Sekolah, Rumah

Asarpin

Merosotnya kesadaran kita tentang alam dan lingkungan tidak hanya tercermin pada perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah, tapi juga di lingkungan rumah kita. Jika dulu kita memagari sumur di halaman atau di samping rumah kita cukup dengan tanaman yang rindang, kini semua telah berubah menjadi pagar beton. Jika atap sumur cukup dengan ilalang atau daun-daun, kini mesti pakai seng, asbes atau genteng. Belum lagi perubahan mental para pekerja yang menebang pohon di sepanjang jalan untuk memanasi aspal yang diperlukan untuk memperbaiki jalan yang sedang dibangun.

Dan yang paling mencolok adalah gerakan mengganti pagar halaman rumah dari pagar tanaman menjadi pagar beton dan besi. Akibatnya pepatah lama warisan nenek moyang kita tentang “pagar makan tanaman” juga ikut punah, dan sebagai gantinya adalah “pagar makan orang”.

Salah pengertian mengenai sifat usaha pembangunan ditambah sikap mental dan pola hidup yang boros dan tidak peka pada alam, menyebabkan krisis yang memang sudah sejak lama mulai dirasakan, dan baru kini tampaknya mulai jadi kesadaran nasional. Tapi apa betul soal menjaga alam, bumi, lingkungan dan kelangsungan hidup umat manusia sudah jadi kesadaran nasional, atau baru sebatas kesadaran sejumput manusia yang peka?

Rasanya saya ragu. Kita telah terlalu sering mendengar retorika tentang kesadaran nasional, tapi jangankan sampai menasional, melokal dan dalam skala rumah tangga masing-masing saja kita tak pernah sadar. Soal disiplin misalnya, jangankan terwujud gerakan disiplin nasional sebagaimana sering kita dengar, disiplin diri sendiri saja belum. Kita mengajak orang memilah sampah tapi di rumah kita—termasuk di rumah tangga saya—sampah tak pernah terpilah. Kita melakukan kampanye “nol sampah” tapi di lingkungan rumah kita terdapat “1000 jenis sampah”.

Mungkin kita memang mesti segera mengikuti anjuran kaum posmo untuk mulai dari hal-hal kecil. Mulai dari hal-hal besar seringkali menipu karena sesungguhnya kita memang tak pernah mampu. Mulai dari yang besar lebih sering mengalami kegagalan ketimbang keberhasilan. Maka, ketimbang berharap untuk terjadinya perubahan nasional, apalagi perubahan dunia, lebih baik menatap dan menampung dunia sebagai kemungkinan-kemungkinan. Sebagaimana sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy, pernah mengingatkan: “semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tapi tak seorang pun berpikir untuk mengubah dirinya”.

Saya kira usulan semacam itu bukan hanya terdapat di sekolah alam, tapi benar-benar hendak jadi landasan dan prinsip dasar yang sedang diterapkan. Dan tidak arif rasanya kalau kita hanya menunggu hasil kerja Anak Alam dan Guru Alam di sekolah-sekolah alam yang kini mulai menjamur, sementara kita tetap ongkang-ongkang. “Mulailah dengan menyadari diri sendiri, lalu berbenah diri, dan kau akan tahu arti kesejatian diri”, kataku kepada diri sendiri.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/