Selamat Datang Sastra Edol

Judul Buku : 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008
Penulis : Finalis Anugerah Sastra Pena Kencana Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Edisi : I, Februari 2008
Tebal : 204 halaman
Peresensi : Labuh Kembara *
Media Indonesia, 15 Maret 2008

APA yang sesungguhnya yang hendak diperjuangkan oleh sebuah anugerah sastra? Menghargai kedalaman eksplorasi estetik sebuah karya sastra atau justru hendak memartabatkan pengarangnya? Barangkali itulah dua pertanyaan dilematis yang perlu disodorkan kepada panitia Anugerah Sastra Pena Kencana (ASPK) 2008.

Baru-baru ini pihak penyelenggara meluncurkan buku 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 (2008) dari hasil kerja penjurian dalam jangka waktu relatif panjang. Terjaring sejumlah cerpenis mulai dari nama-nama yang sudah tak asing di ranah ‘sastra koran’ seperti Seno Gumira Adjidarma, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Eka Kurniawan, Puthut EA, AS Laksana, Triyanto Triwikromo, Nukila Amal, Gunawan Maryanto hingga nama-nama baru yang makin memperkaya khazanah cerpen Indonesia mutakhir seperti Antoni, Hasan Al-Banna, Etik Juwita, Naomi Srikandi, dan Komang Ira Puspitaningsih.

Dua puluh cerpen yang terhimpun dalam buku ini sekaligus menjadi nomine dalam ASPK yang pemilihan pemenangnya akan diserahkan ‘bulat-bulat’ kepada pembaca. Tidak seperti mekanisme pemilihan yang biasa, seleksi akan dilakukan melalui polling short message service (SMS) terhitung sejak 15 Februari 2008 sampai 15 Agustus 2008. Hingga 1 September 2008 mendatang, akan ternobatkan tiga pemenang dengan hadiah masing-masing Rp25 juta, Rp15 juta, dan Rp10 juta. Sebentuk pemilihan idola-idola baru yang sejak beberapa tahun belakangan ini begitu marak di stasiun-stasiun televisi swasta. Dalam bahasa yang lebih gaul, anugerah ini barangkali bisa disebut ‘sastra idol’.

Pada bagian pengantar, Triyanto Triwikromo selaku Direktur Program (agak mencengangkan cerpennya juga nangkring di buku ini) dengan tegas memaklumatkan ASPK diselenggarakan untuk memangkas jalur yang terlalu lama dan berbelit-belit pada sejumlah penghargaan sastra sebelumnya. Misalnya mekanisme seleksi dalam penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) yang terlalu rumit dan sangat bergantung pada buku. Artinya, meski seorang cerpenis sudah menulis ratusan karya, tapi bila karya-karya itu belum terbukukan, sampai ‘Lebaran monyet’ pun ia tidak bakal memenuhi persyaratan dalam pemilihan pemenang KLA. Karena itu, ASPK melakukan penilaian dengan mengumpulkan data-data cerpen yang sudah dipublikasikan oleh sejumlah surat kabar yang dianggap merepresentasikan sastra Indonesia selama satu tahun terakhir, di antaranya Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Suara Merdeka, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Republika, Jawa Pos, Seputar Indonesia, Bali Pos, Lampung Post, Pontianak Pos, dan Fajar.

Lebih jauh dijelaskan, selain hendak menghargai keterampilan artistik dalam kerja kreatif para pengarang yang sudah malang-melintang di jagat cerpen Indonesia, ASPK hendak memartabatkan sastrawan (yang bila dibandingkan dengan para pekerja seni yang lain memang masih kurang mujur dan makin terpinggirkan). Sebuah kepedulian yang patut disambut dengan girang-gemirang. Tapi, penyelenggara (PT Kharisma Pena Kencana) sama sekali tidak menegaskan perihal standardisasi penilaian yang telah dikerjakan oleh tim juri yang kali ini terdiri dari Sapardi Djoko Damono, Budi Dharma, Apsanti Djokosujatno, Ahmad Tohari, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, dan Jamal D Rahman. Dapat dimaklumi bahwa sangat sukar menemukan mekanisme penjurian yang dapat meminimalisasi subjektivitas ‘selera sastra’ tiap juri, tapi setidaknya dapat disepakati semacam kriteria-kriteria artistik sebagai rambu-rambu yang perlu dipedomani dalam kerja penjurian. Misalnya, kriteria ‘cerpen terbaik’ versi buku ini adalah cerpen-cerpen yang tidak semata-mata mengusung permainan kata, tetapi juga menyuguhkan kedalaman makna. Atau cerpen koran yang kerap harus tunduk pada aktualitas berita sebagaimana tuntutan surat kabar, tapi mampu menjadi cerita yang mandiri dan mendedahkan kisah yang sanggup berdiri tegak di atas kaki sendiri, tanpa harus ditopang oleh ‘nilai berita’ yang tersirat di dalamnya. Dengan begitu, ‘babak penyisihan’ yang telah menghasilkan 20 cerpen terbaik dalam buku ini akan lebih terselamatkan.

Akibat ketidaktegasan menyangkut kriteria artistik yang digunakan dalam kerja penjurian, terminologi Cerpen Terbaik Indonesia yang termaktub di sampul buku akan sulit dipertanggungjawabkan, baik secara estetik, etik, maupun akademis. Karena, boleh jadi pembaca dan penyuka cerpen pada umumnya juga punya kecenderungan ‘selera sastra’ yang berbeda dengan selera juri-juri yang terhormat itu. Namun, alih-alih menyuguhkan pertanggungjawaban hasil penjurian, Budi Dharma yang mengatapengantari buku ini malah membincang sejarah genre ‘sastra koran’ sejak dari pertumbuhan yang paling mula di belantika sastra Indonesia. Sebentuk perbincangan yang kerap berulang dalam pelbagai polemik ‘sastra koran’ sejak beberapa tahun belakangan ini.

Semula ia mengandaikan kata pengantar itu sebagai ‘jendela terbuka’ yang barangkali dapat digunakan pembaca untuk menelusuri dan menyelami ceruk kedalaman makna yang terkandung dalam cerpen-cerpen yang disebut terbaik itu, tapi pengamat sastra itu sama sekali tidak membekali pembaca dengan semacam pendekatan akademis sebelum menggauli buku ini. Lebih ganjil lagi, Budi Dharma membuat semacam perbandingan antara Edgar Allan Poe, perintis genre cerita pendek Amerika Serikat dan Balai Pustaka, sebuah penerbitan kolonial yang sangat berpengaruh terhadap gerak laju perkembangan cerpen Indonesia. Bukankah Edgar Allan Poe adalah individu pengarang, sedangkan Balai Pustaka adalah lembaga penerbitan yang dipenuhsesaki oleh kepentingan politik kolonial? Bagaimana mungkin Budi Dharma bisa membandingkannya dalam hal konsep dan format cerpen? Sebuah perbandingan yang timpang, sangat tidak imbang, dan yang lebih penting lagi, usaha banding-membanding itu tidak ada hubungannya dengan cerpen-cerpen dalam buku ini.

Agaknya akan lebih mengena bila ia menjelaskan kenapa cerpen Bukan Yem karya Etik Juwita terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik 2008, dan karena itu levelnya sama dengan cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik karya Seno Gumira Adjidarma sebab sama-sama terbaik bukan? Padahal Etik Juwita masih pemula, sedangkan Seno tentu sudah tak disangsikan sepak terjangnya dalam kepengarangan cerpen. Apa mungkin levelnya disamakan? Begitu juga dengan Paragraf Terakhir karya Antoni yang secara otomatis kalibernya juga sama dengan Sumur Keseribu Tiga karya AS Laksana dan cerpen-cerpen lain dalam buku ini? Kenapa pula cerpen-cerpen yang pilihan setting geografi dan demografinya begitu asing dan sukar digapai oleh imaji pembaca seperti La Cage aux Folles (Eka Kurniawan), Sinai (F Dewi Ria Utari), Sebelum ke Takao (Naomi Srikandi) dan Cahaya Sunyi Ibu (Triyanto Triwikromo) juga terpilih? Dari sisi mana cerpen-cerpen itu dinilai terbaik?

Kalau memang ASPK hendak memartabatkan sastrawan, lalu kenapa sejumlah sastrawan yang semestinya patut dimartabatkan tidak terjaring dalam penjurian? Di mana Danarto, Yanusa Nugroho, Adek Alwi, Kurnia Effendi, S Prasetyo Utomo, Ratna Indraswari Ibrahim, Yusrizal KW, Fakhrunnas MA Jabbar, Harris Effendi Taher, Sunaryono Basuki KS, Isbedy Stiawan ZS, Raudal Tanjung Banua, dan sejumlah nama cerpenis lain yang karya-karya mereka terus berhamburan dalam jangka waktu penjurian berlangsung.

Buku ini malah memuat cerpen karya Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan dan Ratih Kumala, tiga cerpenis yang jelas-jelas terlibat langsung dalam kepanitiaan program ini. Orang dalam, tepatnya. Memang tidak diragukan kualitas cerpen-cerpen karya mereka, tapi bilamana mereka menjunjung tinggi sportivitas dan kode etik kepanitiaan, semestinya dengan rendah hati mereka merelakan cerpen-cerpen itu tidak dimasukkan meski tuan-tuan juri bersikukuh memilihnya. Itu akan lebih terhormat dan hasil penjurian tentu akan lebih fair.

Mencermati pelbagai ketidaktegasan dan ketidakpatutan dalam penggarapan buku ini, alih-alih hendak menghargai etos kepengarangan dan memartabatkan sastrawan, jangan-jangan proyek ‘sastra idol’ itu malah menurunkan derajat kepengarangan cerpen, bahkan menurunkan ‘harga’ penghargaan itu sendiri. Dan, pemenangnya adalah?
***

*) Labuh Kembara, pecandu cerpen.
http://cabiklunik.blogspot.com/2008/03/pustaka-selamat-datang-sastra-edol.html