Sajak Diberangus, Kebebasan Berekspresi Hilang

Adi Marsiela
Suara Pembaruan, 16 Agust 2007

Penyair Acep Zamzam Noor, Saeful Badar, dan Alwi membacakan pernyataan sikap dari 21 komunitas seni, jurnalis, dan elemen masyarakat terkait pencabutan sajak ‘Malaikat’ karya Saeful Badar di Kantor Cupu Manik, Bandung, Selasa (14/8). Pencabutan sajak tersebut dari media massa karena ada tekanan dari organisasi tertentu yang menganggap sajak itu melecehkan umat Islam dianggap telah melanggar kebebasan berekspresi yang dilindungi UUD 1945 Pasal 28. Continue reading “Sajak Diberangus, Kebebasan Berekspresi Hilang”

Surat Terbuka untuk M Fadjroel Rachman Dkk

Kuswaidi Syafi’ie *
Media Indonesia, 19 Agu 2007

DI dalam tulisanmu yang berjudul ‘Membela Manusia, Merayakan Kebebasan’ (Media Indonesia, 29 Juli 2007), Anda mengandaikan tidak ada tujuan dan ukuran apa pun di luar kehidupan manusia dan kemanusiaan. Saya pun jauh-jauh hari sudah memahami ungkapan demikian, tepatnya 20 tahun yang silam ketika saya mempelajari kitab Manthiq di sebuah pesantren. Adagium Al-insanu miqyasu kulli syayin dikumandangkan dengan lantang oleh filsafat subjektivisme. Continue reading “Surat Terbuka untuk M Fadjroel Rachman Dkk”

Dari Ruang Kesunyian Menuju Pesta Makna

Denny Mizhar *

Bagaimana sebuah hasil ciptaan ada? tentu saja lewat proses kreasi dari penciptanya. Sebuah lukisan, hasil kreasi dari pelukisnya, sebuah puisi hasil kreasi dari penyairnya yang memiliki sifat personal kekhasan. Proses penciptaan tak lahir begitu saja dari kreatornya, beragam jalan yang ditempuh: dari mamasuki jenjang studi, belajar otodidak dan lain sebagainya. sebuah pilihan atas jalan proses kreasi penciptaan. Continue reading “Dari Ruang Kesunyian Menuju Pesta Makna”

Menyimak Sengkarut Meja Makan

Dwi Rejeki
http://www.suarakarya-online.com/

Saut Poltak Tambunan (SPT), seorang penulis senior yang tetap eksis hampir empat dekade (sejak tahun 1970-an). Pengarang ini dikenal dengan karya-karya dramatik dan sangat kontekstual.

Ia merekam situasi di sekitarnya dengan baik lalu mengemasnya menjadi cerita yang sangat dekat dengan pembacanya. Benny Arnas yang menulis prolog dalam buku ini sampai-sampai memberi judul prolog Belajar Membumikan Cerita dari Saut Poltak Tambunan. Continue reading “Menyimak Sengkarut Meja Makan”

Belati

Noval Jubbek

“kalau kau hendak bertandang, bawalah belati yang kau janjikan pada hari kamis atau ahir pekan”

mungkin, tak ada yang pernah tahu seperti apa pemburuan yang terjadi dalam lingkaran dingin seperti ini. termasuk aku yang selalu saja membiarkan rasa pasrah itu berlari lebih dulu, mendahului apa saja. tangan yang tak sampai satu meter, kaki yang mulai kaku dan mata yang memandang tak lebih dari ujung marka. Continue reading “Belati”

Bahasa ยป