Semangat Hidup Berawal dari Keanehan

Judul : Madre
Penulis : Dewi “DEE” Lestari
Penerbit : Bentang Pustaka, Juli 2011
Tebal : XIV + 120 halaman
Peresensi : Ratno Fadillah *
Lampung Post, 21 Agus 2011

SEBUAH kisah bisa lahir dari keganjilan. Tokoh-tokoh bisa saling bertemu tanpa perlu riwayat hubungan sosial yang panjang. Logika cerita bisa dibuat tanpa rumusan yang rumit. Begitulah prosa berjudul Madre ini dibangun. Ya, membaca Madre kita seperti dibisikkan bahwa terkadang semangat hidup itu berawal dari keanehan.

Kisah Madre berawal dari warisan yang diberikan kepada Tansen, seorang anak muda bohemian yang menerima sebuah adonan biang roti yang dinamakan Madre. Warisan ini ia terima tiba-tiba tanpa terlebih dahulu ia tahu siapa pemberinya. Awalnya ia tak percaya sama sekali, bahkan sempat menganggapnya sebagai lelucon terbesar dalam hidupnya, sehingga ia tidak memedulikan warisan yang sangat berharga itu. Namun, penjelasan Pak Hadi, orang yang menyimpan teguh warisan untuk Tansen itu, telah menyadarkan Tansen bahwa ini adalah takdir Tuhan yang harus diterimanya.

Sekejap hidup Tansen pun berubah. Ia harus meninggalkan kehidupannya yang senantiasa dianggapnya sebagai surga. Ia harus meninggalkan Bali. Ia harus kehilangan kebebasan hidup. Ia harus tinggal di Jakarta, kota yang sungguh tidak ia sukai. Dan tentunya kini ia harus menjalani bisnis yang telah diwariskan kedua orang tuanya.

Sebagai prosa, Madre begitu lugas, lincah, dan ringan. Membuat pembacanya senantiasa tak perlu berkerut kening untuk merangkai logika cerita dan menyelami karakter tokoh-tokohnya. Namun, bukan berarti prosa ini tidak memikat dan tidak menyihir. Bila kita menemukan gagasan dalam prosa ini, seluruh intrinsik yang tersaji dan dianggap ngegampangintersebut akan menjadi termaafkan.

Gagasan dalam prosa ini memang cukup besar. Madre ingin menyampaikan tentang bagaimana semestinya seorang anak muda menerima warisan kultural dari nenek moyangnya, meskipun warisan itu sama sekali asing dan enggak gue banget. Dengan Madre, anak muda terkini seolah diingatkan bahwa warisan kultural tidak selalu kuno, tidak kontekstual, dan tidak mempunyai masa depan. Warisan kultural harus diterima, dan ia akan menjadi berharga bila kita menyikapinya dengan jernih dan optimistis.

Selain itu, Madre juga hendak menyampaikan arti penting dari passion dalam pekerjaan seseorang. Passion yang tumbuh dalam diri seseorang akan membawa pada kecintaan seseorang terhadap pekerjaannya, dan ini adalah the power of natural spirit yang kelak akan membuat seseorang berhasil dalam kariernya. Berbagai kendala dan ujian yang terbentang di hadapan seseorang, tak akan membuatnya menyerah dan kecil hati. Karena ia bekerja bukan semata untuk penghasilan yang tinggi atau sebab materi lainnya, melainkan karena ia ingin terus menyinari lentera jiwanya.

Pemahaman arti penting passion ini dapat kita cermati dari tokoh Pak Hadi, yang hidupnya habis bergelut dengan adonan roti. Dengan bercermin kepada Pak Hadi, kita diberi pemahaman bahwa kekuatan passion yang ada di dalam diri seseorang akan memunculkan energi positif hingga mampu membentuk lingkungan kerja yang optimistis.

Selain tema yang diangkat tema yang tidak biasa, nilai-nilai inspirasi seperti yang disebutkan di atas adalah poin yang senantiasa memberi kesan mendalam bagi pembaca Madre. Bukan mustahil, novel pendek ini akan mampu menggerakkan pembacanya dalam menemukan jati diri.

Sungguh, meskipun novel ini hanya setebal 72 halaman, ia telah mampu menyajikan gagasan dan pesan penting untuk anak muda Indonesia hari ini. Dan barangkali karena penulis cenderung hanya ingin menyampaikan semangat inspiratif itu, penulis jadi abai untuk membangun jalinan kisah tokoh-tokoh dalam novelnya ini menjadi lebih sempurna. Hingga rasanya novel ini hanya menampilkan satu fragmen. Beberapa jalinan kisah masih berpotensi untuk dilanjutkan.

Seperti yang dituliskan Tansen dalam blogpribadinya dan belum sempat ia terbitkan:

“… Keluarga ini bernama Tansen de Bakker yang artinya Tansen si pembuat roti. Ya, sekarang nama saya bukan nama satu orang, melainkan enam. Dan seorang peri senantiasa berdiri di sebelah kami. Ia bernama….”

Tulisan tokoh utama dalam novel ini seperti menyiratkan bahwa novel ini belumlah selesai. Benar, peluang kisah Madre ini terajut lebih panjang sangatlah besar. Toko roti bernama Tansen de Bakker belum dituturkan kisahnya. Perjalanan Tansen bersama Mei dan kawan-kawan Pak Hadi yang jompo itu dalam membangun Tansen de Bakker tentu akan menjadi kisah yang menarik dan penuh kejutan.

Bagaimana dengan perubahan karakter yang dialami Tansen sendiri, dari seorang pemuda bohemian yang tak mengenal perencanaan dan tenggat waktu, menjadi seorang pebisnis muda yang harus disiplin, mampu membaca peluang bisnis, dan harus memperhitungkan risiko. Kisah ini juga tentu memiliki daya pikat yang patut disempurnakan.

Lalu, kisah manis yang senantiasa akan ditunggu dari novel Madre ini tentu adalah sensasi romantis yang mungkin terjadi antara Tansen dan Mei. Benarkah keduanya akan menjadi sepasang kekasih, atau justru hubungan keduanya hanya sebatas sebagai rekan bisnis. Entahlah.

Sungguh, jalinan kisah dalam novel pendek ini menuntut penyempurnaan. Dan pihak yang mampu menjawab semua itu tentu saja hanya penulisnya. Benarkah Madre adalah unfinished novel?

Ratno Fadillah, pembaca buku
Dijumput di: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/08/buku-semangat-hidup-berawal-dari.html