topi tertentu, tanda pangkat, tanda di kerah baju, sabuk besar hitam, selempang, dan kancing bundar besar. Tidak pelak lagi, itu uniform perwira polisi. Penafsiran ini maknanya berterima. Uniform Angkatan Darat atau angkatan lainnya, penandanya berbeda yang menunjukkan ciri khas masing-masing. Pemaknaan atas tafsir itu, juga menutup tafsir lain, sebab di sebelahnya ada tulisan: Perwira Polisi. Tetapi, perwira polisi tidak sama dengan institusi Polri. Jadi, harus dibedakan antara oknum (perwira) dan institusi (Polri).

Di sana digambarkan lagi: tangan polisi memegang sabuk hitam, disambung tiga police line menjerat tiga celengan babi. Dikatakan Wahyu Muryadi, Pemred Majalah Tempo, “Kami sama sekali tak ada niat menyamakan polisi dengan babi.” (1/7/2010). Mengapa polisi memaknai celengan babi sebagai penghinaan? Sesungguhnya masih mungkin ada tafsir lain. Meski begitu, agar pemaknaannya tidak melenceng, tafsirannya tetap harus mencantel teks (gambar cover). Dengan begitu, pemaknaan atas tafsir, punya argumen dan acuan.

Police line penanda batas lokasi tertentu yang ditentukan polisi untuk memisahkannya dengan lokasi sekitarnya. Ia berfungsi sebagai garis pengaman. Dalam konteks sampul Tempo, maknanya akan berbeda jika yang menjerat celengan babi itu rantai atau tali yang tak khas mengacu perangkat kepolisian. Adapun tiga celengan babi, meski di sebelahnya tertulis “Rekening Gendut” yang mengisyaratkan pemaknaan celengan babi, tafsir lain tetap dimungkinkan. Celengan, tempat menyimpan uang di rumah dan rekening adalah buku yang berkaitan dengan penyimpanan-pengambilan uang di bank. Jadi, celengan bersifat privat. Secara harafiah tidak tepat benar mewakili rekening bank yang bersifat publik.

Celengan berasal dari kata celeng (babi). Kaitannya dengan uang bermula dari tradisi masyarakat Tionghoa. Untuk menambah modal usaha, para pedagang Tionghoa sengaja menyimpan uang dalam tempat tertentu. Agar mereka mendapat berkah dan tabungannya menjadi kekayaan berlimpah, diperlukan simbol yang berkaitan dengan harta kekayaan. Di sinilah, babi menjadi pilihan. Dibuatlah tempat menyimpan uang berbentuk hewan babi.

Bagi masyarakat China, Jepang, dan Korea, babi simbol kekayaan dan keberuntungan. Siapa menyimpan patung babi atau memelihara hewan itu, diyakini bakal ditaburi kekayaan. Sawah yang dibenami tulang atau taring babi, dipercaya akan menghasilkan padi berlimpah. Keyakinan masyarakat Tionghoa di Indonesia juga demikian. Maka, tempat menyimpan uang yang bakal mendapat berkah, mesti berupa hewan babi. Ketelatenan mengumpulkan uang memperoleh legitimasi teologis.

Kebiasaan menyimpan uang itu kemudian diikuti penduduk. Bagi yang beragama Islam, tempat penyimpanan uang berbentuk babi tentu bermasalah, karena berkaitan juga dengan keyakinan agama. Oleh karena itu, dibuatlah tempat menyimpan uang berbentuk ayam, ikan, dan kucing. Ayam dan ikan, binatang yang digemari penduduk, sedang kucing, pada sebagian Muslim, dipercaya sebagai hewan yang disukai nabi. Tetapi, kata celengan (Sunda: cengcelengan) terlanjur melekat sebagai tempat menyimpan uang. Maka, tempat menyimpan uang berbentuk apa pun, tetap saja disebut celengan. Itulah asal-usul tempat menyimpan uang bernama celengan. Kata kodak (kamera), sasa (bumbu penyedap), indomie (mie instan), sejarahnya juga seperti itu. Malah, di Medan dan Pekanbaru, semua sepeda motor merk apa pun disebut honda. Itulah yang disebut perluasan makna.

***

Cover Tempo secara asosiatif maknanya jelas. Bahkan, dinyatakan eksplisit: “Rekening Gendut Perwira Polisi.” Jadi, pembaca tak perlu menafsir lagi, meski masih dimungkinkan tafsir lain. Dalam dunia sastra, masalahnya lebih rumit. Gustave Flaubert diajukan ke pengadilan, karena novelnya Madame Bovary dianggap menghina kaum bangsawan. Di Indonesia, H.B. Jassin pernah diadili lantaran majalah Sastra memuat cerpen Ki Panjikusmin, “Langit Makin Mendung”. Kasus serupa nyaris menimpa SN Ratmana atas cerpennya “Kubur”. Tetangganya tersinggung. Tetapi Ratmana tidak diajukan ke pengadilan. Ia hanya diminta “merevisi” cerpen itu. Maka lahirlah cerpen lain berjudul “Erata” yang bermakna ralat.

Dalam sejarahnya, memperkarakan sesuatu berdasarkan tafsir lemah, terbukti selalu gagal. Maka, dalam kasus cover Tempo, pihak kepolisian lebih baik coba membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran laporan majalah itu. Benar atau tidak benar laporan Tempo, tetap akan melambungkan citra Polri jauh lebih baik dibandingkan dengan memperkarakan sesuatu yang hasilnya akan sia-sia.

(Maman S Mahayana, Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan) ***