Catatan Kecil di Hari-hari Sebelum Kepergian Wisran Hadi

Meninggalkan Sagarobak Tulak Buah Tangan
Yusrizal KW
http://padangekspres.co.id/

Panggilan handphone pertama saya di Selasa pagi 28 Juni 2011 adalah dari sastrawan Darman Moenir. Pengarang ”Bako” itu langsung bertanya, ”Sudah dapat kabar?” Saya balik bertanya, ”Kabar apa, Bang?”

”Pak Wisran sudah mendahului kita pukul 07.30 tadi,” kata Darman sedikit tercekat. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Hampir tak percaya, bahwa orang yang bagi saya terasa bagai orangtua, guru dan sahabat dekat itu, telah menghadap-Nya dalam usia 66 tahun.

Setelah berita duka itu mengaduk-aduk perasaan, mata saya yang sabak mengarah ke sebuah meja di ruang kerja saya di rumah. Di atas meja itu saya melihat sebuah compact disk (CD), warna kuning. Di CD itu ada tulisan tangan pemiliknya: Draft Buku Wisran Hadi 2011.
Tiba-tiba saya merasa takut CD itu rusak. Segera saya copy-kan ke komputer, flashdisk dan hardisk eksternal. Saya takut, CD berisi naskah penting Apak (panggilan saya kepada Wisran Hadi) itu rusak atau hilang.

CD tersebut diserahkan Wisran Hadi ke saya, tanggal 20 Juni 2011 siang, di hadapan Wakil Presiden Komisaris Padang Ekspres Wiztian Yoetri, yang kebetulan juga berkunjung ke Distro Sembalakon milik saya di Jalan Gajah Mada 10 Padang.

”KW, di dalam CD ko lengkap naskah-naskah pilihan Apak. Terbitkanlah, dan jangan dikurang-kurangi. Berapa pun tebal halamannya, harus sebanyak itu diterbitkan. Sampaikan juga ke Sutan Zaili,” kata pengarang yang dikenal dengan naskah ”Jalan Lurus” ini ketika itu. Naskah-naskah berisikan esei, artikel atau makalah-makalah terbaik Wisran Hadi itu sudah diberi judul untuk buku, yaitu Sagarobak – Tulak Buah Tangan Wisran Hadi: ANAK DIPANGKU KEMENAKAN DI BIM.

CD berisi tulisan-tulisan terbaik Wisran Hadi yang akan dibukukan itu, sesungguhnya bermula dari obrolan kami berdua. Bahwa, buku-bukunya yang banyak diterbitkan saat ini, hanya berupa naskah drama dan novel serta cerpen. Tapi, tidak satu pun buku yang utuh memuat tulisan-tulisan atau pikiran-pikiran Wisran Hadi sebagai budayawan, tokoh intelektual dalam melihat dan memaknai serta mengkritisi berbagai persoalan di Ranah Minang dan Indonesia.

Ketika bersilaturahmi ke rumah Sutan Zaili Asril (Kepala Divre Riau Pos Group Padang), 17 Mei lalu, pembicaraan soal penerbitan adalah topik utama kami. Sutan Zaili menyampaikan, kalau dia akan menerbitkan beberapa buku kumpulan tulisannya yang pernah dimuat Padang Ekspres. Termasuk Cucu Magek Dirih, dan beberapa novel. Ternyata, Wisran memberi masukan.

Ia sarankan Sutan Zaili tidak menerbitkan kumpulan tulisan atau artikelnya. Karena, Wisran tahu Sutan Zaili juga menulis novel, Wisran menyarankan, sebaiknya novel-novel Sutan Zaili yang diterbitkan. Karena, ”orang koran” menulis novel, dan beredar, ini hal luar biasa. Tapi, kalau artikel atau esei-esei, kesannya masih umum dan biasa. Kecuali ada yang sangat luar biasa di tulisan-tulisan tersebut. ”Tapi kalau novel Zai, jadi lain nilainya….” kata Wisran ketika itu. Zaili merasa mendapatkan masukan berarti, mengangguk.

Kepada saya dan Wisran Hadi, Sutan Zaili pun menyampaikan, ia dan Padang Ekspres tentu, akan menerbitkan naskah Wisran Hadi tersebut. Dalam perjalanan pulang, saya berkata ke Wisran, ”Apak siapkan naskah itu ya. Akhir Juli paling lambat.” Mulanya penerima hadiah sastrawan ASEAN (Sea Writers Award) dari Raja Thailand ini menilai waktu itu tidak cukup untuk mengumpulkan ratusan tulisannya, kemudian memilah dan mengedit jadi naskah bukua siap cetak. Tapi, saya katakan, ”Setidaknya bulan Ramadhan, pertengahan Agustus 2011 ini naskahnya siap ya, Pak!”

Peraih Federasi Teater Indonesia Award ini menyanggupi deadline yang kami sepakati. Ternyata, bulan Juni masih terpaut di angka 20, Juli dan Ramadhan belum tiba, tokoh kelahiran 27 Juli 1945 ini sudah datang ke saya dan menyerahkan naskah-naskahnya, yang memang sangat banyak: sagarobak tulak istilah beliau.

Berselang delapan hari, setelah naskah itu diserahkan ke saya, Apak—Wisran Hadi, berpulang menghadap-Nya. Tiba-tiba saya merasakan kesedihan mendalam. Sehingga untuk menulis obituarinya pun saya kehilangan kata, karena begitu banyak yang ingin disampaikan dan tak terkatakan. Saya tidak hanya kehilangan orang hebat, orangtua, guru dan sahabat, tapi juga kehilangan teman maota dan berdiskusi di hari-hari yang tidak direncanakan, di ketika suka-suka kami berdua saja.

Ketika melihat CD warna kuning itu, yang diserahkan lebih cepat dari waktu yang dipatok kepada saya, akhirnya kini saya pahamai, kalau itu sebuah isyarat, ternyata Apak pergi lebih cepat. Ya, pergi lebih cepat!

Buah Tangan

Akhirnya CD warna kuning berisi ”sagarobak tundo” tulisan-tulisan nonsastra Wisran Hadi, berisi 78 artikel, yang telah dikelompokkannya menjadi lima bagian sesuai tema saya rasakan sebagai isyarat bermakna. Tulisan-tulisan tersebut dipilihnya dari ratusan artikel atau esei dan makalah yang telah ia lahirkan sepanjang hidupnya.

Malam hari, menjelang tidur, saya berpikir-pikir tentang judul dari naskah buku yang diamanahkan kepada saya itu. Saya ulang menggumamnya dalam hati: Sagarobak-Tulak Buah Tangan Wisran Hadi, ANAK DIPANGKU KEMENAKAN DI BIM.

Tiba-tiba saya terpaut pada kalimat ”Buah Tangan Wisran Hadi”. Ungkapan itu, secara tersirat, akhirnya bisa saya maknai, selain arti sebagai hasil karya, tapi lebih mendalam dan bermakna semacam “kenang-kenangan”, sesuatu yang diberikan atau diwariskan buat seseorang atau masyarakat dalam artian yang lebih besar kepada bangsa. Kenapa demikian. Setelah ia menyerahkan naskah-naskah itu, ia pergi untuk selamanya. Ia pergi tidak dalam hampa, tapi meninggalkan sesuatu, yang akan bermanfaat bagi orang yang kelak membaca ”buah tangan” itu.

Sebanyak 78 Naskah Wisran Hadi yang insya Allah segera diterbitkan Harian Padang Ekspres, akan menginspirasi dan berbagi makna kepada masyarakat pembacanya. Ada pesan tersirat di balik naskah-naskah yang ditinggalkannya pada saya tersebut.

Bahwa, semasa hidupnya, Wisran Hadi adalah seorang budayawan, yang senantiasa menjaga sikap independennya sebagai intelektual, yang esensi dari nilai gagasan serta pemikirannya, bisa terwakili melalui 78 naskah yang akan diterbitkan tersebut.

Dan jika buku ini terbit kelak, artinya, inilah satu-satunya naskah nonsastra Wisran Hadi, yang mewakili sikap, pikiran dan integritasnya. Dan, tentu, ia punya alasan untuk mengatakan ”buah tangan”, setidaknya, ia mewarisi pemikiran dan ilmu yang bermanfaat bagi generasi hari ini dan mendatang.

Kegelisahan

Dalam obrolan lepas di hari-hari bulan Juni ini, Wisran Hadi sering seperti kecewa. Tapi, dari ekspresi wajahnya, saya melihat ia geram. Geram dan muak pada berbagai persoalan yang membelit bangsa ini, yang menurutnya, tengah terjadi pelemahan nilai-nilai dan hancurnya makna kejujuran dalam artian yang parah dan mencemaskan. Termasuk di Ranah Minang sendiri.

”Apak muak bana ko ha,” katanya pada saya. Ia galau, dan memang merisaukan persoalan yang tengah terjadi, seakan sedang berada dalam proses penghancuran nilai-nilai di Ranah Minang, di Indonesia umumnya. Karena itu, ia berkeyakinan, hal demikian tidak boleh dibiarkan. Harus ada cara untuk menegakkan kebenaran, kegelisahan dan kemuakan yang mendera. Salah satunya, teater bisa mengobati kemuakannya itu, atau ia bisa menyampaikan sesuatu melalui teater.

”KW,” katanya kepada saya. ”Apak ingin mentas, kembali menyutradarai naskah teater tahun ini,” sambungnya. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, ia menyuruh saya mencari pemain baru. Bukan orang teater yang sudah ada dan pernah main. Kalau bisa, anak-anak yang masih di SMA.

Dan keinginan itu, pun disampaikan kepada Sutan Zaili Asril. Ternyata, Sutan Zaili menjawab positif, ”Abang tak usah pikirkan selain karya. Pokoknya berkarya saja. Siapakan pementasannya. Sponsor dan dana, biar menjadi bagian saya dan Yusrizal KW.” Saya melihat kelegaan di wajah Wisran Hadi.

Ternyata, saya belum sempat berpikir bagaimana cara merekrut pemain untuk disutradarainya, pendiri Bumi Teater ini lebih dulu dipanggil Tuhan. Padahal, di sisi lain, saya sudah menyiapkan gambaran tim kerja, salah satunya Pemimpin Redaksi Padang Ekspres Montosori, yang setuju membantu menggarap sponsor untuk pertunjukan Wisran Hadi.

”Kita garap sungguh-sungguh manajemen pertunjukan Pak Wis ini ya,” kata Montosori, ikut semangat. Dan, ketika kini menyadari sutradara itu telah pergi untuk selamanya, saya dan tentu juga Sutan Zaili, merasa Yang Maha Sutradara telah memanggil orang yang kami segani, hormati dan dalam bentuk yang khusus kami sayangi.

Nyali Keberanian

Saya merasa beruntung bisa dekat dengan Wisran Hadi, juga dengan istrinya Raudha Thaib, karena ada sisi lain yang saya dapat yang mungkin tidak ada di tempat lain. Tak perlu panjang-panjang menjelaskan siapa Wisran Hadi sesungguhnya, karena, dunia kebudayaan, cukup mengenalnya.

Menurut saya, Wisranlah orang yang betul-betul paling merdeka dalam berkarya. Dalam menulis, ia tanpa basa-basi. Bahasanya lugas, metafornya banyak, kritikannya tajam, dan di ”mata penanya”, semua umat sama. Karena itu, apa pun pangkat orangnya, ia tidak takut mengkritik atau melawan dengan tulisan, diskusi atau dialog. Bukan suatu yang aneh, kalau ada orang merasa keder duluan untuk adu argumentasi dengan penulis Jilatang ini.

Dari Wisran disadari atau tidak, saya belajar, bahwa untuk menegakkan kebenaran, diperlukan nyali yang hebat. Jika tidak, di zaman orang-orang bebal dan bobrok yang banyak berkuasa, kebenaran akan terkubur. Karena itu, saya akhirnya bisa paham, tulisan yang penuh basa-basi bagi putra Haji Darwas Idris, imam besar Masjid Raya Muhammadiyah ini, untuk beberapa hal tidak mangkus memberi perubahan atau daya kejut sebagai kritik sosial. Cara Wisran dalam mengkritisi berbagai persoalan inilah yang kadang mendapat respons masyarakat.

Negeri ini, sebenarnya masih membutuhkan Wisran Hadi. Dunia kebudayaan Sumatera Barat tentu agak canggung kehilangan salah seorang tokoh besarnya, yang melontarkan pikiran serta kritikan yang merdeka dan memerdekakan, tanpa ada kepentingan lain di dalamnya.

Bagi saya, Wisran Hadi adalah orang yang meleburkan dirinya pada persoalan-persoalan sosial, budaya dan juga politik dalam artian menjaga dengan tegas dan kearifan. Ia muncul, memberi ”daya kejut” dan ”daya gaduh” bagi yang tidak berjalan pada koridor hidup yang benar. Melalui rubrik Jilatang dan Kabagalu (Sabai), ia bisa mengekspresikan kemarahan atau kemuakannya terhadap fenomena sosial yang lagi hangat.

Wisran Hadi adalah orang yang gelisah, yang selalu memelihara sikap kritis. Kegelisahan itu kemudian menjadi energi untuk melahirkan karya-karya bermutu yang mampu memberikan pencerahan. Karena itu, kita selalu mendapatkan karya-karya Wisran Hadi yang melekat di hati pembaca, seperti novel Tamu, Orang-orang Blanti, Imam, Negeri Perempuan dan dari Tanah Tepi. Untuk naskah drama Wisran dikenal dengan Empat Sandiwara Orang Melayu, Empat Lakon Perang Paderi, Wanita Terakhir, Anggun Nan Tongga, dll.

Tulisan ini, hanya catatan kecil bersama Wisran Hadi, di hari-hari terakhir bersamanya. Setidaknya, ada yang bisa dikenang, ia pergi dengan meninggalkan buah tangan, untuk bangsanya. Apak, selamat jalan yo! Terima kasih buah tangannya. Kami akan selalu mendoakanmu, dengan ikhlas dan cinta! (*)

[ Red/Redaksi_ILS ] : http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=7337