Setelah Tujuh Tahun

Nadjib Kartapati Z.
http://www.suarakarya-online.com/

Hari telah hampir siang ketika aku turun di Stasiun Poncol Semarang. Aku mempercepat langkah, menerombol di antara para penumpang kereta ekonomi. Langkahku terhenti saat kudengar berita pembunuhan atas seorang bekas penjahat besar di Pemalang. Sejenak aku pandangi pesawat televisi yang berada di lobi stasiun. Continue reading “Setelah Tujuh Tahun”

Sekali Lagi, Mengolah Pengalaman

Soni Farid Maulana
pikiran-rakyat.com

ALHAMDULILLAH laman Mata Kata bisa kembali hadir ke hadapan kita semua. Dalam kesempatan kali ini, dua penyair dari Bandung (Rian Ibayana) dan Magetan (Syukur A. Mihran) mendapat kesempatan untuk tampil di halaman ini. Syukur alhamdulillah laman ini mendapatkan perhatian yang menggembirakan dari para pengirim puisi, meski hingga hari ini pihak manajemen belum bisa mengasih honorarium. Continue reading “Sekali Lagi, Mengolah Pengalaman”

Sepenggal Cinta

Tarpin A. Nasri
http://www.lampungpost.com/

DYAH Nareswari Pramodya Wardhani adalah adik kelasku ketika kami sama-sama di SMP. Tapi aku tidak terlalu akrab dengan Dhani. Aku hanya tahu dan kenal Dhani. Tak lebih dan tak kurang. Maklum selain Dhani itu paling manis dan tercantik di sekolah kami, Dhani juga anak orang paling tajir di kecamatan kami. Meski cuma untuk cinta monyet, hanya siswa yang sepadan sajalah yang sepatutnya dekat dengan Dhani. Continue reading “Sepenggal Cinta”

Kepergian Nyatanya adalah Kepulangan

Udo Z. Karzi *
lampungpost.com

KEPERGIAN sesungguhnya sesuatu hal yang sama dengan kepulangan. Tinggal bagaimana perspektif yang diambil. Pada titik ekstrem, orang yang tak memiliki ikatan tempat tidak pernah merasa pulang atau pergi.

PALING tidak pikiran ini menyelinap setelah membaca Kereta Pagi Menuju Den Haag, kumpulan cerpen Rilda A. Oe. Taneko (diterbitkan Pensil 324, Jakarta, September 2010). Continue reading “Kepergian Nyatanya adalah Kepulangan”

Bahasa »