MENGENALKAN PUISI SANJAK RIMA POLA TUANG 4444 ala lifespirit!

Imron Tohari

Ragam karya sastra baik puisi, prosa,sajak, dst, akan kian membuka pintu kreasi bagi penggiat sastra,pecinta sastra dan atau pencipta karya sastra itu sendiri. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dalam estetika bahasa pun estetika maknanya mampu memicu olah rasa piker penghayat dalam menggali kedalaman makna yang tersemat pada tubuh karya tersebut secara utuh.

Tumbuh kembang seni sastra puisi dari zaman ke zaman senantiasa melahirkan tekhnik-tekhnik dalam kepenulisan karya puisi dan atau sajak, seperti halnya lahirnya tekhnik-tekhnik baru dalam penulisan prosa, baik itu yang benar-benar baru, maupun tekhnik yang merupakan sempalan dari pola-pola tuang yang sudah ada sebelumnya. Dan memang harus seperti itu adanya agar seni sastra kian kaya ragam serta tidak jalan di tempat (Kalau tidak boleh dikatakan “Menjemukan”).

Berbicara mengenai pola tuang dalam berkarya cipta puisi dan atau sajak, saya termasuk salah satu orang yang tidak mau terikat pada salah satu medium tuang karya ( walau beberapa orang berpendapat bahwa dengan satu medium tuang akan memperkokoh identitas pengkarya cipta di mata penikmat baca/penghayat ), tapi saya punya alasan pribadi untuk itu, yang mana hal ini berkaitan dengan kenyamanan saya dalam berkarya cipta sehingga dengan begitu saya pribadi berharap bisa menyampaikan idea tema dengan maksimal.

Dan boleh dikata dari ketidak konsistenan pola tuang yang saya pakai dalam menghasilkan karya cipta puisi itulah pada akhirnya simpul kreatif saya terulik untuk menciptakan suatu karya puisi dengan pola tuang sanjak rima berpeluk 4444.

Puisi dengan pola tuang 4444 ini saya ciptakan atas dasar ketertarikan saya pada karya sastra sajak,syair,pantun yang berbasis akar budaya tanah leluhur yang kita cintai. Berawal dari sana saya tergelitik untuk membuat puisi sanjak rima dengan aturan yang boleh dikata tak lazim, karena pola ini terdiri dari serangkaian tautan kalimat yang per kalimatnya hanya terdapat 4 huruf pada kata/kalimat ( kata dasar ) ; 4 huruf dalam satu kata/kalimat, namun dalam satu kesatuan utuh tubuh karya, dan harus tetap memenuhi unsur sajak baik secara estetika bahasa pun secara estetika makna.

Sekali lagi perlu saya tekankan di sini, bahwasanya acuan dasar dari pola 4444 berakar dari sajak yang merupakan salah satu karya sastra budaya leluhur, namun begitu pada karya ini (yang selanjutnya saya sebut sebagai puisi pola 4444, lebih menitik beratkan pada jumlah huruf pada kata dan jumlah kata pada baris serta jumlah baris pada bait. Sedang saya pergunakan rima berpeluk semata untuk mendapatkan efec rima (metrum) saat dibaca. Satu lagi pada bacaan puisi pola 4444 dengan rima berpeluk. Pembaca akan mendapatkan efek gema. seakan kita ditarik lagi pada bunyi akhir awal bait. tarikan rima di baris awal bait dengan bunyi rima akhir dibaris akhir pada bait yang sama menciptakan suatu arus gravitasi kata dan atau gravitasi bahasa yang berseakan memantul dan menimbulkan bunyi yang bergema. Contoh: perhatikan efek gema yang ditimbulkan oleh rima yang saya beri tanda ( ) di bawah ini :

Pada jiwa yang la(ut)
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ik(ut)

Ahai! Loba bola ma(ta)
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi ka(ta)

Jadi dalam penggunaan rima tidak boleh asal mengejar bunyi saja, dalam pengertian “mengejar bunyi” yang saya maksudkan di sini, yaitu tidak hanya sekedar mencari kesamaan rima di akhir kalimat saja, padahal secara bentukan alur baris dan atau antar barisnya tidak saling terkait maksud/makna, jadi di sini yang saya maksudkan jangan hanya mengejar bunyi rimanya sahaja. Dan mengenai asonansi; perulangan bunyi vokal dalam deretan kata dan atau penggunaan aliterasi ; pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan, tidak mesti harus, yang pasti dasar pemikiran penciptaan karya ini sesuai dengan yang saya katakan diatas mengacu dari pola tuang sastra melayu pujangga lama tidak menyimpang dari pola rima berpeluk/berpaut, dan yang pasti tidak menyimpang aturan pola 4444.

Perihal jumlah huruf pada kata, akhirnya saya juga mendapati suatu kemungkinan baik atas elastisitas bahasa, dimana untuk kata tunjuk tempat adalah suatu hal yang mempunyai sifat khusus pada makna suatu kalimat bila tidak disertakan: di,ke, sehingga tidaklah mengapa bila lebih satu kata, bila kata tersebut merupakan satu kesatuan makna pada kata terkait. (di,ke). Hal ini berlaku juga untuk sesuatu kalimat/kata yang walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata,masih bisa di tolerir, Bilamana Ianya, kata/kalimat tersebut menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat, misal: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara dst.

Dan pada akhirnya, semoga puisi pola 4444 ini tidak memberi dampak negative bagi tumbuh kembangnya sastra tanah air, namun justru saya berharap pola tuang sanjak rima 4444 ini memberi inspirasi walau sekiranya hanya serupa titik bagi penggiat sastra tanah air dan atau pecinta sastra dalam membawa sastra ke puncak ketinggian bahasa. Insyaallah. Amin3x

KUMPULAN PUISI POLA 4444

1) Sang Naga

Naga emas para Dewa
Liuk laun naik ke mega
Suci laku suci kata
Budi baik arak jiwa

Hong! fana pada akar
Inti kata pada arti
Bila tahu laba rugi
Jauh l dari aku ular

Pada bayu, kata Naga
Kamu Hong saya nari
Saya nepi jika duri
Fana, rugi atau laba?

Bila hati satu rasa
Hari hari luah suka
Lupa lara juga duka
Tuan, Nona, ikat kala

______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 8 July 2011

2) Yang Satu
: Prof. Dimas Arika Miharja

Ayah, pada laku usia
Usai baca duka hati
Budi, ilmu pada arti
Atma baik sepi luka

Kata ayah, akal fana
Kala kita haus ilmu
Biar jauh dari semu
Buka luas mata jiwa

Ayah, pada saat pilu
Kamu ikat luka lara
Kamu tata suka cita
Agar hati jadi padu

Kata ayah, umur, saru
Kini pada sisa usia
Bila bila tiba masa
Puja puji pada Satu

__________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit rev.5 July 2011

3) Pada Lima

Kala pati dera jiwa
Akal budi jadi mati
Bila haus puja puji
Hati buta mati rasa

Bila umat taat adat
Jauh cela jauh dosa
Biar raya biar jaya
Jaga niat yang kuat

Hayo kita sama laju
Ajak mata juga atma
Jaga tata pada lima
Pada niat yang Satu

Agar jauh duka lara
Laku baik saka diri
Bila padu visi misi
cita cita luah suka

( lifespirit 2009 rev. 5 July 2011 )

4) Ohai!

Pada jiwa yang laut
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ikut

Ahai! Loba bola mata
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi kata

Tapi, bila baik iman
laku diri akan taat
Pada tuju kian giat
Hari hari elok nian

Ohai! Nona mata jeli
Buka mata buka hati
Jaga laku jaga diri
Maut;ajal, satu kali

_______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 6 July 2011

je·li a 1 elok dan bercahaya (tt mata)
Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.

5) Mati Suri

Pagi! Indonesia yang seri
Duka nian kamu Indonesia
Padi padi jadi bara
Lima sila jadi duri

Pada hati kami kata
Sila jadi meja judi
Para Tuan lupa diri
Jiwa jiwa luka: Kita?

Di Kota juga Desa: Sama
Sana sini gila uang
Meja meja gila Gong
Kini mati suri Indonesia

Di Masjid;Gereja;Pura;Vihara
Nada, sepi gema;bisu
Daun hati yang layu
Tapi, nadi kita Indonesia

_____________________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 9 July 2011

Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.

Indonesia; walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata, bisa di tolerir, sebab Ianya menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara

si·la n 1 aturan yg melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; 2 kelakuan atau perbuatan yg menurut adab (sopan santun); 3 dasar; adab; akhlak; moral: — dalam Pancasila saling terkait

salam lifespirit!