Sastra TKI dan Ciri-cirinya

JJ. Kusni
http://wachyu.depsos.org/

Mengikuti kehidupan perpuisian di dunia maya dan media cetak tanahair, sampai sekarang nampak bahwa sanjak cinta tetap merupakan arus kuat dan gelombang besar yang menggemuruh dan berdebur. Yang saya maksudkan dengan sanjak cinta, tidak lain daripada sanjak-sanjak yang mengambil cinta sebagai tema olahan. Barangkali keadaan demikian berkaitan dengan usia relatif muda para penulis karya-karya puisi tersebut, di samping asal strata sosial mereka yang bisa dikelompokkan pada lapisan kelas menengah, lulusan “tiga pintu” [pintu keluarga, sekolah dan kantor] dan masih asing dari badai topan perjuangan mayoritas penduduk yang bersifat hidup-mati serta kalah-menang. Bersumber dari basis sosial-ekonomi demikian maka sastra-seni yang dilahirkan pun mencerminkan keadaan lapisan kelas-menengah dari mana para pendukungnya berasal. Wajah sastra-seni yang agak kelimis, wangi parfum dan salon yang asyik dengan keasyikan dunia tersendiri di mana tidak jarang soal-soal buruh, tani, politik dilirik sekilas atau dipandang dengan menyipitkan mata keheranan seperti orang tercengang ketika tiba-tiba berhadapan dengan seekor kijang tersesat ke halaman rumah pusat kota. Apalagi selama hampir tiga dasawarsa, rezim Orde Baru Soeharto melakukan depolitisasi yang sangat sistematik.Di tengah-tengah syarat politik, sosial-ekonomi dan budaya dominan yang demikian, maka munculnya manusia penyair yang sekaligus sebagai aktivis gerakan demokratisasi seperti Wiji Thukul yang berasal dari lapisan bawah masyarakat, tidaklah merupakan hal yang jamak. Sekalipun memang dari sisi lain juga bisa dilihat bahwa Wiji Thukul dengan begitu dilahirkan oleh zamannya seperti halnya Mas Marco atau Cak Durasim dilahirkan oleh zaman masing-masing. Perbedaan asal strata-sosial serta jauh dekatnya, terlibat tidaknya para penyair dengan kehidupan mayoritas dan gerakan sosial-politik, memperlihatkan diri kembali pada karya, pada sikap para seniman [dalam hal ini, penyair] ketika menempatkan puisi di tengah kehidupan dan masyarakat. Bahkan pada di mana mereka menempatkan diri sendiri dalam kehidupan dan masyarakat yang tentu saja bersesuaian dengan pandangan hidup yang banyak ditentukan oleh kondisi sosial.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah gejala yang diperlihatkan oleh warga masyarakat Tenaga Kerja Indonesia [TKI], yaitu orang-orang Indonesia yang mencari pekerjaan dan bekerja di luarnegeri. Seperti umum diketahui bahwa jumlah TKI tidaklah kecil dan mereka tersebar di lima benua, mulai dari Amerika melalui Eropa, Afrika dan Asia sampai ke Australia. Gejala yang saya maksudkan adalah terutama gejala yang berkaitan dengan bidang sastra-seni. Walaupun masih dalam jumlah yang belum menonjol agaknya warga masyarakat TKI sudah mulai mengungkapkan diri, menuturkan pahit-getir serta permasalahan mereka dalam bentuk karya sastra-seni seperti: puisi, laporan, esai, cerpen, lukisan dan drama. Dalam bidang puisi, misalnya nama Mega Vristian [Hong Kong] nampak paling menonjol, sedangkan bidang esai mulai menampilkan dua nama: Jelitheng [Eropa Barat] dan Erine Endri [Beijing], lalu di bidang reportase atau laporan telah muncul nama Suraiya Kamaruzzaman [Hong Kong]. Karya-karya mereka muncul dan disiarkan selain melalui internet juga disiarkan di penerbitan-penerbitan buruh migran di luar negeri serta majalah dan suratkabar di Indonesia.

Karya-karya mereka memperlihatkan ciri yang berbeda dari karya-karya dominan atau arus umum dalam sastra-seni yang berkembang di Indonesia dewasa ini. Sekalipun para penulisnya hidup di luarnegeri mereka tidak mengesankan tenggelam oleh glamour konsumerisme, tidak silau oleh kemerlap kehidupan negeri orang. Melalui tulisan-tulisan mereka yang tidak lain dari warga masyarakat TKI itu sendiri atau aktivis organisasi buruh migran, kita mengenal pahit-getir, persoalan dan harapan para TKI. Keberpihakan kepada pihak yang lemah, tuntutan akan keadilan dan kemanusiaan merupakan ciri utama karya-karya warga masyarakat TKI ini. Sastra-seni bagi warga masyarakat TKI seperti halnya Wiji Thukul dengan puisi-puisinya, merupakan alat memanusiawikan diri dan kehidupan. Sikap ini nampak jelas dari sanjak-sanjak Mega yang belakangan disiarkan seperti: “Megatruh Purwanti”, “Satiyem: Ibu Indonesia”, “Amien Fahlan”, “Elegi TKW”, “Dari Taman Victoria”, “Mariska”, dan lain-lain… bahkan pada sanjak tiga barisnya berikut:

“MALAM MINGGU”

malam mingu
cuma kuintip dari jendela kamar
ada darah menetes di wajah rembulan

Hong Kong, 27 Maret 2004.”

“Darah [yang] menetes di wajah rembulan” itu adalah darah buruh migran, terutama di Hong Kong di mana Mega hidup dan bekerja sebagai TKI. Mengapa fisik dan jiwa warga masyarakat TKI di Hong Kong sampai berdarah? Penyair memancing dan mengundang kritikus dan pembaca untuk mengenal permasalahan lebih jauh.

Melalui sanjak-sanjaknya yang belakangan, nampak Mega sudah memasuki tahap baru dalam berpuisi. Keberpihakannya makin nyata dan jelas. Mega sudah meninggalkan tema cinta dan memasuki wilayah perjuangan politik, sosial dan ekonomi, hak azasi, keadilan. Mega, seperti halnya juga Erine Endri, Jelitheng dan Suraiya menempatkan karya-karya mereka dalam kontek perjuangan TKI dan kemanusiaan. Keberpihakan dan di mana puisi serta karya-karya ditempatkan oleh para penulis warga masyarakat TKI, diungkapkan dengan tandas oleh Mega dalam sepucuk suratnya [29 Maret 2004] kepada Mawi, penyair yang tinggal di Amsterdam, di mana antara lain dikatakannya:

“Entah abang apakah masih menyediakan waktu untuk membaca puisi saya, yang ada di beberapa milis sastra.Dari situ abang bisa memahami betapa hati dan nurani saya merasa terbantai melihat penderitaan, penindasan dan ketidak adilan yang di alami beberapa rekan TKI lainnya.

Saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka, walaupun mungkin apa yang saya lakukan belum bisa menolong banyak terhadap mereka. Lewat puisi, saya berbicara pada dunia, lewat puisi saya mengurai penderitaan mereka pada bunda pertiwi, karena mereka adalah anak negeri yang perlu perhatian, belai sayang dan pertolongan dari bunda pertiwi. Entah apakah bunda pertiwi akan tega membiarkan lima anaknya saat ini meregang takut menanti keputusan hukuman mati dari pemerintah Singapura?”

Keberpihakan para penulis TKI ini tidak berhenti pada kata-kata, tapi mereka ujudkan ke dalam kenyataan dengan terjun langsung sebagai aktivis. Mega dan Suraiya misalnya aktif di Indonesia Migrant Worker Union [IMWU], Jelitheng aktif dalam berbagai kegiatan humaniter di Eropa Barat, Erine yang tadinya di Xiamen melanjutkan kegiatan serupa di Beijing. Kata dan praktek disatukan oleh para penulis TKI karena kata dan praktek adalah kehidupan mereka sendiri. Dituntut oleh kehidupan sebagai TKI, karya, juga puisi di tangan mereka bukan menjadi lagu ninabobok tapi untuk memanusiawikan diri dan kehidupan. Kehidupan jugalah yang mendesak mereka untuk menjadi penyair, menjadi penulis tapi sekaligus sebagai aktivis praktis yang menerjuni langsung kancah pertarungan yang membuat “rembulan” pun terpercik “darah”. Di kancah pertarungan berdarah [yang jauh dari wangi salon dan kelimis wajah fisik dan kekenesan jiwa kelas menengah] inilah mereka menempa, mengobah dan mematangkan diri dan karya-karya mereka. Dengan latarbelakang kehidupan begini maka tokoh yang lahir dari karya-karya penulis TKI bukanlah noni-noni dan sinyo kota serta salon yang suka bingung dan stress.

Dua jenis sastra-seni lahir dari dua sastra sosial berbeda. Keduanya lahir dan hidup di dunia sastra Indonesia sekalipun sastra dan karya yang ditulis diciptakan oleh lapisan bawah sering tidak dipandang sebelah mata, dipandang tidak bernilai seni, kurang bobot universal dan penuh demagogi oleh penulis dan seniman salon. Sikap beginipun memperlihatkan bahwa di dunia sastra-seni terdapat paling tidak dua standar dan norma. Standar salon dan standar populer di kalangan bawah.Yang menggelikan bahwa kehidupan sering mempertontonkan pertunjukan dimainkan para seniman dan manusia salon yang bicara tentang universalisme, tentang kemanusiaan, demokratisasi atau keadilan, sementara pada detik yang sama tindakan mereka menyangkal ucapan mereka sendiri. Sehingga kita dipaksa merenung apakah universalisme tidakkah sama dengan kepentingan kelompok dan golongan; kemanusiaan sinonim dari perbudakan, demokratisasi sama dengan otokorasi dan diktatur; sedangkan keadilan berupa penindasan terhadap yang lain.

Jika demikian, apakah tidak perlu sejarah sastra ditulis kembali atau sejarah sastra lapisan bawah yang tidak dindahkan atau kurang diperhatikan, memang sudah selayaknya ditulis? Jika kelak ia ditulis, saya kira sastra TKI, sastra bawah tanah, sastra-eksil, karya-karya di tahanan dan penjara serta yang selama ini tidak diperhatikan, akan mendapat tempat yang patut.

Catatan belajar ini hanyalah suatu usaha awal memahami ciri-ciri sastra-seni TKI yang sekarang memperlihatkan tanda-tanda keberadaannya di dunia sastra Indonesia. Pernahkah gejala ini sejenak berkelebat di mata perhatian para pengamat sastra dan kalangan akademisi negeri kita? Ataukah karya yang dihasilkan warga TKI akan senasib dengan TKI itu sendiri di kalangan bangsanya. Boleh jadi begini: Warga TKI dan penulis-penulis TKI pertama-tama dan terlebih dahulu, layak pandai dan bisa menghargai serta menghormati diri sendiri. Dalam hal ini organisasi buruh migran seperti IMWU bisa memainkan peranan penting. Siapapun tidak akan menghormati dan menghargai diri kita kalau kita tidak pertama-tama menghormati dan menghargai diri sendiri. Mengapa tidak misalnya ILWU menerbitkan karya-karya tentang TKI dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia? Saya melihat bahwa sastra TKI mempunyai ciri dan watak tersendiri yang hanya membuatmenambah pelangi sastra tanahair bertambah warna.

“Pengorbanan berat membulatkan tekad
yang kuasa menempa surya dan candra
bercahya di cakrawala baru”

demikian seorang penyair Tiongkok menulis ketika Tiongkok menghadapi kesulitan demi kesulitan beruntun. Barangkali kata-kata penyair Tiongkok inipun bisa diterapkan dalam usaha warga TKI termasuk para penulisnya, guna menghormati dan menghargai diri sendiri. Banyak yang bisa dilakukan ketika prakarsa tersulut dan marak.

Paris, Maret 2004.
—————–
sumber:
1) http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/10935
2) http://wachyu.depsos.org/2010/06/02/sastra-tki-dan-ciri-cirinya/