Goenawan, Penyair, Pemikir

Asarpin
Lampung Post, 24 Juli 2011

GOENAWAN Mohamad adalah nama yang tak mungkin dilupakan dalam dunia penulisan sastra dan jurnalistik. Dalam usianya yang ke-70 pada bulan ini, cukup banyak sumbangan yang telah ditorehkannya terhadap dua hal tersebut. Namun, Goenawan bukan sekadar sastrawan dan wartrawan. Lebih dari itu, ia adalah seorang penyair sekaligus pemikir.

Sebagai penyair, Goenawan telah menghasilkan lebih dari tiga buku kumpulan sajak dengan pengucapan lirik yang khas. Sebagai pemikir, selain buku serial Catatan Pinggir, buku Kata, Waktu, dan Eksotopi adalah bukti tak terbantahkan kalau Goenawan adalah pemikir langka di negeri ini, yang dapat pula disejajarkan dengan pemikir dunia sekelas Octavio Paz.

Dalam sebuah esainya, Goenawan pernah bilang: ada dua hal akan dengan gampang dikorbankan dalam krisis ekonomi yang seberat ini, di samping tenaga buruh, itu adalah seni dan pemikiran. Keduanya sudah pasti bukan termasuk bahan pokok. Keduanya juga lebih sering memakan biaya ketimbang menjadi sumber dana. Keduanya tak jarang merisaukan.

Seorang penyair dan pemikir tentu berbeda dengan para ideolog atau pengajar agama, dan sudah sewajarnya jika ia menjelmakan dirinya sebagai seseorang yang hidup di rumah sunyi, kata Goenawan dalam cacatan pinggir Perempuan. Para pemimpin agama selalu punya kecenderungan untuk menyusun rasa takut dan membuat manusia tak bisa sepenuhnya merdeka.
Padahal, sebagaimana diisyaratkan oleh penyair kelahiran Batang 29 Juli 1941 ini, seorang yang merdeka seharusnya ia berangkat dari nol, terbang dengan kemerdekaan yang penuh, justru karena tak ada radar pengontrol, tak ada juga pangkalan untuk kembali, bahkan tak ada pelabuhan yang sudah dirancang pasti akan dimasuki.

Dengan kata lain, kemerdekaan adalah semacam momen di tengah gurun: di sana tak ada rambu, perbatasan yang dijaga, bendera yang ditaati, kesempitan yang mengapit. Pada titik ini, ambisi untuk sesuatu yang pasti terjaga, pasti goyah. “Ada yang brutal dalam ambisi kepastian, tertib, dan otoritas,” tulis Goenawan dengan cukup berani hingga kata-katanya terasa ketus dan bisa membuat merah telinga orang yang suka dengan kata-kata halus dan lembut.

Tapi, pilihan kata brutal yang keras semacam itu sungguh kena, terutama ketika kemunafikan masih merajalela, pretensi mempertahankan kehalusan berbahasa hanya akan menjadi dalih bagi eufemisme yang sudah kelewatan.

Atas dasar itu, kita memang layak bertanya. Apa sesungguhnya pemikiran itu hingga sebagian orang tua begitu khawatir jika anaknya menjadi pemikir yang bebas? Adakah memang pemikiran itu begitu berbahaya dan mengancam generasi muda?

Stephen Hirtenstein, yang sangat mengagumi Ibn Arabi, pernah mengutip ucapan tokohnya tentang pemikiran adalah ibarat tamu dari langit yang melintasi ladang hati. Dalam hal ini, pemikiran tak cuma mengacu pada proses otak, atau sesuatu yang dapat kita pikirkan, atau kita renungkan. Pemikiran mengindikasikan sesuatu yang muncul dari keheningan batin, setiap saat dalam diri kita, di dalam kesadaran batin kita.

Dengan sikap batin semacam itu, tak heran jika Goenawan akan terus menampik setiap kebenaran yang dinyatakan final dan mutlak. Sebab, ia akan menjadi gangguan terhadap kisah-kisah yang lurus, ia akan merayakan perdebatan, menjunjung ketidakpastian, menyemangati gairah perbedaan dalam perbedaan. Hal-hal semacam ini mungkin tak menyelesaikan perkara dalam diri dan dunianya seratus persen. Tetapi, ia menjadi manusia yang berhak hidup dan menentukan pilihan-pilihan sendiri dengan bebas, dengan merdeka.

Maka, saya tak pernah merasa cemas dan waswas setiap kali berhadapan dengan sikap kepenyairan Goenawan yang kelewat terbuka dan menantang. Saya bahkan mengagumi sikap Goenawan yang meletakkan puisi tidak melulu dilihat dari guna dan manfaat.
Kalau boleh mencari pembenaran lewat kata-kata bijak Romo Dick Hartoko, sifat keterbukaan Goenawan ibarat suatu kerja yang senggang: yakni sikap spiritual untuk bisa mendengarkan, semacam kemampuan jiwa untuk tanggap terhadap kenyataan dunia yang tidak melulu dilihat dari guna dan tujuan. Atau dalam bahasanya Ayu Utami dan Sitok Srengenge ketika mengumpulkan sajak-sajak lengkap Goenawan: itulah “sebentuk penghargaan pada kesetian untuk menciptakan sanktuari: sebuah wilayah di mana bahasa, ciptaan, dan karya tak harus ‘berguna’, di mana sebuah arti tak sama dengan guna.”

Pada momen ini, filosofi kepenyairan Goenawan mirip Wu-wei yang mengambil falsafah air. Dibandingkan dengan segala sesuatu, air merupakan hal yang paling lemah, tetapi air mampu menjebol karang yang paling keras sekalipun. Lao Tzu pernah mengatakan: “Dunia dikalahkan dengan tidak berbuat apa-apa (Wu-wei)”. Maju terus berarti berbalik. Tapi justru karena wataknya itu, pasivitas Wu-wei nyaris membekukan waktu.

Hal ini terlihat secara samar-samar dalam ajaran Taoisme yang menekankan kebebasan individu dan Wu-wei sebagai jalan menuju perdamaian dunia. Dalam Wu-wei ada kecenderungan anarki dan individu yang radikal dalam menekankan kebebasan. Hal ini berdampak adanya sikap antisosial, antikultural, antifilsafat, dan antisistem. Segala yang dianggap berguna mesti dipertanyakan. Sebab, dalam suatu dunia yang hanya mementingkan kegunaan, kata Dick Hartoko dalam esai Keadaan Senggang sebagai Dasar Kebudayaan, memang tak ada tempat dan waktu untuk ritual dan kebaktian. Padahal, religi dan puisi yang sejati justru tak mementingkan faktor kegunaan, bahkan berani mengorbankan barang-barang berguna demi sesuatu yang lebih menggairahkan iman dan pemahaman.

Senggang adalah dasar bagi sebuah puisi. Tak ada puisi yang baik yang tidak kontemplatif. Dasar sebuah puisi adalah semadi, sunyi, hening, bisu. Karena wataknya yang nyaris tak bergerak, tak heran jika sampai hari ini masih ada yang beranggapan kalau Goenawan hanya mengotak-atik kata atau bahasa, dan pemikirannya cuma asyik dengan dirinya sendiri. Masih juga kita temukan orang yang nyinyir memandang puisi, dengan mengatakan: puisi tak lebih dari pergulatan atau permainan dengan daya khayal kata dan maknanya (kalau ada). Mungkin lantaran karena puisi pada dasarnya sebuah wilayah yang terpencil, atau melulu bergerak dalam keadaan tanpa gema, atau bunyi yang lain dari tepian kecil yan tak kunjung jelas itulah, seperti kata Goenawan ketika bicara tentang H.B. Jassin, maka puisi bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas; hidup yang diinstrumentalisasi.

Asarpin, esais dan peninjau buku
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/goenawan-penyair-pemikir.html