Puisi-Puisi Asep Sambodja

Hikayat Pentungan

“Ceritakan padaku apa arti duka wong cilik?” tanya Seno pada sang penyair.

Lalu penyair bercerita,
pada mulanya adalah pentungan
yang bergerak semena-mena

pentungan itu melayang sendiri
tanpa diketahui siapa yang menggerakkannya
pentungan itu memukuli kepala-kepala kami
memecahkan kaca jendela rumah idaman kami
merobohkan istana kami
–kalian menyebutnya gubuk–

pentungan itu mengangkut gerobak kami
yang sejatinya adalah nyawa kami
dan menendang-nendang dagangan kami
yang sejatinya adalah napas kami

kami tak takut pada pentungan itu
hingga pentungan menggelindingkan traktor
yang melindas dinding-dinding rumah kami
meratakan denyut napas kami, tempat tidur kami

pentungan itu tertawa sendiri
tertawa terbahak-bahak keras sekali
melotot kesana-kemari
memamerkan seragam beracun

sepertinya pentungan itu hanya berani pada wong cilik
tapi tak punya nyali pada para tikus
yang menggerogoti uang rakyat
tikus-tikus got yang menguasai kantor-kantor pemerintah
pentungan itu jayus pada tikus

pentungan itu
akhirnya kepentung
pentungannya sendiri
ketika orang-orang tertindas
tak ingin makam mbah priok dilindas pentungan

Citayam, 16 April 2010.

Puisi 24 Karat buat Yuni

selamat ulang tahun istriku
cinta tulusmu telah menghidupkanku kembali
dari kematian yang panjang

mungkin aku sudah bukan aku yang dulu
karena dalam diriku telah mengalir 14 kantung darah
dari 14 manusia mulia di muka bumi ini
kau bilang aku seperti drakula
dan ada 15 kepribadian dalam diriku
aku setuju
meski aku tetap cinta padamu

di kafe pinggir danau yang sepi
kau dengar apa yang kukatakan pada guru
yang sangat kucintai
bahwa aku serupa manusia multikultural
seperti yang sering ia ajarkan padaku

hari-hari dalam hidup baruku ini
kuingin selalu bersamamu
apakah arti kekuasaan
tanpa kau di sampingku
apakah arti kejayaan
tanpa kau di sampingku

hidupku yang paling berarti
adalah senyummu yang melekati hatiku
setiap saat
setiap tarikan napas
setiap kau menyanyi lagu cinta yang kau suka

selamat ulang tahun istriku…

Citayam, 16 April 2010.

Doa Kami buat Bunda

pada mulanya adalah waktu
jam dinding, penanggalan, dan ibu
yang terbujur kaku

masih kulihat senyum dan ikhlasmu
meninggalkan kami

tapi masih kurasai kasih
dan kesabaranmu
yang baluri jiwa-jiwa kami

saatnya kini kami hangati tidur panjangmu
dengan doa-doa dan ayat-ayat suci
agar kau tak merasa sepi sendiri

ibu, sudah banyak yang kau beri
dan kau tak harap kembali
ada satu waktu kita kan bertemu lagi
dan cukup bagiku pernah lahir dari rahimmu
dan senang bisa mencintaimu

ibu, aku ingin berdoa seperti yang pernah
kau ajarkan dulu:
“Tuhan, sayangilah ibu dan bapakku
sebagaimana mereka menyayangiku”

amin.

Ungaran, 7 Mei 2010.

Kepada Nari Asmiati

ingin kutulis sebuah surat
buat seorang malaikat
yang dengan sayapnya terbang kian kemari
melintasi pulau-pulau dan samudera

ingin kukatakan padanya
betapa aku bahagia
entah mengapa
yang pasti karena sayap malaikat
yang mendekap segala haru

ingin kuingat kata-kata sakti
seorang dewa yang baru turun ke bumi
indonesia
“nari, cintaku berdarah-darah padamu.”

Kebagusan City, 16 Mei 2010.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=211890058839867