Jejak Langkah Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat

Rahmat Sularso Nh*
http://www.radarmojokerto.co.id/

Jombang sebagai kota dengan demografi yang strategis karena representatif dalam jalur transportasi, pergerakan ekonomi, serta arus kebudayaan. Tidak pelak kondisi ini benar-benar terasa dalam arus budaya yang terus berkembang dan mengalami kondisi bergeliat akhir-akhir ini semangat penggiat seni Jombang. Terlihat dari pelbagai kantong-kantong kesenian mulai berjalan dengan genre yang di bawanya. Misalnya teater tidak henti melakukan pagelaran-pagelaran dari tiap gedung pertemuan Jombang, misalnya Mahasiswa STKIP PGRI Jombang mengadakan pentas studi tiap awal tahun. Belum lagi komunitas-komunitas teater seperti Komunitas Tombo Ati Jombang, tidak melewatkan menyelenggarakan pentas dalam rangka disnatalis maupun mengusung naskah-naskah dengan membicang persoalan sosial yang kadang kala masih terdapat benang merah terhadap relevansi kondisi sosial masyarakat Jombang.

Gebrakan lain pun coba dilakukan Teater Kopi Hitam Indonesia yang digawangi Cucuk Sp dengan rekan-rekan, mengusung konsep minimalis dan memanfaatkan ruang pementasan sebagai properti dalam mendukung pagelarannya. Ternyata memperoleh responsif dan apresiasi sangat positif, terbukti dengan menggelar pementasan keliling ke daerah-daerah yang sebelumnya sudah menjalin jejaring kebudayaan.

Kondisi tersebut ternyata dibarengi dengan geliat kantong sastra yang ada di Jombang tidak ingin melewatkan semangat kesenian yang mulai membakar. Geladak Sastra dari Komunitas Lembah Pring Jombang sebelumnya sudah memulai terlebih dahulu, di Pondok Pesantren pun turut memeriahkan oleh komunitas Kopi Sareng di Pondok Pesantren Tebuireng, Komunitas Koma dari Pondok Pesantren Tambakberas, serta santri-santri di Pondok Pesantren Rejoso Peterongan sudah mengusung gagasan sastra yang bersumber dari Pesantren maupun meloncat pagar di luar Pesanter. Adagium yang sudah di sampaikan itu menggambarkan atmosfir kesenian yang terdapat di Jombang telah semarak khusunya seni sastra dalam hal ini.

Menegok aktifitas tersebut Sanggar Belajar Bareng (SBB) Gubug Liat pun menampilkan ragam kegiatan sastra yang tidak jauh beda. Mulai dari diskusi, bedah buku, atau menyoal peristiwa tertentu. Seperti pengakuan Lurah Komunitas Lembah Pring Jombang, Jabbar Abdullah dalam SMS nya mengakatan setiap pertemuan, akan selalu terjadi interaksi dari yang hadir. Di situ akan terjadi pertukaran dan penularan informasi serta transformasi pengetahuan. Lebih dari itu, pertemuan adalah salah satu upaya menguatkan silahturrohim dan jejaring. Tidak lepas dari gagasan itulah SBB Gubug Liat mencoba membangun sinergitas yang harmonis antar elemen masyarakat kesenian serta bagi individu-individu yang berniat belajar kesusastraan Indonesia. SBB Gubug Liat pun bisa dikatakan menemukan roh nya ketika menangkap gairah dari gerakan Geladak Sastra Komunitas Lembah Pring Jombang dengan kesederhanaan mampu menciptakan ruang serta jaringan-jaringan baru terlepas dari lingkungan Jombang saja.

Setahun lebih SBB Gubug Liat berjalan, Jumatan Sastra yang sudah memasuki episode kedelapan dianggap ruang berlajar paling fleksibel dengan dilaksanakan setiap minggunya pada hari Jumat pukul 18.45 WIB di Gazebo STKIP PGRI Jombang. Bagi sebagian kawan ketika informasi pelaksanaan Jumatan Sastra mulai disebar melalui SMS atau jejaring sosial agaknya menganggap kegiatan itu cukup ekstrim kalau dilihat pada namanya. Semula memang dari diskusi biasa tiap pekannya, harapannya untuk membangun eksistensi dalam bersastra. Sebab dalam beberapa kesempatan pertemuan, pertanyaan-pertanyaan tentang aktivitas Gubug Liat seperti apa masih menjadi bayangan yang terus mengejar. Istilah Jumatan Sastra pun terceletuk pada pertemuan keempat, saat membahas tentang naskah monolog K O N D A N G karya Tedi Subohastowo. Jumatan Sastra kemudian menjadi istilah agenda mingguan SBB Gubug Liat sampai saat ini.

Berangkat dari sanalah, menghimpun kawan-kawan dari kebersamaan yang sudah terjalin sebelumnya dalam kegiatan selama studi di STKIP PGRI Jombang. Akhirnya berkelanjutan mengisi ruang sastra di Jombang, dengan diawali diskusi kelompok kecil secara berganti di rumah anggota sebab belum mempunyai sanggar, mampu dilanjutkan memfasilitasi membedah Menggugat Pertanggungjawaban Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri sebuah kumpulan esai Nurel Javissyarqi dalam Safari Sastra mengunjungi jejaring di sekolah. Saat itu yang menerima tawaran SBB Gubug Liat dengan belajar bareng peserta didik di sana adalah SMA Muhammadiyah 1 Jombang. Setelah itu menggagas diskusi rutin tiap minggu masih dengan konsep belajar bareng dan hingga saat ini sudah memasuki pekan ke sembilan bisa menampilkan sembilan pembahasan berkelaanjutan tiap minggu. Mengawali membincang mengenai Perjalanan Sastra Indonesia, Belajar Menulis yang Mudah dan Enak Dibaca pembahasnya M. Rifqi Rahman, mengapresiasi puisi-puisi Rangga Prayoga (mahasiswa STKIP PGRI Jombang), membedah naskah monolog K O N D A N G karya Tedi Subohastowo, tidak ketinggalan pengajar dari Kecamatan Perak Miftakhul Rozak menyajikan kumpulan puisinya dalam Bercinta Malam-malam untuk di gado bareng, cerpen Antara Jiwa, Keyakinan, dan Kepastian karya Ari Sintya (Mahasiswa STKIP PGRI Jombang), esai Aktualisasi Sastra Jawa di Era Sekarang karya M. A. Malik, pekan terakhir Sinau Puisi dengan keterlibatan semua kawan-kawan yang datang ke pembelajaran kontekstual membuat puisi.

Selanjutnya mengamati dari aktivitas sastra selama ini di Jombang yang berkutat pada tataran diskusi, bedah buku, ataupun melakukan pembacaan lainnya. Kiranya perlu gebrakan lain untuk memecah kejenuhan audience dengan membuka kesempatan membangun komunikasi lain dengan masyarakat di luar sastra. Misalnya mengajak kawan-kawan mahasiswa, pelajar, bahkan santri yang tertarik dan ingin belajar sastra. Bisa jadi menghindari pertemuan-pertemuan sastra hanya dengan orang-orang yang sama, baik berbeda penyelenggara dan acaranya. Proses pemberdayaan pun menjadi pilihan, misalnya membuat esai-esai ketika membedah karya keluarga besar SBB Gubug Liat di tunjang membawa referensi serta buku-buka yang bisa dijadikan rujukan ketika memberikan kritik. Terakhir mengadopsi dari proses pembelajaran di sekolah, melaksanakan pembelajaran kontekstual membuat puisi dengan menangkap ide-ide dari lingkungan sekitar untuk digambarkan kedalam bentuk puisi.

Menyelenggarakan dengan tempo berkesinambungan bukan berarti sejalan dengan kehendak yang sudah terbersit dalam angan. Hadangan timbul tenggelam datang dari berbagai sumber. Meskipun begitu tidak menjadi alasan mendasar sehingga harus menghentikan, bahkan ketika mengalami kevakuman beberapa waktu. Menumbuhkan memang berbeda ketika sudah merawat butuh konsistensi dan selalu tumakninah. Sehingga Jumatan Sastra pun tetap ada dalam gempita sastra meski membaca serta menulis masih tergolong aktifitas pribadi, bisa pula dilakukan secara komunal. Memasuki Bulan Ramadhan 1432 Hijriyah pun disiapkan formula baru agar lebih tepat dengan situasi dan kondisi. Meyesuaikan tema perbincangan, bahan pembelajaran, dan waktu pelaksanaan mau atau tidak tetap harus melebur.
Semoga semangat itu terus membara, bak Api Abadi.
__________
Rahmat Sularso Nh, Penggiat Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat