Jurnal Kembang Kemuning: Menumbuh-Kembangkan Sastra Buruh Migran

JJ. Kusni

Komunitas Perantau Nusantara [KPN] Hong Kong, yang kalau tidak salah, anggota-anggotanya terutama terdiri dari Tenaga Kerja Wanita [TKW] dalam surat siarannya di milis buruh-migran@yahoogroups.com [05 Maret 2005] dalam rangka memperingati Hari Kartini 21 April mendatang bermaksud menyelenggarakan lomba menulis puisi di kalangan buruh migran Indonesia. Surat siaran KPN itu menunjukkan bahwa “Tujuan utama yang hendak dicapai melalui lomba ini adalah :1) Continue reading “Jurnal Kembang Kemuning: Menumbuh-Kembangkan Sastra Buruh Migran”

Surat Berdarah dari Hong Kong untuk Presiden SBY

Insaf Albert Tarigan
http://news.okezone.com/

Cerita mengenai kepiluan yang menimpa Buruh Migran Indonesia (BMI) yang mengadu nasib di luar negeri sudah kerap kali menghiasi pemberitaan media massa dalam negeri.

Pemerkosaan, penyiksaan, pelecehan seksual hingga pembunuhan sadis seolah-olah bukan lagi “berita” karena nyaris terjadi setiap tahun. Mulai dari Malaysia, Arab Saudi, hingga Hong Kong. Continue reading “Surat Berdarah dari Hong Kong untuk Presiden SBY”

Nessa Kartika, Penulis Antologi Sastra-Berjuang

Untuk Kaum Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri
28th Desember 2010
http://berita21.com/

Nessa Kartika, seniman yang juga aktivis Buruh Migran Indonesia (BMI) terus berjuang memberikan kesadaran kepada kaumnya, melalui antologi tulisan-tulisan kritisnya yang ia buat sampai saat ini dan dia sekarang ini bermukim di Singapura, untuk terus berkarya bersama sahabat penanya Karin Malulana meretas jalan kebahagiaan bagi kehidupan TKI di luar negeri.Nessa Kartika, seniman yang juga aktivis Buruh Migran Indonesia (BMI) Continue reading “Nessa Kartika, Penulis Antologi Sastra-Berjuang”

Telah Terbit Lagi Karya Sastra di Balik Tangan Buruh Migran

Indira Margareta
http://www.kompasiana.com/indrimargareta.multiply.com

Kemarin aku membaca status teman juga pesan berantai di FB, bahwa telah terbit lagi buku karya Buruh Migran Indonesia di Hong Kong. Hebat!!!, tentu aku akan bilang seperti itu. Bagaimana tidak? Mereka yang bekerja berada di bawah naungan tuntutan sang juragan masih sempat menulis. Padahal waktu mereka adalah dua puluh empat jam sehari dalam enam hari, bahkan ada yang tujuh hari karena tidak mendapatkan hak libur. Tapi mereka menunjukan betapa mereka sangat menghargai waktu yang ada. Continue reading “Telah Terbit Lagi Karya Sastra di Balik Tangan Buruh Migran”

Ekspansi

Wawan Eko Yulianto

Setahun antara 2009 hingga 2010 saya menenggelamkan diri ke dalam riak gelombang musik country. Saya hayati kisah-kisah dalam setiap lagu yang saya sukai. Saya kenali orang-orang yang menyukai musik country. Saya coba jalani satu dua bagian hidup orang-orang yang diceritakan dalam lagu-lagu country. Saya ikuti juga gosip-gosip pribadi tentang para penyanyi country. Semuanya saya lakukan seperti seorang penikmat tanpa pretensi (setidaknya begitulah menurut saya). Continue reading “Ekspansi”

Bahasa »