Ketika Lukisan Kaligrafi Dipamerkan Selama Ramadhan

Chairul Abhsar
http://www.suarakarya-online.com/

Sebanyak 20 lukisan kaligrafi, karya seorang pelukis Kota Kembang Abu Djumhur dipamerkan di sebuah hotel berbintang di pusat Kota Bandung, Jawa Barat, Senin lalu.

Sebelumnya, saya juga menyaksikan pameran sejumlah lukisan kaligrafi di Taman Budaya Padang, Sumbar. Lu-kisan kaligrafi di Taman Budaya Padang menampilkan karya-karya AMY dt Garang dan Amir Syarif.

Dan, yang membuat saya terharu, adalah ketika saya mencermati lukisan tersebut dan siapa-siapa yang menonton lukisan tersebut. Saya menyaksikan beberapa penikmat pameran itu menangis terharu.

Kenapa menangis? “Saya terharu lukisan itu begitu dalam, sangat dalam memahami tentang Islam. Sementara saya, lulusan sebuah perguruan tinggi tentang Islam, merasa belum ada apa-apanya. Saya terharu melihat lukisan kaligrafi karya Pak Abu Djumhur,” ujar Harminah yang mengaku lulusan S2 Institut Agama Islam Negeri Bandung.

Penegasan serupa juga diungkapkan Syahriar Usmah, seorang Dai di Kota Padang seusai melihat lukisan kaligrafi karya dua pelukis kaligrafi di Taman Budaya Padang. “Saya menangis terharu mencermati kedalaman pemahaman tentang Islam yang dituangkan AMY Dt Garang dan Amir Syarif dalam lukisan kaligrafinya,” ungkap Syahrial.

Lukisan bernuansa Islami ini memang menarik perhatian warga maupun tamu hotel yang sedang menjalankan ibadah puasa. Pengunjung bisa menikmati berbagai lukisan kaligrafi sambil menunggu saat berbuka.

Lukisan kaligrafi itu, di antaranya merupakan kutipan doa, ayat suci Alquran, dan sejumlah kaligrafi lainnya yang dipadukan dengan warna pastel yang lembut. Dari hasil karyanya pelukis juga ingin mengajak umat manusia untuk selalu memelihara lingkungan. Ini tergambar melalui salah satu karyanya yang menggambarkan kedekatan manusia, alam, dan Tuhan.

Selain lukisan kaligrafi, pelukis Abu Djumhur juga menampilkan karya lukisan fine art dengan memanfaatkan bahan karung goni, anyaman, dan plastik sebagai bahan dasar karya seninya.

Upaya serupa juga ditempuh dua pelukis kaligrafi yang memamerkan karyanya di sekitar Taman Budaya Padang. Puluhan karya lukisan kaligrafi dua pelukis senior Sumatra Barat (Sumbar), AMY Dt Garang dan Amir Syarif, dipamerkan dan mendapat sambutan hangat oleh masyarakat Sumbar.

Taman Budaya Padang, yang menjadi lokasi pameran dikunjungi masyarakat sepanjang hari. Beberapa diantaranya menagis karena terharu begitu menyimak karya-karya tersebut.

“Ini adalah hasil karya lukisan saya selama 10 tahun terakhir,” kata Amir Syarif di Padang, Senin. Sebelumnya ia hanya melukis biasa, seperti pemandangan dan manusia. Namun ada dorongan dari teman-teman seniman di Padang sekitar tahun 1990 sehingga Amir mulai menggeluti lukisan kaligrafi, kata pelukis kelahiran Lubuk Alung, Padangpariaman itu.

Karya-karya kaligrafinya itu, katanya, sengaja dipamerkan pada bulan ramadhan sekaligus mengajak penikmat lukisan untuk kembali ke surau.

“Yang Satu” tersebut menampilkan 25 lukisan kaligrafi karya Amir Syarif dan 23 karya AMY Dr Garang.

Uniknya, beberapa karya kaligrafi Amir Syarif memakai properti yang membuak kaligrafi tersebut berwujud tiga dimensi. Pada kaligrafi berjudul “Maha Melihat”, Amir menempelkan dua bulatan kaca pantul berbentuk kacamata, yang menggambarkan Tuhan Maha Melihat.

Selain itu, pada lukisan lainnya berjudul “Maha Kaya”, Amir menempelkan miniatur mobil di lukisannya tersebut yang menggambarkan sebuah kekayaan memiliki mobil.

Amir Syarif memiliki konsep berkesenian, yakni kitab suci Al-Quran yang agung kebenarannya, mutlak memiliki nilai tinggi dan penuh dengan keberkatan, sehingga menjadikannya sangat mulia, sempurna dan menakjubkan.

Kurator Lukisan Kaligrafi, Ady Rosa menyatakan, ada kerinduan pelukis terhadap “Yang Satu”, yang memberikan pedoman hidup manusia.

Menurutnya, lukisan Amir Syarif umumnya didominasi melalui gradasi warna-warna biru sebagai salah satu “personality identity” dengan aksentuasi merah lembut.

Amir Syarif dan Dt Garang sama-sama pernah mengajar di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) di Padang dan hingga kini masih aktif dan produktif menciptakan karya lukis bernuansa Islami dengan gaya dan corak berbeda.

Banyak manfaat yang bisa dirasakan pengunjung dengan memperhatikan pameran kaligrafi selama bulan puasa. Memperhatikan lukisan kaligrafi karya Abu Djumhur yang dipamerkan di sebuah hotel berbintang di Kota Kembang Bandung misalnya, kita tidak sekadar diajakmendalami tentang Islam, tetapi juga diajak berkenalan dengan alam pikiran pelukis kaligrafi Abu Djumhur yang begitu luar bisa menafsirkan Allah ketika menurunkan ayat demi ayat Al Quran untuk semua umat Islam di muka bumi ini. Akibatnya, ketika pameran itu berhasil dicermati penonton, ada saja yang mengakibatkan penonton terharu, dan menagis.

Lukisan bernuansa Islami ini memang menarik perhatian warga maupun tamu hotel yang sedang menjalankan ibadah puasa. Pengunjung bisa menikmati berbagai lukisan kaligrafi sambil menunggu saat-saat berbuka.

Lukisan kaligrafi itu, di antaranya merupakan kutipan doa, ayat suci Alquran, dan sejumlah kaligrafi lainnya yang dipadukan dengan warna pastel yang lembut. Dari hasil karyanya pelukis juga ingin mengajak umat manusia untuk selalu memelihara lingkungan. Ini tergambar melalui salah satu karyanya yang menggambarkan kedekatan manusia, alam, dan Tuhan. ***

13 Agustus 2011