Joko Tarub dan Dewi Langit

Sunaryono Basuki Ks
http://www.balipost.co.id/

Kamu pasti sudah mendengar kisah mengenai lalaki desa yang bernama Joko Tarub yang sangat beruntung bisa mempersunting seorang bidadari dari langit yang bernama Dewi Langit. Apakah benar namanya Dewi Langit tidak seorang pun yang tahu sebab perempuan cantik jelita itu tak pernah mengatakan siapa namanya sebenarnya, dan bilamana Joko Tarub bertanya dengan lemah lembut siapa namanya, maka dia juga akan menjawab dengan lemah-lembut.

“Sebut saja aku Dewi Langit sebab aku memang turun dari langit.”

“Tetapi, kamu turun ke bumi bersama delapan dewi cantik jelita. Apakah mereka semua Dewi Langit?”

“Apakah Kanda waktu mencuri selendangku pernah bertanya, siapakah pemilik selendang itu? Apakah aku, atau salah seorang dari delapan saudara-saudaraku? Kami memang selalu bepergian bersama, makan bersama, idur bersama dan mandi bersama. Sekarang aku merasa sangat kesepian sebab terpisah dari saudara-saudaraku yang sangat kukasihi. Ayah ibuku pasti sangat marah sebab kami tidak pernah minta ijin unuk turun kebumi dan mandi di telaga warna harum bunga.”

“Kenapa kau memilih mandi di sini? Bukankah pemandian di langit pati jauh lebih baik? Aku dengar dongeng bahwa di langit ada kolam susu dan taman bunganya sangat indah sehingga manusiapun ingin memasuki taman Firdaus itu, bercanda dengan para bidadari, bercinta dengan mereka?”

Dewi langit hanya tertawa.

“Ayahku pasti marah dan beliau bisa saja mengerahkan pasukannya yang semua perempuan untuk menjemputku di sini dan menghukummu?”

“Kenapa tidak datang?”

“Ayahku sangat menghormati rasa cinta. Pasti ayah mengira aku mencintaimu sehingga tidak ingin melukai hatiku. Dan lagi, mungkin saja saudara-saudaraku tidak tahu bahwa selandangku dicuri . Mereka pasti mengira selendangku hilang ditiup angin dan jatuh entah kemana. Namun ternyata kamu mencurinya. Apakah saat kamu mencurinya kamu sadar bahwa itu selendangku yang bisa membuatku mampu terbang ke langit?”

“Tidak. Aku hanya memilih warna merah sebab merah bagiku adalah tanda cinta. Aku mencintaimu, Dewi!”

Dia tertawa dengan angunnya.

“Cinta dengan mencuri! Kenapa kamu tidak pernah bertanya apakah aku mencintaimu?”

“Apakah kamu mencintiaku, Dewi?”

“Apa lagi yang bisa kulakukan selain mencintaimu? Tanpa selendng itu aku tak mampu kembali ke langit, dan di muka bumi ini, kemana lagi aku harus berlindung?”

“Jadi kamu terpaksa mencintaiku?”

“Aku tidak merasa terpaksa sebab memang keadaanlah yang membuatku begini. Sering manusia harus menerima keadaan yang menimpanya karena tidak bisa berbuat lain. Dan aku sekarang menjadi seorang manusia, yang terdiri dari darah dan daging, yang punya nafsu. Dulu aku tidak pernah marah, tidak pernah merasa tersinggung sebab memang aku tidak dibekali dengan nafsu. Sekarang barulah aku merasa direndahkan, derajatku menjadi rendah serendah-rendahnya bagaikan derajat seekor binatang.”

“Tetapi aku seorang manusia walau aku hanyalah seorang pemuda desa.”

“Manusia hanya lebih unggul satu hal dari binatang.”

“Satu hal?”

“Ya, bahwa manusia berbicara dan binatang tidak.”

“Tetapi aku bercocok tanam untuk hidup.”

“Ya, benar, tetapi selain itu kamu menangkap ikan, memetik buah dari pohonnya, semua seperti binatang.”

“Tetapi aku membuat jaring untuk menangkap ikan.”

“Ya, kamu memang binatang yang bicara dan membuat alat.”

“Dan punya rasa cinta”

“Apakah kamu kira binatang tidak punya rasa cinta?”

“Apakah?”

“Induk binatang selalu melindungi anaknya, itu ungkapan rasa cinta. Dan binatang-binatang tertentu juga melindungi pasangannya, Hanya ayam dan anjing yang tak pernah melindungi pasangannya sebab mereka memang tidak hidup berpasangan. Coba kamu perhatikan seekor harimau atau seekor singa”

“Disini tidak ada singa..”

“Ya, andaikata kamu mengenal mereka..”

Walau pun mereka berbeda pendapat, Dewi langit hidup juga sebagai pasangan Joko Tarub. Istri? Mungkin, sebab mereka tidak pernah menikah sebab di desa itu hanya terdapat beberapa pondok yang berisi beberapa keluarga, dan belum pernah ada upacara pernikahan di antara warganya. Namun demikian bukan berarti mereka tidak hidup bersama sebagai sepasang suami dan istri. Dewi Langit memberi satu syarat: Joko Tarub sekarang tidak lagi diperkenankan memasuki lumbung padi mereka.

Pagi hari terdengar suara lesung dipukul pertanda Dewi Langit menumpuk padi untuk keperluan makan mereka dan sebagian untuk dijual ke pasar.

Pasar! Ternyata pasar ada di dusun sebelah, yang jaraknya tak lebih dari seratus pohon kelapa dari tempat tinggal mereka. Kesanalah Dewi Langit menjual beras dan membeli bumbu serta garam. Dia tak perlu membeli ayam sebab di halaman rumah mereka puluhan ekor ayam berkeliaran dengan bebas. Kalau Joko Tarub ingin menyantap daging ayam maka lelaki itu akan menangkapnya, menyembelihnya dan menyerahkan ayam itu pada Dewi Langit.

“Aku paling suka ayam bakar. Ayo masaklah yang enak.”

Dengan patuh perempuan itu menuruti perintah Joko Tarub. Namun, di atas tikar makan ternyata perempuan itu menyantap nasi dan sayuran. Sayur-mayur itu dipetik dari kebun mereka, bukan dibeli ke pasar.

“Ayo makan,” kata Joko Tarub ketika menyaksikan Dewi tidak menyentuh ayam panggangnya. “Ini lezat sekali!”

Dia hanya diam, tetapi ketika terus didesak, Dewi menjawab:

“Di langit kami tidak makan daging. Kami hanya makan buah-buahan dan sayuran, karenanya kami sehat dan mampu terbang melayang ke atas bumi, menemukan telaga sunyi dengan air beraroma bunga rampai sejuta ragam.”

“Jadi, kalau aku tidak makan daging, aku juga bisa terbang?”

“Mungkin, asal saja kamu mengenakan selendang terbangku.”

“Mengenakan selendang terbangmu? Mungkinkah?”

“Aku tidak pernah bertanya begitu. Aku mengenakan selendang terbang dan kemudian tubuhku terangkat ke langit dengan sendirinya. Aku mampu menari-nari di angkasa, meliuk kesana-kemari.”

“Oh,” pikir Joko Tarub.

Lalu dia membayangkan dirinya terbang melayang ke langit, ke negeri para bidadari, Di sana dia akan berjumpa dengan puluhan bahkan ratusan bidadari cantik yang akan diperistrinya. Rasa tamak makin menjadi, hari demi hari, dan dia berusaha mengingat dimana dia meletakkan selendang itu. Apa dilangit-langit rumah? Ah, kemudian dia ingat bahwa selendang itu dia sembunyikan di dalam lumbung, di bawah tumpukan padi yang belum ditumbuk. Sudah semusim panen ini dia tidak bercocok tanam, sebab sehari-hari dia selalu ingin mendampingi istrinya yang cantik jelita. Apakagi saat Dewi Langit memberinya seorang bayi mungil yang jelita bagai ibunya. Dia benar-benar melupakan tugasnya sebagai petani. Dia merasa berbahagia dengan bayinya itu, dan dia ingin menggauli istrinya sampai mendapatkan banyak, banyak sekali anak. Mungkin lima orang, nungkin sepuluh orang. Apakah ini gejolak nafsu? Nafsu seorang manusia? Dia tidak peduli.

Maka dia pun membabi buta masuk ke dalam lumbung dan mengeluarkan tumpukan padi dari dalamnya. Saat itulah Dewi Langit memergokinya dan menegur:

“Kamu sudah tidak setia. Kamu langgar perintahku. Kenapa?”

Joko Tarub tidak mau mengakui kenginannya.

“Tidak. Aku hanya ingin membersihkan lumbung padi.”

“Untuk apa dibersihkan? Bukankah sudah beberapa musim panen ini lumbung tidak pernah diisi?”

Joko Tarub tidak sadar bahwa dia tidak pernah mengisi lumbungnya namun padi di dalam lumbung itu serasa tidak pernah berkurang. Sebagaimana kamu tahu di dalam kisahnya, padi di dalam lumbung itu semakin hari semakin berkurang, dan akhirnya Dewi Langit menemukan selendangnya di lantai lumbung yang kosong. Dan dengan selendang itu dia terbang kembali ke langit ke alam para bidadari. Itu yang terjadi pada dongengnya.

Tetapi ini bukan dongeng, ini kisah nyata tentang lelaki desa yang bernama Joko Tarub yang memperistri Dewi Langit dan mempunyai anak perempuan berusia tiga tahun yang sangat jelita dan lucu.

Joko Tarub terperanjat ketika melihat Dewi Langit telah mengenakan selendang di pinggangnya. Selendang berwarna merah yang membuatnya semakin jelita menyala. Dia pun berlutut memohon, bersama puterinya yang juga berlutut:

“Jangan tinggalkan kami Dewi.”

“Jangan tinggalkan aku, Ibu.”

Dewi Langit hanya tersenyum. Sebentar lagi dia akan mengibaskan selendangnya dn melayang ke langitm ke negeri para bidadari. Lalu dengan tersenyum Dewi Langit mengibaskan selendangnyam bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, bersatu kembali dengan ayah ibunya dan dengan saudara-saudaranya.

“Istriku!!! Dewiku!!!”

“Ibu! Ibuuuu!”

Dicobanya sekali lagi mengibaskan selendangnya namun tak ada sesuatu pun yang terjadi. Dewi Langit akhirnya sadar bahwa dia sudah berubah menjadi manusia. Dia telah menikah dengan seorang manusia dan beranak manusia. Dia bukan lagi seorang bidadari.

Matanya buram dan kemudian air matanya tetes. Air mata manusia. Bilamana dia mampu balik ke langit, siapakah yang akan memanggilnya ?Ibu? dan siapa pula yang akan memanggilnya ?Istriku?. Dia ingat bahwa di langit tidak ada seorang pun laki-laki kecuali ayahnya.

Perempuan itu bersimpuh di depan suami dan anaknya:

“Maafkan daku, anakku. Maafkan daku Kanda,” katanya. Untuk pertama kali dia memanggil lelakinya kanda. Joko Tarub pun menyadari kesalahannya: menjadi tamak dan loba, menginginkan memperistri sembilan bidadari. Bukankah seorang istri sudah cukup, seorang perempuan yang telah memberinya anak dan akan memberinya lagi anak sampai mereka tua bersama serperti mimi dan mintuno.

Mereka bertiga berpelukan dan bersama-sama masuk ke dalam rumah mereka. Rumah yang merupakan istana langit bagi mereka yang hidup di langit angan-angan. Ada kemesraan. Ada cinta, dan rasa cinta itulah yang dia pelajari di atas bumi. Dan Dewi Langit bersyukur bisa hidup sebagai manusia sejati, yang mungkin akan bergelimang dengan dosa, namun akan punya kesadaran untuk menyesali dosanya itu dan menjadi manusia yang baik. Itulah yang akan diajarkan pada anak-anak dan cucunya: cinta kasih pada sesamanya. Begitulah kisahnya.

***
Singaraja 29 Mei 2011