Individual dan Manifes

Beni Setia
Lampung Post, 27 Maret 2010

TONGGAK individualitas sastra Indonesia dipancangkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan Kredo Puisi yang fenomenal. Dengan kredo itu, seluruh parameter penciptaan dan apresiasi puisi yang ditulis SCB bertolak dari konsep yang dirumuskan SCB. Dengan kredo itu, SCB tidak sekadar bilang kata adalah realitas itu sendiri dan bukan sekadar media buat mengomunikasi realitas itu, tapi juga menuntut agar ”tidak menilai puisi yang kutulis dengan ukuran yang tak sesuai.”

Di titik ini, individualitas SCB dengan Kredo Puisi-nya telah mencapai tingkat altar bagi alter ego kreatif individu SCB. Level lebih tinggi dari Surat Kepercayaan Gelanggang Chairil Anwar, dkk., yang hanya menyatakan diri mereka sebagai pewaris kebudayaan dunia, karenanya bebas buat melepaskan diri dari tradisi berkesusastraan lokal-nasional–puncak dari ide keberanian untuk mendunia yang dirintis Sutan Takdir Alisjahbana dengan gerakan kebudayaan Pujangga Baru itu. Situasi cogito ergo sum di konteks estetika dan ekspresi puisi serta sastra di latar belakang.

Sekaligus kredo individualistik mengukuhkan alter ego kreatif individualistik itu berbeda dengan gerakan Goenawan Mohammad, dkk., cq Manifes Kebudayaan. Yang meskipun bertekad akan mengukuhkan eksistensi sastra yang lepas dari dominasi dan pesan ideologi, tetapi lebih merupakan kesepakatan untuk melawan dominasi politik. Seluruh ide tersirat seni untuk seni yang mereka nyatakan tidak mengusung semacam altar bagi kebebasan ego kreatif, sekadar katup dengan selentik harap di keterjepitan ketika ideologi tak hanya berkehendak mendominasi wacana sosial-politik tapi juga potensi budaya.

Selentik asa saat seseorang diinjak kakinya dan si penginjak tak bisa diingatkan dengan teriak sakit dan protes–sebuah wacana peringatan santun khas Solo. Sebuah manifes yang mendekati kepasrahan di level Gusti Allah ora sare–Tuhan tidak pernah tidur, atau Tuhan sedang menangguhkan satu kebenaran hakiki. Meski begitu, seluruh manifestasi tadi sokong-menyokong dukung-mendukung, bahkan itu jadi fondasi bagi kredo SCB dan akhirnya kehadiran estetika khas puisi Afrizal Malna.

Kata dipreteli SCB jadi huruf yang merupakan tanda dalam komposisi rupa yang menyarankan realitas imajiner sugestif, serta bunyi yang merupakan aspek pendukung suasana hingga tersarankan kehadiran tersirat sesuatu yang misterius. Atau Afrizal Malna yang menghadirkan realitas benda dan fakta keseharian sebagai benda dan fakta keseharian yang berlimpah dan terus memberondong dalam keberserentakan, sehingga semua hanya setengah disadari tanpa sempat dimaknai. Jadi fakta khazanah bawah sadar yang menteror lantaran tak ada ditempatkan secara rasional proporsional. Situasi senewen ambang bawah sadar yang bisa meledak jadi guncangan kebudayaan dan guncangan masa depan–seperti kata Alvin Toffler.

Dan, setelah menghasilkan banyak si penelad yang bermain di puisi mantra, yang total bermain bunyi, atau menata sugesti rupa di satu sisi, dan puisi berkeriuhan aneka benda tanpa ada trauma diberondongi oleh benda-benda dan fakta-fakta keseharian di bawah sadar di sisi lain, tercetus tanya: ego kreatif individualistik apa lagi yang akan muncul di khazanah sastra Indonesia? Saya pikir pertanyaan itu keliru, sebab dengan mengutamakan ego kreatif individualistik yang akan memerankan estafet pencapaian sastra baru, asumsi pertanyaan itu malah memutlakan satu corak ego kreatif.

Hegemonik. Dan bahaya dari kultus ego kreatif yang individualistik adalah bias yang bermula dari kekaguman pada satu terobosan estetika dan ekspresi seni. Pesona yang menafikan keberadaan dan fenomena teks (hasil) ego kreatif individualistik lain. Sesuatu yang masa kini terasakan dan dilawan–misalnya, genre estetika dan ekspresi seni Boemipoetra, meski cuma di tahap verbal tak resap ke manifestasi karya. Padahal hakikat individualisme itu perayaan kemajemukan, pengakuan akan beragamnya ego kreatif dan bukan berkukuh pada satu ego kreatif individualistik.

Ekses preferensi dari redaktur yang sepakat dan sesuai selera sehingga satu trend jadi menonjol dominan dengan membuat banyak trend lain tereliminasi–cuma dengan mengatasnamakan kultus ekperimen orsinil. Kini kesehatan sastra Indonesia sedang dipertaruhkan karena dibelokkan bias, oleh ode kultus ego kreatif individualistik yang disetumpukan di satu model esatetika dan ekspresi seni, sehingga banyak penjelajahan estetika dan ekspresi seni lain diabaikan, bukti ego kreatif individu dimainkan di jalur berbeda diabaikan.

Dan, orang-orang menandai semua itu sebagai keseragaman hasil penyeragaman, meski (sebenarnya): individualisme yang mengeras jadi hegemoni otoritarian karena kehilangan kesantunan dan toleransi pluralitasnya. Dan karenanya kita butuh manifes kebudayaan baru. n

* Beni Setia, Pengarang
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/03/individual-dan-manifes.html