Memasuki Usia 60 Tahun Hardi Masih Kuat Berkarya

Pamerkan Lukisan Retrospektif
Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Pelukis Hardi, ternyata masih kuat berkarya. Masih tetap melukis setiap hari, masih menghasilkan lukisan-lukisan retrospektif. Ketekunannya memainkan kanvas setiap hari membuktikan kesetiannya menekuni profesinya sebagai pelukis yang telah ia jalani sejak awal 70-an.

Dalam rangka memperingati usianya yang memasuki 60 tahun, pria kelahiran Blitar 26 Mei 1951 ini menggelar pameran lukisan dan peluncuran buku berjudul “Pameran Seni Rupa Retrospektif Hardi 60 Tahun”, di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Kemenbudpar, Ukus Kuswara, yang kehadirannya sekaligus mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik.

Disaksikan sejumlah undangan dan pecinta seni rupa, Ukus Kuswara kemudian menyampaikan pesan dan pujian Jero Wacik kepada Hardi.

“Saya mengenal Mas Hardi sebagaia salah satu tokoh seniman Indonesia yang berkarakter. Ia adalah salah satu dari sedikit seniman yang memiliki sikap fair dan objektif dalam mengamati perkembangan masyarakat dan bangsa ini dari waktu ke waktu,” tulis Menbudpar Jero Wacik dalam buku katalog Pameran Hardi.

Jero Wacik juga menilai Hardi sosok yang tanpa gentar suka melontarkan pikiran dan komentar kritis bahkan seringkai tajam, jika melihat sebuah kekurangan. Tetapi, jika melihat sebuah upaya perbaikan yang mengarah pada kemajuan negeri ini, tanpa sugkan dan segan iapun siap mengakui, memuji dan mendukungnya secara total.

“Pesan saya pada Mas Hardi teruslah teguh bersikap seperti itu, fair dan objektif, dan jangan pernah berhenti berkarya sehingga kelak Anda menjadi salah satu budayawan dan seniman Indonesia yang akan mendapatkan tempat indah dalam kenangan masyarakat dan bangsa ini,” lanjut Menbudpar.

Ukus Kuswara pun memuji setiap lukisan yang dipamerkan Hardi karena banyak menampilkan pemandangan dan manusia Indonesia secara asli. “Kesetiaan Hardi menghabiskan hari-harinya dengan melukis tentang keseharian Indonesia sungguh luar biasa,” ujar Ukus Kuswara.

Pujian lain juga datang dari sahabat dekatnya, antara lain dari Fadli Zon, mantan wartawan yang kini menjadi Sekjen Partai Gerindra. Pelukis Hardi yang pernah populer berkat lukisan Presiden 2001, dan karena lukisannya itu dia pernah ditangkap dan dijebloskan ke penjara, menurut Fadli Zon, adalah sosok yang mempunyai kepercayaan diri sangat tinggi.

“Ia tak mau takluk pada industri lukisan yang kaya rekayasa. Namun, di usia menembus 60 tahun, saya melihat Hardi jauh lebih bijaksana. Pengalaman masa lalu yang penuh mozaik itu, menjadikannya seorang yang arif tentu saja bumbu kritik Hardi tetap terasa di sana sini”, kata pemilik penerbit Fadli Zon Library, Fadli Zon, di Jakarta, Minggu. Dia menjelaskan, beberapa hari sebelum acara, Hardi menyerahkan dua buah koper kliping berisi tulisan-tulisannya dan berita peristiwa tentang aktivitas ataupun karya-karyanya. Dari dalam bundelan kliping tersebut, menurut Fadli, dapat diketahui bahwa Hardi bukan semata pelukis tapi juga penulis yang produktif dan tajam sehingga akhirnya menghasilkan dua buku yang berjudul ” Seni & Politik” dan “Seni Uang Rakyat”.

Hardi adalah juga seorang maestro di dunia seni rupa Indonesia. Fadli Zon menulis, pelukis Affandi bahkan menempatkan Hardi sebagai seorang pelukis terbaik Indonesia. Nama Hardi disejajarkan oleh Affandi dengan Sudjojono, Basuki Abdullah, Sudarso, Rusli, But Mochtar, Sadali, Srihadi dan Popo Iskandar.

“Saya yakin, selasa hayat di kandung badan, Hardi akan terus membuat jejak-jejak baru bagi sejarah seni rupa Indonesia,” ujar Fadli Zon.

Bagaimana menurut kesan pengamat seni rupa Sri Warso Wahono? Sudah sepantasnya Hardi menggelar pameran retrospektif karena dari hampir 60 tahun usianya, 40 tahun diantaranya dia habiskan di dunia seni rupa. Karena itu, amat sepatutnya Hardi melakukan pameran retrospeksi.

Sebab, kata Sri Warso Wahono, dari pameran penting itu banyak pihak akan bisa menyaksikan totalitas kesenimanannya lengkap dengan karya seni yang telah diciptakanya seutuhnya.

“Hingga tahun 2011 ini, Hardi sebagai seorang pelukis profesional sudah mengarungi proses penciptaan berbagai gaya dan tema. Aktivitasnya dimana-mana menakjubkan. Sebagai contoh tahun 1976 pameran tunggal di Heerlen, Belgia. Tahun 1990 pameran tunggal di Ubud, Bali. Tahun 1999 pameran tunggal di Culture Centre, Tokyo, Jepang. Pameran bersama seniman-seniman lain sudah tak terhitung jumlahnya.

Karya Hardi beragam tema dan obyek dari yang bernilai filosofis, historis, religius dan yang bernilai sosial, humanistik, politik serta yang berkutat dengan anasir artistik estetik. Beberapa periode karya-karya Hardi diwujudkan dalam bentuk seni grafis. lukisan, kolase foto seni dan sketsa hitam putih.

“Pelukis Hardi sekarang ini telah menjadi ikon budaya Indonesia. Gaung berita tentang diri berikut karya-karyanya telah tersiar dimana-mana. Hardi mampu membuka ruang dan cakarawala kreativitas seni rupa di Indonesia”, sambung Ketua BP TIM, Teguh Widodo. Teguh mengemukakan bahwa Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki amat bangga dan terkesan dengan pameran pelukis Hardi saat ini.

Hardi pun mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang diberikannya, sehingga pameran yang berbobot dan berkualitas ini dapat terselenggara sukses seperti yang kita harapkan semua.

“Tema lukisan saya masih tetap berhubungan dengan sosial masyarakat. Karena itu sudah menjadi ciri khas saya”, ungkap Hardi di sela-sela acara pameran.

Ia juga megatakan bahwa seni lukis di Indonesia sudah sangat berkembang dan mampu menjadi yang terbaik di dunia.

Hardi juga mengucapkan terima kasih kepada semua seniman dan semua pihak yang selama ini selalu mendukung karya-karyanya. Pemeran Hardi itu diselenggarakan sejak tanggal 17 dan berakhir 26 Juli 2011 mendatang di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

23 Juli 2011