Demokratisasi Pasar

Ilham Khoiri
Kompas, 30 Des 2007

DUNIA sastra di Indonesia tahun 2007 diwarnai makin menguatnya pasar dan industri penerbitan. Sejumlah novel tercetak belasan kali dengan angka penjualan mencapai ratusan ribu eksemplar. Uniknya, pengarang karya sastra “pop” itu berasal dari luar lingkaran komunitas sastra “serius” yang biasa kita kenal.

Salah satu nama yang menyedot perhatian adalah Andrea Hirata. Tiga novelnya yang diterbitkan Bentang, Yogyakarta, mencapai rekor penjualan tinggi. Hingga akhir tahun 2007 ini, novel Laskar Pelangi (yang terbit pertama kali pada September 2005) sudah dicetak 15 kali dengan total sekitar 200.000 eksemplar. Sang Pemimpi (cetakan pertama Juli 2006) terjual sekitar 30.000 eksemplar, sedangkan Edensor (cetakan pertama Mei 2007) laku sekitar 15.000 eksemplar.

“Ketiga novel itu meledak, terutama pada pertengahan sampai akhir tahun 2007 ini. Total omzet (kotor)-nya mencapai sekitar Rp 4 miliar. Kini Laskar Pelangi sedang difilmkan dengan sutradara Riri Reza,” kata Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka.

Ketiga novel itu merupakan memoar perjalanan hidup Andrea sendiri, seorang anak buruh pabrik timah asal Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Laskar Pelangi adalah geng sejumlah siswa di kampung nelayan. Bersama satu kawannya, pemuda itu mengembara ke Jakarta, kuliah di Universitas Indonesia, lantas melanjutkan S-2 di Universite de Paris Sorbonne, Perancis.

Nama lain yang melejit, Habiburrahman El Shirazy. Novelnya, Ayat-ayat Cinta (cetakan pertama tahun 2005) kini sudah masuk cetakan ke-30 dengan total penjualan sekitar 300.000 eksemplar. Karya berikutnya, Ketika Cinta Bertasbih I (cetakan pertama awal 2007), terjual sekitar 80.000 eksemplar, dan Ketika Bertasbih II (cetakan pertama pertengahan 2007) terjual 50.000 eksemplar.

Ayat-ayat Cinta yang diterbitkan Penerbit Republika itu berpusat pada tokoh bernama Fahri, pemuda asal Indonesia yang kuliah agama Islam di Mesir. Pemuda itu mewakili sosok ideal kaum Muslim, kusuk menjalankan nilai-nilai agama sebagaimana tertera dalam teks Al Quran, bahkan ketika menjalani kisah cinta.

“Ayat-ayat Cinta juga diangkat ke layar lebar dengan sutradara Hanung Bramantyo,” kata Arif Budiman, Bagian Marketing Penerbit Republika.

Demokratisasi

Sebenarnya tahun 2007 ini diramaikan oleh sejumlah novel atau kumpulan cerpen lain, sebagian karya pengarang yang sudah cukup dikenal. Sebutlah beberapa di antaranya, Linguae (Seno Gumira Ajidarma), September (Yudhistira ANM Massardi), Janda dari Jirah (Cok Sawitri), Ada Seseorang di Kepalaku (Akmal Nasery Basral), Dunia di Kepala Alice (Ucu Agustini), Perantau (Gus TF Sakai), Sintren (Dianing Widya) Galigi (Gunawan Maryanto), dan Mahasati (Qaris Tajudin).

Hanya saja, dilihat dari sisi pasar, kemunculan Andrea dan Habiburrahman memang mengentak. Sebelum novelnya jadi best seller, kedua pengarang muda itu tak dikenal dalam lingkungan sastra. Andrea adalah pegawai kantor biasa di pusat PT Telkom di Bandung, sedangkan Habiburrahman berasal dari lingkungan pesantren yang tekun belajar hadits di Cairo University, Mesir.

Sambutan pasar atas novel populer karya kedua pemuda itu menegaskan, pembaca buku sastra semakin plural, meluas, dan tak lagi terpaku pada tema-tema berat yang kerap membuat kening berkerut. Laskar Pelangi memenuhi kerinduan masyarakat akan kisah hidup manusia yang menyentuh keseharian, inspiratif, serta memacu spirit untuk maju. Ayat-ayat Cinta mewujudkan idealisasi kalangan Muslim kota yang merindukan sosok pemuda yang kukuh memegang ajaran agama di tengah perubahan zaman.

Situasi itu memperkuat fenomena “demokratisasi” dalam dunia penulisan sastra di Tanah Air, yang tumbuh pesat sejak reformasi tahun 1998. Pada sisi lain, pasar mengembangkan logika sendiri dan bertambah bebas menentukan selera. Apa yang diminati pasar bisa berbeda jauh dengan apa yang diidealkan otoritas sastra yang dulu seakan dipegang kalangan sastrawan serius, kritikus sastra, serta kaum intelektual.

Industri penerbitan menangkap gejala itu, lalu segera menggarap novel-novel yang digemari masyarakat. Di sini, strategi dagang kapitalisme—yang mencakup manajemen penerbitan, pemasaran, dan promosi lewat berbagai media—ambil peran penting.

Sastra pop yang dulu direndahkan di bawah sastra tinggi kini semakin diterima khalayak luas. Bahkan, hierarki sastra pop-serius itu semakin jarang dibincangkan. Sastra yang dulu terkesan sakral sekarang semakin dekat dengan masyarakat.

Sastrawan Seno Gumira Ajidarma menilai situasi sekarang menggambarkan, membaca dan menulis sastra tak lagi jadi kegiatan sakral yang hanya digumuli kalangan elite. Sekarang sastra sudah jadi gaya hidup masyarakat kota. Toko-toko buku dibangun, sebagian malah menyatu dengan kafe atau pusat perbelanjaan. Membicarakan buku dilakukan di mana-mana.

“Itu perkembangan lumayan karena sastra menjadi lebih riil, terjadi penjelajahan. Dalam dunia kontemporer seperti ini, sudah tak terlalu relevan lagi bersikukuh mempertahankan hierarki antara sastra tinggi dan sastra rendah,” katanya.

Dalam kondisi begini, lebih penting membicarakan soal makna, dan itu bersifat relatif. Setiap pembaca punya keleluasaan untuk memilih buku yang menyajikan tema yang dirasa lebih dekat dan dikenal dengannya. Pembaca bakal menyukai buku yang menyodorkan himpunan gagasan yang membentuknya menjadi subyek, bukan semata kualitas bahasa, plot, atau karakter tokoh yang bagus.

“Inilah sastra yang lebih meaningful. Situasinya mirip dengan tulisan Karl May tentang petualangan di alam Indian yang sangat berarti bagi banyak generasi tahun 1960-an,” tutur Seno menambahkan.

Minim kritik

Menurut Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison Jamal D Rahman, saat pasar semakin besar dan industri yang memproduksi karya-karya sastra marak, justru kritik sastra semakin lemah. Media yang memuat kritik terbatas, sedangkan kritikus sastra kurang. Akibatnya, tak ada lagi wacana yang bisa jadi pegangan dan sastra hanya mengikuti selera pasar saja.

Pada titik tertentu, situasi itu berbahaya, terutama jika pengarang benar-benar berkarya hanya untuk mengikuti minat pasar. Kalau itu terjadi, bisa jadi karya yang lahir nanti hanya mengulang-ulang. “Pengarang tidak lagi memedulikan otentisitas dirinya, originalitas, eksklusivitas, dan kebaruan dalam karya,” katanya.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/demokratisasi-pasar.html